Pertaruhan KTT ASEAN: 'Main Cantik' atau Akui Junta Myanmar
CNN Indonesia
Kamis, 22 Apr 2021 16:40 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Panglima Junta Militer Myanmar, Min Aung Hlaing. (Reuters/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia --
Gelombang protes menolak kehadiran panglima junta militer, Min Aung Hlaing, dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEANuntuk membahas pergolakan di Myanmarpada Sabtu (24/4) mendatang membuat blok negara Asia Tenggara itu tergulung dilema.
Untuk menghentikan pertumpahan darah, ASEAN harus berbicara dengan junta militer. Namun, mengundang junta militer ke KTT itu juga berisiko mencoreng citra ASEAN karena seolah memberikan legitimasi ke rezim militer yang mengudeta pemerintahan sipil.
Sementara itu, pemerintahan sipil tandingan yang terbentuk setelah militer melakukan kudeta, (National Unity Government/NUG), juga meminta agar mereka diundang ke KTT itu.
Sejumlah pengamat pun menganggap situasi ini sebagai kondisi yang serba salah, tapi tetap harus dijalani ASEAN.
"Memang serba salah karena ini momen yang penting bagi semua. Ya sekarang pilihannya ada di ASEAN. Mau diundang atau tidak, tapi semua ada risikonya," ujar pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, kepada CNNIndonesia.com, Kamis (22/4).
Rezasyah kemudian menjelaskan bahwa jika NUG diundang, ada kemungkinan Min Aung Hlaing akan "ngambek" dan tak mau datang.
Senada dengan Rezasyah, pengamat dari Universitas Nasional Australia, Hunter Marston, juga mengatakan kepada South China Morning Post bahwa jika ASEAN mengundang NUG, ada kemungkinan Min akan "menolak datang dan menuding ASEAN mengintervensi urusan dalam negeri Myanmar."
Min Aung Hlaing. (AFP/Lynn Bo Bo)
Menurut mantan asisten khusus sekretariat jenderal ASEAN, Kavi Chongkittavorn, saat ini ASEAN justru harus membangun kepercayaan Min agar dapat mendesak militer tak lagi menggunakan kekerasan yang berujung pertumpahan darah.
"Kehadiran Min Aung Hlaing dapat memberikan kesempatan bagi pemimpin-pemimpin ASEAN untuk menciptakan kepercayaan," tutur Kavi.
Meski ASEAN menjalin hubungan dengan Min, para pengamat ini tak memungkiri bahwa blok negara Asia Tenggara itu juga harus menggandeng NUG. Namun, tidak dalam forum yang sama.
"Kedua pihak ini tidak bisa dipertemukan karena pasti bentrok. Jangan sampai pihak oposisi menggunakan momentum ini untuk menghujat, lalu nanti membentuk pemerintahan dalam pelarian. Semakin bingung nanti. Harus hati-hati sekali," ucap Rezasyah.
Rezasyah menganggap ASEAN memang mau tidak mau harus mengundang Min dalam konteks resmi karena saat ini, junta militer merupakan penguasa de facto Myanmar.
Ia lantas menjelaskan bahwa untuk menggandeng semua pihak, formula formal dan informal bisa jadi pilihan tepat untuk ASEAN.
"Pertama di KTT ini kan acara formal, itu tempat 10 negara ASEAN bertemu resmi. Di situ, tidak boleh ada oposisi," kata Rezasyah.
Setelah itu, kata Rezasyah, ASEAN bisa membuat momen-momen informal, mungkin dibalut acara kebudayaan atau keagamaan, untuk melibatkan perwakilan tokoh masyarakat Myanmar.
"Di situ lah ASEAN bisa menempatkan tokoh-tokoh seperti Aung San Suu Kyi sebagai tokoh masyarakat, bukan mewakili negara agar tidak melukai kepercayaan Tatmadaw (junta). Diplomasi di belakang layar ini harus sangat manis. Harus main cantik," kata Rezasyah.
Kavi Chongkittavorn juga menganggap format pertemuan formal dan informal ini dapat membuka jalan menuju perdamaian di Myanmar.
"Para anggota ASEAN secara individu akan menjalin kontak secara informal. Ini akan membuka jalan untuk dialog di masa mendatang dengan semua pemangku kepentingan di Myanmar," katanya.
Meski format ini dianggap dapat menjadi jalan keluar, sebagian pihak masih tetap skeptis mengingat junta militer Myanmar merupakan rezim yang dikenal bebal.
Rekam jejak junta sejak pergolakan politik pada 1988 di Myanmar menunjukkan betapa bebal rezim militer. Meski diserbu berbagai desakan bahkan sanksi internasional, junta tetap bergeming.
Namun, Rezasyah mengatakan bahwa diplomasi tidak boleh lelah. Ia pun menganggap pengalaman-pengalaman konflik Myanmar di masa lalu justru dapat menjadi pelajaran untuk mengatasi masalah saat ini.
Rezasyah melihat junta militer tak bisa ditekan. Menurut Rezasyah, ASEAN harus pintar "mengambil hati" junta yang selama ini memang menganggap blok negara itu sebagai "satu-satunya rumah baginya yang paling aman, paling terhormat, dan paling santun."
Ia kemudian mencontohkan bahwa ASEAN bisa mengajak junta untuk "bersama-sama membangun Myanmar, tapi pemimpinnya tetap mereka [junta]. Harus ditimbulkan perasaan bahwa dia itu di atas. Driver, bukan passenger. Harus ditimbulkan bahwa dia itu di atas, pemimpin."
"Harus ada juga jaminan dari ASEAN bahwa selama masa transisi, kami [ASEAN] akan melindungi Anda [Myanmar] dari cercaan pihak luar," ucap Rezasyah.
Rezasyah tak memungkiri bahwa pendekatan semacam ini akan menimbulkan cibiran bagi ASEAN. Namun menurut Rezasyah, pendekatan ini merupakan bentuk sikap "rendah hati" ASEAN di mata dunia.
"ASEAN harus berani rendah hati. Untuk suatu kemenangan jangka panjang, ya enggak apa-apa kalah-kalah sedikit di jangka pendek dengan 'mendampingi' Myanmar," tuturnya.
Ia kemudian berkata, "Diplomasi sulit di masa lalu bisa jadi pelajaran. Junta ini memang tidak bisa ditekan. ASEAN harus bermain cantik."
Jakarta, CNN Indonesia --
Gelombang protes menolak kehadiran panglima junta militer, Min Aung Hlaing, dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEANuntuk membahas pergolakan di Myanmarpada Sabtu (24/4) mendatang membuat blok negara Asia Tenggara itu tergulung dilema.
Untuk menghentikan pertumpahan darah, ASEAN harus berbicara dengan junta militer. Namun, mengundang junta militer ke KTT itu juga berisiko mencoreng citra ASEAN karena seolah memberikan legitimasi ke rezim militer yang mengudeta pemerintahan sipil.
Sementara itu, pemerintahan sipil tandingan yang terbentuk setelah militer melakukan kudeta, (National Unity Government/NUG), juga meminta agar mereka diundang ke KTT itu.
Sejumlah pengamat pun menganggap situasi ini sebagai kondisi yang serba salah, tapi tetap harus dijalani ASEAN.
"Memang serba salah karena ini momen yang penting bagi semua. Ya sekarang pilihannya ada di ASEAN. Mau diundang atau tidak, tapi semua ada risikonya," ujar pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, kepada CNNIndonesia.com, Kamis (22/4).
Rezasyah kemudian menjelaskan bahwa jika NUG diundang, ada kemungkinan Min Aung Hlaing akan "ngambek" dan tak mau datang.
Senada dengan Rezasyah, pengamat dari Universitas Nasional Australia, Hunter Marston, juga mengatakan kepada South China Morning Post bahwa jika ASEAN mengundang NUG, ada kemungkinan Min akan "menolak datang dan menuding ASEAN mengintervensi urusan dalam negeri Myanmar."
Min Aung Hlaing. (AFP/Lynn Bo Bo)
Menurut mantan asisten khusus sekretariat jenderal ASEAN, Kavi Chongkittavorn, saat ini ASEAN justru harus membangun kepercayaan Min agar dapat mendesak militer tak lagi menggunakan kekerasan yang berujung pertumpahan darah.
"Kehadiran Min Aung Hlaing dapat memberikan kesempatan bagi pemimpin-pemimpin ASEAN untuk menciptakan kepercayaan," tutur Kavi.
Meski ASEAN menjalin hubungan dengan Min, para pengamat ini tak memungkiri bahwa blok negara Asia Tenggara itu juga harus menggandeng NUG. Namun, tidak dalam forum yang sama.
"Kedua pihak ini tidak bisa dipertemukan karena pasti bentrok. Jangan sampai pihak oposisi menggunakan momentum ini untuk menghujat, lalu nanti membentuk pemerintahan dalam pelarian. Semakin bingung nanti. Harus hati-hati sekali," ucap Rezasyah.
Rezasyah menganggap ASEAN memang mau tidak mau harus mengundang Min dalam konteks resmi karena saat ini, junta militer merupakan penguasa de facto Myanmar.
Ia lantas menjelaskan bahwa untuk menggandeng semua pihak, formula formal dan informal bisa jadi pilihan tepat untuk ASEAN.
"Pertama di KTT ini kan acara formal, itu tempat 10 negara ASEAN bertemu resmi. Di situ, tidak boleh ada oposisi," kata Rezasyah.
Setelah itu, kata Rezasyah, ASEAN bisa membuat momen-momen informal, mungkin dibalut acara kebudayaan atau keagamaan, untuk melibatkan perwakilan tokoh masyarakat Myanmar.
"Di situ lah ASEAN bisa menempatkan tokoh-tokoh seperti Aung San Suu Kyi sebagai tokoh masyarakat, bukan mewakili negara agar tidak melukai kepercayaan Tatmadaw (junta). Diplomasi di belakang layar ini harus sangat manis. Harus main cantik," kata Rezasyah.
Kavi Chongkittavorn juga menganggap format pertemuan formal dan informal ini dapat membuka jalan menuju perdamaian di Myanmar.
"Para anggota ASEAN secara individu akan menjalin kontak secara informal. Ini akan membuka jalan untuk dialog di masa mendatang dengan semua pemangku kepentingan di Myanmar," katanya.
Meski format ini dianggap dapat menjadi jalan keluar, sebagian pihak masih tetap skeptis mengingat junta militer Myanmar merupakan rezim yang dikenal bebal.
Taktik Main Cantik Lawan Kebebalan Junta Myanmar
Ilustrasi ASEAN. (CNN Indonesia/Fajrian)
Rekam jejak junta sejak pergolakan politik pada 1988 di Myanmar menunjukkan betapa bebal rezim militer. Meski diserbu berbagai desakan bahkan sanksi internasional, junta tetap bergeming.
Namun, Rezasyah mengatakan bahwa diplomasi tidak boleh lelah. Ia pun menganggap pengalaman-pengalaman konflik Myanmar di masa lalu justru dapat menjadi pelajaran untuk mengatasi masalah saat ini.
Rezasyah melihat junta militer tak bisa ditekan. Menurut Rezasyah, ASEAN harus pintar "mengambil hati" junta yang selama ini memang menganggap blok negara itu sebagai "satu-satunya rumah baginya yang paling aman, paling terhormat, dan paling santun."
Ia kemudian mencontohkan bahwa ASEAN bisa mengajak junta untuk "bersama-sama membangun Myanmar, tapi pemimpinnya tetap mereka [junta]. Harus ditimbulkan perasaan bahwa dia itu di atas. Driver, bukan passenger. Harus ditimbulkan bahwa dia itu di atas, pemimpin."
"Harus ada juga jaminan dari ASEAN bahwa selama masa transisi, kami [ASEAN] akan melindungi Anda [Myanmar] dari cercaan pihak luar," ucap Rezasyah.
Rezasyah tak memungkiri bahwa pendekatan semacam ini akan menimbulkan cibiran bagi ASEAN. Namun menurut Rezasyah, pendekatan ini merupakan bentuk sikap "rendah hati" ASEAN di mata dunia.
"ASEAN harus berani rendah hati. Untuk suatu kemenangan jangka panjang, ya enggak apa-apa kalah-kalah sedikit di jangka pendek dengan 'mendampingi' Myanmar," tuturnya.
Ia kemudian berkata, "Diplomasi sulit di masa lalu bisa jadi pelajaran. Junta ini memang tidak bisa ditekan. ASEAN harus bermain cantik."