Murka Warga Australia Terlantar Tak Boleh Pulang dari India

CNN Indonesia | Selasa, 04/05/2021 13:50 WIB
Para warga Australia di India murka karena pemerintah tak mengizinkan mereka pulang dengan dasar aturan larangan masuk ketat bagi semua orang dari negara itu. Ilustrasi. (AP/Pawan Sharma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Para warga Australia di India murka karena pemerintah tak mengizinkan mereka pulang dengan dasar aturan larangan masuk ketat bagi semua orang dari negara yang tengah dilanda gelombang kedua pandemi Covid-19 itu.

Amarah itu salah satunya datang dari mantan atlet kriket Australia yang sedang bertugas di India, Michael Slater. Belakangan ini, ia berada di India untuk menjadi komentator pertandingan kriket di stasiun televisi Star Sports.

Sejak gelombang kedua pandemi Covid-19 melanda India, Slater ingin kembali ke Australia. Namun, ia kebingungan ketika pemerintah Australia menetapkan larangan ketat bagi orang-orang yang punya riwayat perjalanan ke India, termasuk warganya sendiri.


Pemerintahan Perdana Menteri Scott Morrison bahkan menetapkan hukuman denda hingga penjara maksimal lima tahun bagi orang yang melanggar aturan tersebut.

Demi menghindari lonjakan kasus Covid-19 di India, Slater akhirnya terbang ke Maladewa, di mana ia menunggu waktu yang tepat untuk kembali ke Australia. Di tengah penantian tersebut, ia menumpahkan kekesalannya terhadap pemerintah.

"Jika pemerintah kami peduli dengan keselamatan warga Australia, mereka akan mengizinkan kami pulang. Ini penghinaan! Anda yang bertanggung jawab, Bapak Perdana Menteri. Betapa berani Anda memperlakukan kami seperti ini," kata Slater melalui Twitter.

Pemerintah Australia sendiri awalnya tak menetapkan hukuman khusus dalam aturan larangan kedatangan orang dari India. Namun, mereka akhirnya menetapkan hukuman tersebut setelah menemukan celah dari aturan tersebut.

Celah aturan tersebut pertama kali terdeteksi ketika sejumlah warga, termasuk pemain kriket Adam Zampa dan Kane Richardson, sengaja memesan penerbangan tak langsung menuju Australia sehingga riwayat perjalanan terakhir mereka bukan dari India.

Setelah aturan baru tersebut, sekitar 9.000 warga Australia yang sedang berada di India pun panik karena tidak bisa pulang di tengah gelombang dua pandemi Covid-19 di negara itu.

Salah satu warga Australia yang kini berada di India, Mehul Patel, pun menganggap pemerintah bersikap rasial. Menurutnya, pemerintah tak menerapkan aturan yang sama bagi warga dari Amerika Serikat dan Inggris, di mana jumlah kasus Covid-19 juga tinggi.

"Mengapa kalian tidak menerapkan aturan yang sama dengan orang yang datang dari negara lain? AS dan Inggris juga melaporkan jumlah kasus [Covid-19] yang hampir sama dengan India. Kalian tidak pernah menghentikan penerbangan dan repatriasi dari sana," tuturnya kepada media Australia, ABC.

Di tengah kebingungan ini, Patel membangun satuan tugas virtual untuk membantu para warga Australia yang masih terdampar di India, terutama ketika mereka membutuhkan bantuan medis.

"Kami mengumpulkan data dari sumber-sumber lokal, di mana layanan medis tersedia, ke mana kalian harus mencari jika butuh bantuan medis atau tabung oksigen," katanya.

Ia kemudian berkata, "Karena jika kalian datang ke rumah sakit dan meminta bantuan, dan mereka tahu bahwa kalian adalah warga Australia yang terlantar, mereka tak akan memberikan bantuan kepada kalian."

[Gambas:Video CNN]

Dia juga meminta bantuan para dokter Australia dan India untuk memberikan bantuan konsultasi medis melalui sesi-sesi virtual bagi warga yang tak bisa keluar dari negara itu.

Menurut Patel, saat ini kebanyakan warga Australia yang tertahan di India sudah terlalu stres memikirkan cara bertahan di tengah pandemi, apalagi berpikir untuk menuntut pemerintah terkait aturan itu.

"Dan di sinilah pemerintah Australia bisa bebas begitu saja, ketika tak ada yang menuntut pemerintah secara hukum," ucap Patel.

(has/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK