Pontang-panting Relawan Malaysia Kubur Muslim Korban Covid-19

CNN Indonesia | Jumat, 11/06/2021 14:53 WIB
Kala mendengar kabar duka kerabat meninggal akibat Covid-19, banyak keluarga Muslim di Malaysia hilang arah. Sekelompok relawan pun membantu mengurus pemakaman. Ilustrasi. (Antara Foto/Yusuf Nugroho)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kala mendengar kabar duka kerabat terdekat meninggal akibat Covid-19, banyak keluarga Muslim di Malaysia merasa hilang arah. Sekelompok relawan pun membantu mereka untuk menggelar pemakaman yang layak.

Adalah kelompok Skuad Manajemen Pemakaman Malaysia (SPJM). Mereka merasa tergerak ketika melihat banyak keluarga Muslim tak tahu harus berbuat apa saat masih terperanjat mendengar kabar kerabatnya meninggal akibat Covid-19.

"Kenyataannya adalah orang sudah terlalu sedih dan patah hati karena kehilangan orang tersayang. Mereka tak mungkin terpikir untuk menelepon tempat pemakaman untuk melihat ketersediaan, apalagi untuk mengetahui prosedur yang benar," ujar Kepala SPJM, Muhammad Rafieudin Zainal Rasid, kepada Channel NewsAsia.


Muhammad sebenarnya sudah mendirikan SPJM sejak lima tahun lalu. Namun, keadaan pandemi seperti sekarang ini membuat SPJM lebih bekerja keras.

Sebelum pandemi, SPJM biasanya menguburkan rata-rata tiga jenazah tiap hari. Namun kini, mereka dapat menguburkan lebih dari lima jasad setiap harinya.

Tak sembarangan, SPJM hanya bisa menunggu keluarga untuk menghubungi mereka agar tak mengganggu suasana hati orang yang sedang berduka.

Ketika sudah dihubungi, mereka baru mencari berbagai informasi. Mereka juga akan mengurus surat laporan ke kepolisian, menghubungi pihak pemakaman, hingga mengajukan izin penggalian liang kubur.

Tim SPJM juga akan mengurus segala sesuatu dengan pihak rumah sakit untuk proses pemindahan jenazah ke tempat pemakaman.

"Kami tak membiarkan keluarga berada di tempat pemakaman karena risiko Covid-19. Namun terkadang, ada keluarga yang memaksa. Kami akhirnya mengizinkan orang-orang yang sehat untuk ikut," tutur Muhammad.

Di atas kertas, proses ini terlihat tak terlalu rumit. Namun ternyata, SPJM kerap butuh upaya ekstra mencari lahan kuburan.

Di daerah Klang Valley, misalnya, hanya ada sekitar 40 tempat pemakaman Muslim. Dari keseluruhan jumlah tersebut, hanya delapan di antaranya yang menerima jenazah Covid, dengan kuota harian terbatas.

"Jika mereka sudah memenuhi kuota hari itu, manajemen tidak akan menerima permintaan penguburan lagi dan kami harus menghubungi pemakaman lain. Jika semua tak bisa, kami harus menunggu hari selanjutnya," ucap Muhammad.

Permasalahan muncul karena proses pemakaman Muslim harus dilaksanakan dalam kurun 24 jam setelah kematian. Muhammad sebenarnya sudah berupaya berbicara dengan pihak manajemen pemakaman, tapi tak pernah berhasil.

"Meski kami sudah meminta pertimbangan ulang karena pandemi, tetap tak ada perubahan," katanya.

[Gambas:Video CNN]

Tak hanya Muslim, tempat pemakaman khusus Kristen hingga Buddha di Malaysia juga kewalahan menghadapi peningkatan kematian akibat Covid-19.

Sebagaimana dilansir Associated Press, tempat-tempat pemakaman itu tak hentinya menguburkan jenazah korban Covid.

Meski kasus harian Covid-19 di Malaysia menurun, situasi pandemi masih gawat. Saat ini, tingkat keterisian tempat tidur (BOR) di ICU Malaysia untuk pasien Covid-19 saja sudah menembus 104 persen.

Kasus virus corona di Malaysia saat ini mencapai 639.562 infeksi dan 556.030 pasien sembuh.

Berdasarkan data Worldometer, hingga Jumat (11/6), negara dengan populasi 32 juta itu mencatat 3.684 kematian akibat Covid-19.

Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia, Noor Hisham Abdullah, pun memperingatkan agar Negeri Jiran "bersiap untuk yang terburuk."

(has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK