PM Australia soal Peluang Bui Warga dari India: Nyaris Nol

isa, CNN Indonesia | Rabu, 05/05/2021 01:09 WIB
Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengakui nyaris tak mungkin menerapkan sanksi penjara maksimal bagi warga dan pendatang dari India. Perdana Menteri Australia Scott Morrison membantah soal penerapan sanksi penjara maksimal bagi warganya yang melanggar ketentuan karantina. (TIMOTHY A. CLARY / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengakui nyaris mustahil menerapkan sanksi maksimal bagi warganya yang datang dari India, negara yang tengah dilanda tsunami pandemi Covid-19, meski menerapkan aturan itu.

Negeri Kanguru diketahui melarang masuk pelancong dari India hingga 15 Mei. Pelanggar ketentuan itu diancam sanksi denda hingga penjara hingga 5 tahun. Aturan itu berlaku pula untuk warga negara Australia. Pemerintah Australia pun dituduh bersikap rasialis.

Larangan yang berlaku mulai 3 Mei itu diterapkan sebagai bentuk pencegahan penularan corona dari luar negeri lantaran India tengah menghadapi lonjakan kasus dan kematian akibat Covid-19.


"Menurut saya tidak adil untuk mendorong penerapan sanksi [bui] dimana pun itu dalam bentuknya yang paling ekstrem, tetapi [sanksi] ini adalah cara untuk memastikan kami dapat mencegah virus datang kembali," ujar Morrison, dikutip dari Reuters, Selasa (3/5).

"Saya pikir kemungkinan semua itu (penerapan sanksi maksimal) terjadi hampir nol," lanjutnya.

Setelah aturan baru tersebut berlaku, sekitar 9.000 warga Australia yang sedang berada di India pun panik karena tidak bisa pulang di tengah gelombang dua pandemi Covid-19 di negara itu.

Pemerintah Australia sendiri awalnya tak menetapkan hukuman khusus dalam aturan larangan kedatangan orang dari India. Namun, mereka akhirnya menetapkan hukuman tersebut setelah menemukan celah dari aturan tersebut.

Celah aturan itu pertama kali terdeteksi ketika sejumlah warga, termasuk pemain kriket Adam Zampa dan Kane Richardson, sengaja memesan penerbangan tak langsung menuju Australia sehingga riwayat perjalanan terakhir mereka bukan dari India.

Komentator dan mantan bintang kriket, Tes Michael Slater salah satu orang yang mengecam keputusan Morrison. Ia menyebut keputusan itu sebagai "aib."

"Darah di tanganmu perdana menteri. Berani-beraninya Anda memperlakukan kami seperti ini," tulis Slater di akun Twitter.

"Jika pemerintah kami memperhatikan keselamatan warga Australia, mereka akan mengizinkan kami pulang."

Menanggapi cuitan itu, Morrison menyebut darah di tangannya sebagai pendapat yang tak masuk akal.

"Masalahnya berhenti di sini ketika sampai pada keputusan ini, dan saya akan mengambil keputusan yang saya yakini akan melindungi Australia dari gelombang ketiga," ujarnya.

Tak hanya dari mantan pemain kriket, keputusan Morrison juga dikecam oleh sejumlah kelompok.

Beberapa di antaranya kelompok hak asasi manusia dan sekutu Morrison, termasuk komentator Sky News, Andrew Bolt. Ia bahkan mengatakan keputusan itu berbau rasialisme.

Pemerintah Australia berencana memulangkan warganya yang berada di India. Penerbangan repatriasi diindikasikan bisa dimulai setelah 15 Mei.

"Saya sedang bekerja untuk membawa mereka pulang dengan selamat," ujarnya.

Australia dinilai mampu menangani pandemi setelah mengontrol perbatasan yang super ketat. Sebagian besar non-penduduk dilarang masuk, dan siapapun yang datang ke negara itu wajib melakukan karantina di hotel selama 14 hari.

Tetapi sistem itu mulai rapuh, lantaran virus menyebar dari fasilitas karantina dan menyebabkan serangkaian wabah di kalangan masyarakat yang sebagian besar tidak divaksinasi.

Hingga kini, kasus Covid-19 di Australia mencapai 29.810 kasus dengan jumlah kematian mencapai 910.

(dea)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK