Jakarta, CNN Indonesia -- Mata Ola menerawang menatap foto di sebuah ponsel. Foto itu adalah potret saudarinya dan empat anak yang terbunuh dalam serangan Israel ke Gaza beberapa waktu lalu.
"Saya berharap kami menemukan mereka hidup-hidup," kata Ola lirih.
Perempuan penduduk Gaza berusia tiga puluhan itu menyeka air matanya saat berdiri di depan seorang psikolog dari organisasi lokal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ola adalah satu dari banyak penduduk Gaza yang kehilangan anggota keluarga selama 11 hari serangan bombardir Israel pada bulan lalu. Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan 66 anak-anak dan remaja Palestina terbunuh akibat serangan itu.
Dari 10 hingga 21 Mei, tentara Israel menghujani Jalur Gaza dengan rudal sebagai balasan tembakan roket oleh militan Hamas yang menguasai wilayah sempit berpenduduk dua juta jiwa itu.
Salah satu serangan menghantam wilayah Al-Rimal di Jalur Gaza dan menghancurkan bangunan tempat saudari Ola, Abeer, tinggal bersama keluarganya.
10 jam setelah serangan, tim penyelamat menemukan suami Abeer, Riad, dan putri mereka yang berusia delapan tahun, Suzy, di balik puing-puing. Mereka masih bernafas.
Namun Abeer dan empat anaknya yang lain telah pergi selamanya.
"Saya tak bisa berhenti memikirkan kakak saya dan anaknya, yang mungkin masih hidup berjam-jam di bawah reruntuhan," kata Ola Ashkantana yang menolak mengonsumsi obat anti-kecemasan.
"Saya syok. Kini saya takut kehilangan anak saya sendiri,"
 Ilustrasi. Dari 10 hingga 21 Mei, tentara Israel menghujani Jalur Gaza dengan rudal sebagai balasan tembakan roket oleh militan Hamas yang menguasai wilayah sempit berpenduduk dua juta jiwa itu. (AFP/EMMANUEL DUNAND) |
'Saya Trauma'
Di ruangan sebelah Ola, Riad memeluk Suzy di lututnya, saat dokter spesialisasi mental di Gaza, Hassan al-Khawaja, mendorongnya mencoba psikoterapi.
"Saya tercekik. Saya bahkan ingin tinggal bersama mereka di makam," kata Riad yang disebut keluarganya hampir tak berbicara sejak perang merenggut orang-orang yang ia cintai.
"Saya trauma. Bagaimana perasaan dan pikiran saya akan kembali? Saya tidak akan pernah menjadi diri saya seperti semula,"
Ola dan Riad tidak sendirian. Perang keempat yang terjadi sejak 2008 itu menghancurkan sekitar seribu apartemen, perkantoran, dan pusat bisnis.
Namun psikiater dan psikolog yang sedikit di wilayah itu tahu bahwa pembangunan kembali yang sebenarnya akan jauh lebih lama dari pada sekadar mendirikan bangunan fisik.
"Ini bukan pertama kali kami mengalami perang di Gaza," kata Khawaja yang mengatakan banyak penduduk mengalami gangguan stres pascatrauma atau PTSD.
"Kami harus menghadapi banyak trauma. Saya menduga krisis PTSD ini dalam beberapa bulan mendatang," katanya menjelaskan bahwa tiap trauma dan perang baru, banyak warga Gaza menghadapi kambuhan dan gangguan stres akut, termasuk gejala syok dan penyangkalan.
Bila stres itu tak ditangani dengan cepat, dapat berkembang menjadi PTSD. Hal itu bisa berarti pekerjaan tim perawat kesehatan mental sangat penting dalam beberapa bulan mendatang demi mencegah ledakan kasus.
Sementara itu di Rumah Sakit Al-Awda di kamp Jabalia, Gaza utara, Bilal Daya mengalami patah lengan, lubang di betis, dan kaki kiri yang terkilir. Namun luka fisik pemuda 24 tahun bukan yang paling membuat dokter khawatir.
mimpi buruk Bilal di halaman sebelah...
Mimpi Buruk yang Nyata
Ilustrasi. Perang Israel-Gaza Mei 2021 menyisakan luka trauma yang menjadi bom waktu ledakan bencana mental yang lebih besar pada penduduk Gaza. (AP/John Minchillo)
Bilal sedang minum teh di luar rumahnya di Gaza timur ketika serangan Israel menimpa kawasan tempat tinggalnya.
"Dia teriak minta tolong," kata Bilal. "Saya mencoba membawanya, namun rudal lainnya datang. Ada dengungan besar di telinga saya, bagian tubuh manusia di sekitar saya, asap. Saya tak tahan terkena pecahan peluru,"
Bilal harus merangkak ke tempat yang aman. Tujuh orang tetangganya telah tewas.
Kini Bilal tampak kuyu dan terguncang di atas kasurnya di rumah sakit, jauh beda dibandingkan pria muda yang cerita di foto yang dibawa oleh ayahnya.
Psikolog Palestina yang bekerja dengan Doctors Without Borders (MSF), Mahmoud Awad, memantau "reaksi akut Bilal menghadapi stres". Awad berharap bisa mencegah trauma menetap dan merusak jiwa pemuda itu.
"Kami mencoba membuatnya berbicara. Ini adalah trauma paling signifikan dalam hidupnya dan kami ingin menghindai ekskalasi menjadi PTSD," kata Awad.
"Kini dia mengalami syok dan penyangkalan. Dia cenderung mengeneralisasi segalanya.. Tak banyak bicara tentang dirinya sendiri," lanjut Awad.
Tak Ada Tempat Aman
Perang dengan Israel 2021 kemarin adalah yang tersingkat antara konflik Gaza-Israel sejak 2014, termasuk yang sedikit menghasilkan korban jiwa dan pengungsian.
"Namun dampak psikologinya akan lebih parah," kata Yasser Abu-Jamei, direktur Gaza Community Mental Health Programme. "Bagaimana Anda bisa menenangkan anak Anda saat terjadi bom dan tidak berhenti selama 20-30 menit?"
"Itu tidak mungkin. Kita selalu mengatakan kepada orang-orang bahwa Anda membutuhkan tempat yang aman, untuk merasa aman, tetapi di sini, selama 11 hari, tidak ada tempat yang aman,"
 Ilustrasi. Perang dengan Israel 2021 kemarin adalah yang tersingkat antara konflik Gaza-Israel sejak 2014, termasuk yang sedikit menghasilkan korban jiwa dan pengungsian. (AP/Khalil hamra) |
Tentara Israel tercatat membunuh 260 warga Palestina, termasuk para pejuang, kata Pemerintah Gaza. Sedangkan di Israel, 13 orang tewas, termasuk seorang prajurit, oleh tembakan roket dari Gaza menurut laporan aparat setempat.
Tak ada universitas di Jalur Gaza yang menyediakan spesialisasi psikiatri, dan layanan kesehatan mental yang tersedia tidak bisa memenuhi permintaan.
Sejumlah spesialis bahkan mempertanyakan seluruh konsep PTSD di Gaza, lokasi yang disebut psikiater Samir Zaqout tidak ada "pascatrauma, karena ini adalah trauma berkelanjutan".
"Untuk sembuh dari trauma berarti Anda harus tinggal di lokasi yang aman," kata Zaqout. "Namun di Gaza, dan khususnya selama perang ini, tak ada tempat aman. Jadi Anda bisa bicara soal mengatasi, soal ketahanan, tapi tak bisa soal sungguh-sungguh mengobati."