AS Keluarkan Xiaomi dari Daftar Hitam Era Trump

CNN Indonesia | Kamis, 13/05/2021 04:45 WIB
AS mengeluarkan perusahaan produsen ponsel asal China, Xiaomi, dari daftar hitam yang ditetapkan pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump. Ilustrasi. (AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat mengeluarkan perusahaan produsen ponsel asal China, Xiaomi, dari daftar hitam yang ditetapkan pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump.

Kepastian ini tercapai setelah Kementerian Pertahanan AS menyatakan bahwa mereka tak akan mengajukan banding atas keputusan pengadilan pada Maret lalu.

Dalam sidang tersebut, hakim Pengadilan Distrik AS, Rudolph Contreras, memutuskan bahwa Kementerian Pertahanan dan Keuangan "tak menunjukkan tanda bahwa kepentingan keamanan nasional terancam [dengan kehadiran Xiaomi]."


Sebagaimana dilansir AFP, Contreras pun memerintahkan pengeluaran Xiaomi dari daftar hitam. Dengan demikian, tak ada lagi larangan bagi investor AS yang ingin membeli saham perusahaan asal China tersebut.

Kisruh ini bermula beberapa hari menjelang Trump lengser. Saat itu, pemerintahan AS memasukkan China ke dalam daftar hitam investasi karena mengancam keamanan nasional.

Dalam keterangannya, Kementerian Pertahanan AS memasukkan Xiaomi dan sembilan perusahaan asal China lainnya ke dalam daftar "perusahaan militer Komunis China."

Akhir Januari, Xiaomi langsung menggugat Kementerian Pertahanan AS. Xiaomi menganggap keputusan itu melanggar hukum. Mereka juga menepis dugaan bahwa Xiaomi berada di bawah kendali militer China.

[Gambas:Video CNN]

Xiaomi juga menegaskan bahwa 75 persen saham dipegang oleh pendiri perusahaan, Lin Bin dan Lei Jun, tanpa kepemilikan atau kendali dari individu/entitas yang berafiliasi dengan militer.

"Perusahaan tidak dikendalikan oleh tentara Pembebasan Rakyat," demikian pernyataan Xiaomi sebagaimana dikutip Reuters.

Selama ini, perusahaan-perusahaan telekomunikasi China memang selalu berada di pusaran persaingan dengan AS. Washington juga pernah mengklaim Huawei memiliki hubungan dekat dengan militer China.

AS bahkan menuding China dapat menggunakan teknologi-teknologi produksi Huawei untuk spionase. Namun, Huawei membantah tudingan tersebut.

(has/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK