Suu Kyi Kekurangan Uang untuk Makan di Tahanan Rumah Junta

CNN Indonesia | Selasa, 08/06/2021 11:01 WIB
Pemimpin defacto Myanmar yang dikudeta, Aung San Suu Kyi, kekurangan uang untuk makan dan kebutuhan sehari-hari dirinya selama menjadi tahanan rumah junta. Pemimpin defacto Myanmar yang dikudeta, Aung San Suu Kyi, kekurangan uang untuk makan dan kebutuhan sehari-hari dirinya selama menjadi tahanan rumah junta. (Reuters/Pool)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemimpin de facto Myanmar yang dikudeta, Aung San Suu Kyi, mengaku kekurangan uang untuk makan dan kebutuhan sehari-hari dirinya selama menjadi tahanan rumah junta militer.

Dalam sidang di Naypyitaw, Senin (7/6), Suu Kyi mengatakan kepada tim hukumnya bahwa ia butuh uang tunai itu membeli makanan, obat-obatan, serta kebutuhan sehari-hari lain untuk ia dan delapan tahanan lainnya, juga anjingnya, Taichido.

"Amay (panggilan untuk Suu Kyi) mengatakan dia dan tahanan lain butuh uang tunai untuk makan dan kebutuhan lainnya setiap dua minggu," ujar salah satu kuasa hukum Suu Kyi, Daw Min Min Soe, Senin (7/6), dikutip dari The Irrawaddy.


Suu Kyi mengatakan bahwa orang yang menahan mereka sebenarnya sudah menawarkan bantuan, tapi ia ogah menerima. Jika memungkinkan, Suu Kyi meminta tim hukumnya untuk membantu.

"Kata Amay, uang tunai 5 juta kyat atau sekitar Rp43juta sudah cukup untuk saat ini. Dia mengatakan persediaan lain juga diperlukan," kata pengacara itu.

Saat ini, Suu Kyi sudah didakwa dengan enam tuduhan, dua di antaranya terkait pasal 25 mengenai hukum pengelolaan bencana alam, pasal 8 soal ekspor dan impor, pasal 67 mengenai telekomunikasi, dan pasal 505 (b) KUHP untuk penghasutan dan Undang-Undang Rahasia Negara.

Suu Kyi bersama Presiden Myanmar, U Win Myint, dan ketua Dewan Perwakilan, Myo Aung, hadir di pengadilan pada 24 Mei dan 7 Juni.

Itu merupakan kali pertama mereka menghadiri langsung sidang. Sebelumnya, mereka selalu menghadiri sidang secara virtual.

Pekan lalu, junta militer memindahkan Suu Kyi dan beberapa tahanan rumah ke lokasi yang tak diketahui.

[Gambas:Video CNN]

Junta tak hanya menangkap petinggi Myanmar setelah kudeta pada 1 Februari lalu. Mereka juga kerap menahan warga sipil yang memprotes kudeta.

Sejauh ini, menurut Lembaga Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), orang yang ditahan junta sebanyak 4.677 orang. Sementara itu, jumlah korban tewas akibat bentrok dengan aparat Myanmar mencapai 857.

(isa/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK