Demonstran Thailand Lempari Pengadilan Pakai Tomat dan Telur

CNN Indonesia | Senin, 03/05/2021 00:08 WIB
Ratusan demonstran di Thailand melakukan aksi melempar tomat hingga telur ke pengadilan Bangkok menuntut pembebasan semua tapol di negeri tersebut. Para demonstran melempari cat merah, tomat, hingga telur ke Pengadilan Bangkok menuntut pembebasan para tapol di Thailand, 2 Mei 2021. (AFP/JACK TAYLOR)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ratusan demonstran Thailand melumuri bagian depan kompleks pengadilan Bangkok dengan cat merah, serta melemparinya dengan telur hingga tomat, Minggu (2/5).

Aksi itu mereka lakukan demi menuntut pembebasan para tahanan politik (tapol), termasuk aktivis yang sempat melakukan aksi mogok makan, di negara gajah putih tersebut.

"Kita di sini hari ini untuk menunjukkan bahwa ada sebuah ketidakadilan," ujar salah satu pemimpin aksi disambut sorakan para demonstran seperti dikutip dari AFP.


Para demonstran itu kemudian berteriak-teriak, "Bebaskan para tahanan politik." Mereka juga kemudian melambai-lambaikan salam tiga jari--sebuah simbol perlawanan gerakan prodemokrasi di Thailand.

Akibat aksi para demonstran tersebut, bagian masuk kompleks pengadilan Bangkok itu pun berserakan warna merah karena cat, lemparan tomat, hingga telur. Selain itu sejumlah poster yang menunjukkan hakim menolak pembatalan penahanan aktivis dengan nama alias Penguin pun tertempel di tembok pagar pengadilan tersebut.

Sekitar pukul 18.00 waktu setempat, para demonstran lalu membubarkan diri mereka.

Penguin, yang bernama asli Parit Chiwarak adalah seorang aktivis mahasiswa ang ditahan sejak Februari lalu karena aksinya. Dia menghadapi lusinan dakwaan atas perannya memimpin aksi menentang pemerintahan Perdana Menteri Prayut Chan-O-Cha tahun lalu, da menuntut reformasi atas sistem monarki di Thailand.

Penguin dalam aksinya melakukan mogok makan pada 16 Maret lalu. Ia kehilangan massa badan hingga lebih dari 12 kilogram sehingga harus dilarikan ke rumah sakit kemudian.

Sebagai informasi, imbas dari sistem monarki, Raja Thailand dan keluarganya dilindungi undang-undang, sehingga bagi yang hendak menjatuhkan atau menghinanya terancam hukuman penjara maksimal 15 tahun.

Saat ini diperkirakan setidaknya ada 70 aktivis prodemokrasi yang menghadapi hukuman di Thailand.

(AFP/kid)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK