Suu Kyi Kurang Uang di Tahanan, Pengacara Kirim Paket Makanan

CNN Indonesia | Rabu, 09/06/2021 10:22 WIB
Pengacara Aung San Suu Kyi mengirimkan paket makanan ke tempat kliennya ditahan setelah pemimpin de facto Myanmar yang dikudeta itu mengeluh kekurangan uang. Pengacara Aung San Suu Kyi mengirimkan paket makanan ke tempat kliennya ditahan setelah pemimpin de facto Myanmar yang dikudeta itu mengeluh kekurangan uang. (Reuters/Cathal McNaughton)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengacara Aung San Suu Kyi mengirimkan paket makanan ke tempat kliennya ditahan setelah pemimpin de facto Myanmar yang dikudeta itu mengeluh kekurangan uang.

"Saya mengirimkan dua karung beras dan sekitar 9 kilogram minyak juga beberapa kebutuhan lain melalui kepolisian. Saya tidak meminta bantuan siapa pun. Saya membelinya sendiri," ujar pengacara Suu Kyi, U Kyi Win, kepada The Irrawady, Selasa (8/6).

UKyi Win mengirimkan paket makanan ini setelah Suu Kyi di sela sidang pada Senin (7/6) mengeluhkan bahwa ia kekurangan uang untuk membeli makanan untuknya dan enam tahanan lainnya, juga anjing peliharaannya, Taichido.


Menurut Suu Kyi, pihak yang menahannya sebenarnya sudah menawarkan bantuan. Namun, Suu Kyi ogah menerima dan menganggap lebih baik jika tim hukumnya membantu.

Saat ini, Suu Kyi sedang menjalani proses hukum atas enam dakwaan, termasuk dua tuntutan berdasarkan Pasal 25 dalam UU Manajemen Bencana Alam

Ia juga didakwa terkait Pasal 8 UU Ekspor Impor, Pasal 67 UU Telekomunikasi, Pasal 505 (b) KUHP tentang penghasutan, dan UU Rahasia Negara.

Tim hukum Suu Kyi mengabarkan bahwa kasus perdana kliennya diperkirakan rampung pada bulan depan.

[Gambas:Video CNN]

Suu Kyi ditahan tak lama setelah militer mengudeta pemerintahannya pada 1 Februari lalu. Selain Suu Kyi, militer juga menangkap sejumlah pejabat lainnya, termasuk Presiden U Win Myint.

Sejak saat itu, militer membawa Suu Kyi ke tahanan rumah di berbagai lokasi yang tak dipublikasikan di Naypyitaw. Junta selalu memindahkan lokasi Suu Kyi atas alasan keamanan.

Sementara Suu Kyi ditahan, gerakan warga yang menolak kudeta militer masih terus membara. Hingga kini, kelompok pemantau Lembaga Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) melaporkan setidaknya 857 orang tewas akibat bentrok dengan aparat.

(has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK