Pengalaman WNI di Malaysia Hadapi Dua Kali Lockdown Covid-19

CNN Indonesia | Kamis, 03/06/2021 18:11 WIB
WNI di Malaysia menceritakan pengalamannya menghadapi dua kali penguncian wilayah (lockdown) guna mengurangi laju penyebaran Covid-19 di Negeri Jiran. Ilustrasi suasana lockdown di Malaysia. (Reuters/Lim Huey Teng)
Jakarta, CNN Indonesia --

Warga negara Indonesia (WNI) di Malaysia menceritakan pengalamannya menghadapi dua kali penguncian wilayah (lockdown) guna mengurangi laju penyebaran Covid-19 di Negeri Jiran.

Seorang WNI di Malaysia, Shidqi Mukhtasor, bercerita bahwa pada lockdown kali ini, pemerintah Malaysia memberlakukan jam malam. Aktivitas di ruang publik hanya diizinkan mulai pukul 8.00 hingga 20.00.

Mahasiswa Universitas Islam Internasional Malaysia itu juga menyebut kampusnya menerapkan aturan serupa mengikuti pemerintah.


"Mahasiswa (bak) dikunci dalam kampus," katanya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (3/6).

Untuk memenuhi kebutuhan harian, Shidqi yang tinggal di asrama kampus mengandalkan kantin. Kantin di kampus ini hanya buka hingga pukul 20.00. Untuk makan malam, ia harus membeli sebelum jarum jam di angka delapan berdentang.

Meski demikian, Shidqi menilai locdown kali ini tak seketat tahun lalu.

"Tidak seserius lockdown pertama (yang) benar-benar mencekam, dan tidak boleh ke mana-mana," kata Shidqi.

Dia menceritakan bahwa saat penguncian tahun lalu, ada salah satu temannya yang dikejar polisi lantaran keluar untuk membeli makan.

Senada, seorang WNI lain di Malaysia, Nuriyah, mengungkapkan setelah jam 8 malam, aktivitas sudah harus dihentikan. Setelah waktu itu, akan ada petugas yang berjaga di jalan memantau pergerakan warga keluar rumah.

"Jadi aturannya itu, jam 8 malam sudah setop semua. Dari orang yang keluar harus sudah dibatasi, sudah enggak boleh keluar," tutur Nuriyah.

Nur, sapaan akrabnya, juga mengatakan bahwa polisi berjaga 24 jam di jalan-jalan utama yang banyak dilalui kendaraan.

"Jadi, kalau keluar beberapa meter, sudah ada polisi yang berjaga dan itu 24 jam," katanya.

Menurut Nur, di tempat lain bahkan ada petugas yang menyamar untuk memantau pemberlakuan jam malam. Orang yang melanggar aturan penguncian wilayah itu, kata Nur, akan dikenai sanksi.

Sebelum lockdown, Malaysia menerapkan perintah pengendalian pergerakan (MCO). Dalam aturan itu, orang yang melanggar akan dikenai sanksi berupa denda.

"Sebelum ini, (lockdown 1 Juni) kawan-kawan pernah denda juga 1.000 ringgit Malaysia atau sekitar Rp3,4 jutaan. Kalau yang enggak mampu bayar bisa dipenjara, tapi belum ada yang sampai ke sana," ucap Nur.

Bagi warga tuan rumah yang menerima kunjungan, dikenai denda sebanyak 25 ribu ringgit atau sekitar Rp86 juta. Sementara itu, orang yang berkunjung didenda 5 ribu ringgit (Rp17 juta).

Nur pun tak berani bersilaturahmi saat Hari Raya Idulfitri pada Mei lalu karena khawatir akan hukuman denda.

"Di sini kan ada anak-anak ngaji. Biasanya, orang tua telepon mau berkunjung. Terus terang minta maaf ibu tolak. Sampai sebegitunya kami di sini itu taat SOP," katanya.

Pada lockdown kali ini, lanjut Nur, ada denda juga, tapi tidak sebanyak sebelumnya. Denda itu akan diberlakukan bagi mereka yang tak mematuhi aturan seperti mengenakan masker, tak membawa surat saat berpergian jauh, dan keluar tanpa keperluan mendesak.

[Gambas:Video CNN]

Selama lockdown, transportasi di sana pun tak semua beroperasi. Taksi tak tampak di jalanan, bus hanya ada di terminal, dan kereta hanya untuk keperluan mendesak.

Meski melakukan penguncian, Pemerintah Malaysia mengizinkan 17 sektor tetap beroperasi. Sektor-sektor itu bergerak di bidang pangan, obat-obatan, atau bidang primer lain yang berguna untuk memenuhi kebutuhan warga.

Namun, operasional sektor itu juga terbatas. Swalayan, misalnya, hanya mengizinkan delapan orang dalam ruangan, demikian menurut penuturan Nur.

"Anak di bawah 17 juga enggak boleh masuk. Untuk dewasa saja," ucap Nur.

(isa/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK