Jakarta, CNN Indonesia -- Suasana Idulfitri pada tahun ini, baik di Indonesia dan luar negeri, nampaknya mirip seperti tahun lalu yang masih diliputi pandemi virus corona.
Salah satu mahasiswa asal Indonesia yang menempuh pendidikan di Universitas Istanbul, Turki, Aldi Subekti, berbagi cerita terkait perbedaan Idul Fitri saat pandemi virus corona berlangsung di negara itu.
Idul fitri tahun ini, bagi Aldi, barangkali tak jauh beda dengan tahun lalu. Kemungkinan dia gagal lagi bersilaturahmi dengan keluarga. atau bahkan antarwarga negara Indonesia di sana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Niatan untuk makan bersama atau sekedar halalbihalal di hari raya juga sepertinya harus ditunda lagi.
"Pastinya sangat rindu keluarga, setelah itu rindu makanan dan tradisi yang dilakukan ketika lebaran apalagi, saling maaf-maafan (halalbihalal)," kata Aldi, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (29/4).
Tahun ini merupakan tahun kelima Aldi bermukim di Turki. Kasus infeksi corona yang terus melonjak di negara itu membuat pemerintah setempat menerapkan penguncian nasional mulai 29 April hingga 17 Mei mendatang.
"Salat Id sudah pasti ditiadakan karena kita juga tidak boleh keluar rumah," lanjut Ardi.
Pemerintah setempat juga memberlakukan jam malam mulai pukul 19.00 hingga 05.00.
Mengantisipasi penyebaran virus, pemerintah Turki memperketat pembatasan, termasuk ritual keagamaan. Ibadah tarawih ditiadakan. Masjid hanya dibuka untuk salat wajib. Selain itu, masjid harus dikosongkan.
Salat Jumat juga diawasi dengan ketat. Umat Muslim hanya diizinkan beribadah di masjid terdekat sesuai dengan lokasi tempat tinggal. Menurut Aldi, polisi kerap keliling. Jika penduduk ketahuan melintasi batas wilayah atau salat di masjid wilayah lain akan dihukum.
"Biasanya untuk warga Turki sendiri denda sekitar 3 ribu lira (sekitar Rp. 5,3 juta), kemudian untuk warga negara asing yang sudah punya izin tinggal di Turki (akan ada) pencabutan izin tinggalnya", jelas Aldi.
Kalau orang asing atau yang berstatus mahasiswa dengan izin tinggal ketahuan berkeliaran di daerah lain oleh polisi, maka izinnya bisa langsung dicabut.
Kangen Bukber
Ilustrasi Masjid Hagia Sophia di Istanbul, Turki. (AP/Emrah Gurel)
Sebelum pandemi, Aldi dan teman-temanya berkeliling mencari tempat yang menyediakan makanan secara gratis untuk berbuka puasa.
"Biasalah mahasiswa yang low budget gitu. Biasanya ada tempat yang gratis untuk buka puasa dan kita datang kesana."
Selain itu, saat bulan puasa di Turki ada tradisi bagi makanan antar tetangga. Orang Turki, sambung Aldi, biasanya membagi makanan ke para tetangga di sebelah kanan- kirinya untuk hidangan berbuka dan sahur.
"Selama pandemi enggak ada kirim-kiriman makanan. Mungkin takutnya kesehatan makanan itu sendiri dan piring-piringnya itu siapa tahu memicu bahaya," terangnya.
Sebelum pandemi merebak, Aldi rutin didapuk menjadi panitia halalbihalal Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Istanbul.
"Biasanya itu sejak bulan Ramadan akan Bukber (buka puasa bersama) para WNI juga yang ada di Istanbul dan sekitarnya, biasanya dilakukan setiap Minggu," jelasnya.
Saat Idul Fitri, kata Aldi, mereka menggelar open house untuk seluruh WNI sekaligus mengadakan temu kangen bersama para perantau asal Indonesia.
Sejak lima tahun bermukim di Turki, Aldi baru satu kali kembali di Indonesia. Itu pun di sela-sela masa pertukaran pelajar saat di Hungaria, pada Februari 2020.
Saat itu Turki tengah melonggarkan pembatasan dengan membuka bandara. Kesempatan itu dimanfaatkan Aldi untuk pulang kampung ke Brebes, Jawa Tengah.
Tak bisa berkumpul dengan keluarga bukan berarti tak bisa merayakan hari nan suci itu. Idul fitri tahun ini, Aldi dan keluarga sudah memiliki rencana untuk video call.
"Haru sudah pasti. Ada masa yang biasa ketemu kita saling curhat, maaf-maafan ternyata tidak bisa, walaupun setiap saat kita bisa minta maaf ke orang tua, tapi saat idul fitri kita minta maaf langsung ke orang tua pasti beda," katanya.