Ratusan Kuburan Ditemukan di Bekas Gedung Sekolah Kanada

CNN Indonesia | Kamis, 24/06/2021 23:00 WIB
Ratusan kuburan tak bernisan ditemukan di lokasi bekas sekolah asrama anak suku asli Kanada, Marieval Indian Residential School. Ilustrasi. (AP/Leo Correa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ratusan kuburan tak bernisan ditemukan di lokasi bekas sekolah asrama anak suku asli Kanada, Marieval Indian Residential School.

Federation of Sovereign Indigenous Nations (FSIN) menyatakan salah satu perhimpunan suku asli Kanada, The Cowessess First Nation di Saskatchewan, akan mengumumkan "penemuan mengerikan dan mengejutkan" itu pada hari ini, Kamis (24/6).

"Jumlah kuburan tak bernisan akan menjadi yang paling signifikan hingga saat ini di Kanada," bunyi pernyataan FSIN.


FSIN tak menjabarkan secara pasti jumlah kuburan yang ditemukan. Namun, foto dan video yang diambil dari lokasi diperkirakan akan dirilis dalam jumpa pers nanti.

Sementara itu, para pemimpin suku adat di Saskatchewan telah menghubungi para penyintas dan keluarga untuk memberi tahu temuan kuburan massal ini.

"Prioritas pertama adalah kesehatan, penyembuhan, dan kesejahteraan para penyintas dan keluarganya, serta komunitas Cowessess First Nation," kata Larissa Burnouf dari FSIN Communications seperti dilansir CNN.

Penemuan ratusan kuburan tanpa nisan ini terungkap sekitar tiga minggu setelah pihak berwenang Kanada menemukan 215 jasad anak-anak dan balita di sebuah gedung bekas sekolah asrama untuk anak suku asli di British Columbia.

Menurut Tk'emlups te Secwepemc Nation, jasad ratusan anak tersebut adalah siswa Kamloops Indian Residential School yang ditutup pada 1978. Sekolah itu merupakan sekolah asrama terbesar di Kanada.

[Gambas:Video CNN]

Sistem sekolah asrama atau boarding Kanada memang telah lama dikritik. Model sekolah tersebut pun kini sudah dihentikan.

Sistem sekolah tersebut dinilai secara paksa memisahkan anak-anak suku asli Kanada dari keluarga mereka. Sebuah penyelidikan selama enam tahun menganggap sistem sekolah tersebut merupakan "genosida budaya."

Laporan tersebut mendokumentasikan insiden pelecehan fisik yang mengerikan, pemerkosaan, kekurangan gizi, hingga kekejaman lainnya terhadap sekitar 150 siswa di tempat tersebut.

(rds/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK