Milisi Myanmar Klaim Tembak Jatuh Helikopter Junta Militer

CNN Indonesia | Senin, 03/05/2021 16:44 WIB
Milisi etnis Kachin mengklaim menembak jatuh satu helikopter militer Myanmar sebagai respons atas serangan udara junta pada Senin (3/5). Ilustrasi milisi etnis di Myanmar. (Reuters/Athit Perawongmetha)
Jakarta, CNN Indonesia --

Milisi etnis Kachin, Tentara Pembebasan Kachin (KIA), mengklaim menembak jatuh satu helikopter militer Myanmar sebagai respons atas serangan udara junta pada Senin (3/5).

Kepala departemen informasi KIA, Naw Bu, mengatakan bahwa mereka menembak jatuh helikopter tersebut ketika melintas di dekat Kota Moemauk, Kachin, sekitar pukul 10.20.

"Dewan militer melancarkan serangan udara di area itu sejak pukul 8 atau 9 pagi ini menggunakan jet tempur. Mereka juga melepaskan tembakan dari helikopter jadi kami menembak balik mereka," ujar Naw Bu, sebagaimana dikutip Reuters.


Namun, Naw Bu menolak memberi informasi mengenai senjata yang dipakai oleh KIA untuk menembak jatuh helikopter tersebut.

Situs MizzimaDaily dan Kachinwaves juga mengunggah berita mengenai insiden ini beserta foto yang memperlihatkan asap membubung di udara.

Seorang penduduk di area tersebut mengatakan bahwa peluru artileri dari pertempuran antara militer dan KIA itu jatuh di salah satu biara.

Menurut warga tersebut, empat orang meninggal setelah dilarikan ke rumah sakit akibat kejadian tersebut.

Hingga saat ini, Reuters belum mendapatkan konfirmasi langsung dari juru bicara junta militer Myanmar mengenai penembakan helikopter ini.

Pertempuran antara junta dan KIA ini menambah rumit pergolakan di Myanmar yang mulai panas sejak militer mengudeta pemerintahan sipil pada 1 Februari lalu.

Untuk mendukung warga dalam perjuangan menolak kekuasaan militer, berbagai milisi etnis yang tersebar di daerah-daerah perbatasan Myanmar turut bergerak, termasuk KIA.

[Gambas:Video CNN]

Selain KIA, milisi etnis Karen (KNU) yang bermarkas di daerah perbatasan Myanmar dengan Thailand juga ikut beraksi. Akibat pertempuran ini, lebih dari seribu warga di desa di sekitar lokasi tersebut melarikan diri ke Thailand.

Sementara itu, aparat juga semakin keras menindak para demonstran di berbagai kota. Pada akhir pekan lalu, setidaknya delapan demonstran meninggal akibat ditembak aparat ketika sedang berunjuk rasa.

Menurut laporan Lembaga Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), 759 orang tewas di tangan aparat keamanan sejak kudeta, dan lebih dari 4.500 orang ditangkap.

(has/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK