Macron Minta Maaf Keterlibatan Prancis di Genosida Rwanda

CNN Indonesia | Jumat, 28/05/2021 00:00 WIB
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengakui dan meminta maaf atas peran negaranya dalam genosida Rwanda pada 1994 silam. Presiden Prancis Emmanuel Macron. (AP/Olivier Hoslet)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengakui dan meminta maaf atas peran negaranya dalam genosida Rwanda pada 1994 silam.

Dalam kunjungannya ke Kigali pada Kamis (27/5), Macron berharap warga Rwanda dapat memaafkan kesalahan Prancis di masa lampau dan mengatur ulang hubungan kedua negara.

"Hanya mereka yang melewati malam-malam itu yang mungkin bisa memaafkan dan dengan melakukan itu memberikan imbalan pengampunan," kata Macron saat menghadiri peringatan memorial peringatan Genosida Gisozi.


Di kompleks memorial itu lebih dari 250 ribu korban genosida dimakamkan secara massal.

"Dengan ini saya dengan rendah hati dan dengan hormat berdiri di samping Anda hari ini, saya menyadari sejauh mana tanggung jawab kita," kata Macron menambahkan.

Lawatan Macron ke Rwanda berlangsung setelah laporan panel penyelidikan Prancis pada Maret lalu keluar. Laporan itu menyimpulkan bahwa sikap kolonial telah membutakan para pejabat Prancis di masa itu.

Pemerintah Prancis pun dinilai memikul tanggung jawab serius dan luar biasa karena tidak bisa memprediksi pembantaian yang dipicu perang saudara di Rwanda tersebut.

Meski begitu, dikutip Reuters, laporan itu tidak menyebut bahwa Prancis terlibat langsung pertikaian antara suku Tutsi dan Hutu yang menewaskan lebih dari 800 ribu warga kedua etnis.

"Para pembunuh yang mengintai di rawa-rawa perbukitan, gereja, tidak mewakili Prancis. Prancis bukan lah kaki tangan," kata Macron.

Sementara itu, mantan ajudan Presiden Rwanda Paul Kagame, Jean Paul Kimonyo, menganggap pidato Macron tersebut sangat berpengaruh.

"Dia (Macron) meminta maaf dengan cara yang halus tetapi kuat. Halus tetapi kuat," kata Kimonyo.

Sementara itu, Kagame, yang pernah mengatakan bahwa Prancis berkontribusi menyebabkan genosida terjadi, mengatakan pada pekan lalu bahwa laporan Prancis itu sangat berarti bagi rakyat Rwanda.

"Rakyat Rwanda mungkin tidak bisa melupakan tetapi memaafkan Prancis atas perannya," kata Kagame yang berasal dari etnis Tutsi.

Pada Jumat pekan lalu, Istana Kepresidenan Prancis mengatakan Macron akan menunjuk duta besar baru untuk Rwanda yang pertama sejak 2015.

Lawatan Macron ke Rwanda juga merupakan yang pertama sejak satu dekade lalu.

Dari Rwanda, Macron akan berkunjung ke Afrika Selatan, di mana ia akan bertemu dengan Presiden Cyril Ramaphosa untuk membahas pandemi corona dan krisis regional, termasuk konflik di Mozambik.

(rds/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK