ASEAN Jelaskan Pertemuan dengan Junta Militer Myanmar

CNN Indonesia | Senin, 07/06/2021 20:42 WIB
ASEAN mengatakan dua utusannya mengunjungi Myanmar akhir pekan lalu untuk mendiskusikan bagaimana mereka bisa membantu mencari solusi. Pemimpin Junta Militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing. (AFP/YE AUNG THU)
Jakarta, CNN Indonesia --

ASEAN mengatakan dua utusannya mengunjungi Myanmar akhir pekan lalu untuk mendiskusikan bagaimana mereka bisa membantu mencarikan solusi penyelesaian krisis politik pasca kudeta 1 Februari lalu.

Melalui pernyataan pada Sabtu (5/6), Sekretariat ASEAN menuturkan lawatan Sekretaris Jenderal Lim Jock Hoi dan Menteri Luar Negeri Brunei, Erywan Yusof, ke Naypyidaw itu merupakan tindak lanjut dari lima poin konsensus yang dicapai pemimpin ASEAN dalam pertemuan di Jakarta pada April lalu.

"Tujuan kunjungan kerja tersebut adalah untuk membahas bagaimana ASEAN dapat membantu memfasilitasi dialog konstruktif di antara semua pihak di Myanmar dan memberikan bantuan kemanusiaan ASEAN kepada Myanmar," demikian bunyi pernyataan Sekretariat ASEAN melalui situs resmi, asean.org.


Selain bertemu Pemimpin Junta Militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, Lim dan Erywan juga bertemu para menteri kabinet junta, kepala misi ASEAN di Myanmar, petinggi Palang Merah Internasional (ICRC), hingga kantor PBB untuk koordinasi urusan kemanusiaan (UN OCHA).

Dalam setiap pertemuan, Lim dan Erywan berupaya menekankan pentingnya implementasi lima poin konsensus ASEAN sesegera mungkin. Keduanya juga menyerukan pembebasan semua tahanan politik, termasuk perempuan, anak-anak, dan warga asing.

Meski begitu, pernyataan Sekretariat ASEAN itu tak menjabarkan detail isu yang dibahas bersama Jenderal Aung Hlaing, termasuk sikap blok tersebut terkait pemilihan umum ulang.

Sebab, Aung Hlaing disebut telah berjanji akan mengizinkan pemilu ulang Myanmar jika situasi sudah kondusif. Janji itu diutarakannya saat bertemu Lim dan Erywan.

"Pemilu ulang akan dilakukan ketika situasi sudah kembali normal," kata Min Aung Hlaing dalam sebuah pernyataan yang dikutip AFP.

Sementara itu, pemilu ulang dianggap berseberangan dengan sebagian besar keinginan rakyat Myanmar.

Selain itu, ASEAN juga tak menjelaskan apakah kedua utusannya turut bertemu pemangku kepentingan lainnya di Myanmar, termasuk kabinet tandingan junta Myanmar, Pemerintah Persatuan Nasional (NUG).

Dalam pernyataannya, NUG mengatakan pihaknya sudah tak percaya dengan upaya ASEAN membantu memulihkan krisis pasca-kudeta di Myanmar.

"Kami tak begitu yakin dengan upaya ASEAN. Seluruh harapan kami sudah pupus. Saya tidak yakin mereka (ASEAN) punya rencana yang solid terkait kredibilitas mereka dalam menangani krisis ini," kata Wakil Menteri Luar Negeri NUG, Moe Zaw Oo, dalam jumpa pers virtual pada Jumat pekan lalu.

(rds/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK