Sultan Johor Desak Malaysia Lockdown Total

CNN Indonesia | Kamis, 27/05/2021 18:02 WIB
Penguasa Johor, Sultan Ibrahim Iskandar mendesak pemerintah Malaysia menerapkan lockdown total jika kasus Covid-19 di negara itu terus melonjak. Malaysia catat rekor kematian Covid-19. (REUTERS/LIM HUEY TENG)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penguasa Johor, Sultan Ibrahim Iskandar mendesak pemerintah Malaysia menerapkan lockdown total jika kasus Covid-19 di negara itu terus melonjak.

Ibrahim merilis pernyataan itu, saat kasus harian Covid-19 di Malaysia mencatat rekor lagi dengan 7.478 infeksi pada Rabu (26/5). Angka itu dinilai menjadi kasus harian tertinggi selama pandemi merebak.

"Lebih dari 7.400 kasus hari ini. Ini mengerikan dan kita membutuhkan semua masyarakat untuk tetap di rumah demi memutus rantai infeksi. Virus itu menyebar melalui pergaulan orang," katanya, mengutip Channel News Asia.


"Seluruh jajaran harus disiplin agar semua lapisan masyarakat berkomitmen untuk melakukan lockdown demi mencegah hal terburuk terjadi pada kita semua," ujar Ibrahim.

"Pemerintah juga harus mempertimbangkan lockdown total, jika angka Covid-19 tak menunjukkan tanda-tanda mereda," ujarnya.

Kata Ibrahim, lockdown ibarat menelan pil pahit, daripada menderita terus-menerus karena ketidakpastian akibat pandemi.

Ibrahim juga menyinggung pentingnya lockdown demi melindungi staf medis yang berada di garis depan dalam menangani Covid-19 ini.

"Kami dapat melihat sendiri kelelahan dan depresi mereka, namun mereka dengan tekun berpegang pada tugas mereka. Ingat, Covid-19 bukan satu-satunya penyakit yang harus mereka tangani," katanya.

Ibrahim mengaku telah berbicara dengan direktur jenderal Kementerian Kesehatan Malaysia Noor Hisham Abdullah dan menerima pembaruan tentang perkembangan Covid-19 terbaru.

"Munculnya varian baru juga menakutkan, dan virus sekarang juga menyebar ke udara. Jika infeksi terus meningkat, saya khawatir akan semakin banyak varian yang muncul," kata Ibrahim, mengutip pernyataan Noor Hisham.

Dia juga mengimbau agar warga berkecukupan untuk membantu mereka yang mengalami masa-masa sulit dengan cara apapun.

Sebelumnya, pemerintah Malaysia telah memberlakukan kontrol pergerakan nasional (MCO) hingga 7 Juni sebagai langkah untuk menekan laju penyebaran Covid-19.

Namun beberapa orang merasa frustasi lantaran sektor ekonomi masih beroperasi.

Lebih jauh lagi, 60 persen dari pekerja di sektor swasta serta 20 persen di sektor publik diizinkan untuk bekerja di kantor.

Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin memperingatkan bahwa lockdown total, seperti MCO 1.0 pada Maret 2020 hampir melumpuhkan ekonomi.

"Jika kita perlu melakukannya lagi (dan mengeluarkan bantuan ekonomi), kita butuh lebih banyak uang RM340 miliar atau sekitar Rp1,175 triliun tidak akan cukup karena dampaknya yang begitu parah. Saya akan membutuhkan setengah triliun. Tapi apakah kita punya setengah triliun?" katanya.

"Kita telah belajar selama setahun terakhir, kita tak bisa menutup perekonomian. Kita harus menyeimbangkan hidup dan mata pencaharian."

Muhyiddin tidak ingin ekonomi negaranya ambruk ke titik di mana orang-orang tak punya uang untuk makan.

(isa/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK