Cerita WNI di Singapura Hadapi Pembatasan Baru Covid

CNN Indonesia | Selasa, 18/05/2021 15:09 WIB
Seorang WNI di Singapura, Arfi Bambani menceritakan bagaimana pembatasan baru dan kehidupan di tengah pandemi di sana. Singapura. (tpsdave/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Singapura kembali memperketat pembatasan kegiatan sosial dan publik menyusul terjadinya lonjakan penyebaran lokal Covid-19 dan mutasi baru corona.

Padahal Singapura sebelumnya menorehkan kesuksesan dalam menangani pandemi virus corona. Negara itu kini kembali terancam wabah.

Seorang warga Indonesia di Singapura, Arfi Bambani membeberkan bagaimana pembatasan baru yang dimulai Minggu (16/5) hingga pertengahan Juni itu.


Menurut Arfi, aturan yang diterapkan pemerintah Singapura bukanlah lockdown atau penguncian nasional.

"Jadi kita masih bisa beraktivitas ke luar rumah, masih bisa melakukan banyak kegiatan misal belanja. Enggak bisa disebut lockdown jadi semacam restriction saja, kayak pembatasan," kata Arfi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (17/5) malam.

Dalam aturan pembatasan itu, lanjut Arfi, warga hanya diizinkan berkumpul di ruang publik maksimal dua orang, dan restoran hanya melayani pesan antar.

Tempat umum seperti bioskop, salon kecantikan, gedung olahraga outdoor, kolam renang dan pusat perbelanjaan tetap dibuka namun jumlah pengunjung dibatasi.

Untuk pusat perbelanjaan atau mal, kuota pengunjung hanya sebesar 25 persen.
Sedangkan transportasi publik masih beroperasi normal.

Menurut pengamatannya, penumpang masih diizinkan untuk duduk berdampingan asal tetap memakai masker.

"Enggak ada bedanya sih, sama saja. Duduknya juga masih samping-sampingan. Kereta tetap ada tiap berapa menit sekali," ujarnya.

Aturan pembatasan ini merupakan fase empat, setelah beberapa kali Singapura menerapkan pembatasan.

Di fase pertama lebih ketat karena saat itu memang memberlakukan lockdown. Fase kedua sedikit dilonggarkan, sementara fase ketiga lebih longgar dari yang kedua.

Gambaran aturan kali ini, kata Arfi, berada di antara fase satu dan fase dua.

Kasus Covid-19 yang terus melonjak di Singapura membuat pemerintahan jajaran Lee Hsein Long berjuang keras untuk mengatasinya.

Arfi menilai kenaikan kasus harian kemungkinan terjadi lantaran banyaknya hari libur, sehingga banyak orang berkumpul dan berdatangan. Selain itu, mutasi B1617 atau varian asal India dinilai turut berperan.

Meski demikian, tingkat kesadaran masyarakat Singapura mengenai protokol kesehatan juga tinggi. Sesama warga kerap saling mengingatkan untuk mengenakan atau membenarkan penggunaan masker.

Bahkan suatu kali, Arfi pernah menjumpai insiden ketika ada penumpang bus yang tak memakai masker. Sopir lantas bertanya perihal masker. Penumpang itu kemudian mencari-cari di tasnya, namun tak menjumpai adanya masker.

Pada akhirnya, ia turun dan jalan kaki ke rumah untuk mengambil masker. Kesadaran itu tumbuh seiring adanya penegakan hukum mengenai penggunaan masker.

Mahasiswa S2 di Lee Kuan Yew School of Public Policy itu menceritakan, bila warga ketahuan tak memakai masker bisa dikenai sanksi berupa denda hingga penjara.

"Jadi yang enggak pakai masker itu bisa didenda sekali, kalau kedua kali dipenjara. Untuk dendanya $300 (sekitar Rp3,2 juta) minimum, tergantung hakimnya."

Meski kasus Covid-19 di Singapura meningkat, namun jumlah itu masih tergolong ringan dibanding kasus di negara maju lainnya.

Hingga kini total kasus Covid -19 di Singapura tercatat 61.585 infeksi dengan 31 kematian.Sementara angka kesembuhan mencapai 61.104

(isa/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK