Kisruh PM Muhyiddin di Pusaran Badai Covid-19 Malaysia

CNN Indonesia
Jumat, 09 Jul 2021 12:33 WIB
Kisruh PM Muhyiddin di Pusaran Badai Covid-19 Malaysia
Situasi lockdown Covid-19 di Malaysia. (AP/Vincent Thian)

Pemakaman Penuh

Tak hanya rumah sakit, lahan pemakaman juga terus digali lantaran jumlah kematian pasien Covid-19 ikut meningkat. Kelompok relawan Skuad Manajemen Pemakaman Malaysia (SPJM) juga mengaku bekerja lebih keras setiap hari membantu proses penguburan jenazah.

Sebelum pandemi, SPJM biasanya menguburkan rata-rata tiga jenazah tiap hari. Namun kini, mereka dapat menguburkan lebih dari lima jasad setiap harinya.

Ekonomi keok

Lonjakan kasus Covid-19 ini pun dinilai semakin menghambat pemulihan ekonomi Negeri Jiran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam peta jalan yang disusun pemerintahan Muhyiddin, perekonomian Malaysia diperkirakan baru akan dibuka penuh mulai September mendatang dengan catatan tingkat rawat inap di rumah sakit harus menurun.

Selain itu, vaksinasi juga harus ditingkatkan dan dipercepat agar bisa menekan infeksi Covid-19 baru ketika perekonomian mulai dibuka lagi.

Politisasi Covid

Sementara itu, oposisi mendesak Muhyiddin segera mengizinkan parlemen kembali bersidang setelah ditangguhkan (reses) sejak pemerintah mendeklarasikan situasi darurat corona Januari lalu.

Deklarasi status darurat memberikan Muhyiddin kewenangan untuk menangguhkan parlemen. Dengan demikian, dapat menerapkan aturan darurat tanpa persetujuan legislatif.

Sementara itu, pihak oposisi Malaysia sudah gerah karena tak dapat menyampaikan perbedaan pendapat mengenai penanganan Covid-19 melalui parlemen.

Penangguhan parlemen ini memang dianggap sejumlah pihak sebagai cara Muhyiddin untuk menghindari kritik terhadap pemerintahannya yang hanya memegang mayoritas kecil setelah pecah kongsi dengan koalisi Pakatan Harapan.

Dengan penangguhan ini, parlemen juga tak bisa mengajukan mosi tidak percaya terhadap Muhyiddin.

Jakarta, CNN Indonesia --

Tampuk kekuasaan Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin, berada di ujung tanduk setelah partai politik terbesar di Negeri Jiran, UMNO, menarik dukungan terhadap pemerintah.

Salah satu alasan UMNO adalah karena pemerintahan Muhyiddin dinilai gagal menangani pandemi virus corona. UMNO bahkan mendesak Muhyiddin mundur sebagai perdana menteri.

Sama seperti Indonesia, Malaysia saat ini juga tengah berjuang menghadapi gelombang baru infeksi Covid-19. Lonjakan Covid-19 pun diperparah dengan penyebaran varian Delta corona yang lebih cepat menular.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di awal pandemi, kabinet Muhyiddin dinilai berhasil menekan penyebaran dan laju infeksi Covid-19, salah satunya dengan menerapkan penguncian wilayah (lockdown) pada Maret tahun lalu.

Saat itu, laju infeksi harian corona dapat ditekan.

Namun, persepsi masyarakat berubah menjadi kekecewaan setelah pemerintahannya kembali menetapkan status darurat dan lockdown akibat lonjakan kasus baru-baru ini.

Kasus Covid masih naik usai lockdown

Negeri Jiran terus mencatat rekor infeksi harian lebih dari 7.000 kasus dalam dua hari berturut-turut pada Rabu (7/7).

Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia, Noor Hisham Abdullah, mengatakan pemerintah mencatat 7.097 kasus Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Sementara itu, Malaysia mencatat 7.654 kasus Covid-19 pada sehari sebelumnya.

Dengan jumlah tersebut, saat ini Malaysia mencatat total lebih 808 ribu kasus Covid-29 dengan hampir 6 ribu kematian.

BOR tinggi

Pasien corona yang masuk unit perawatan intensif (ICU) juga dilaporkan memecahkan rekor sebanyak 943 orang. Hingga kini, pasien yang diintubasi mencapai 450 orang.

Tingkat keterisian tempat tidur (BOR) di ICU juga masih melebihi 100 persen.

Beberapa rumah sakit di Kuala Lumpur, Selangor, Negeri Sembilan, dan Labuan saat ini juga dilaporkan telah melampaui batas maksimal dalam merawat pasien Covid-19.

Baca lanjutannya di halaman berikutnya>>>

Kisruh PM Muhyiddin di Pusaran Badai Covid-19 Malaysia

Situasi lockdown Covid-19 di Malaysia. (AP/Vincent Thian)

Pemakaman Penuh

Tak hanya rumah sakit, lahan pemakaman juga terus digali lantaran jumlah kematian pasien Covid-19 ikut meningkat. Kelompok relawan Skuad Manajemen Pemakaman Malaysia (SPJM) juga mengaku bekerja lebih keras setiap hari membantu proses penguburan jenazah.

Sebelum pandemi, SPJM biasanya menguburkan rata-rata tiga jenazah tiap hari. Namun kini, mereka dapat menguburkan lebih dari lima jasad setiap harinya.

Ekonomi keok

Lonjakan kasus Covid-19 ini pun dinilai semakin menghambat pemulihan ekonomi Negeri Jiran.

Dalam peta jalan yang disusun pemerintahan Muhyiddin, perekonomian Malaysia diperkirakan baru akan dibuka penuh mulai September mendatang dengan catatan tingkat rawat inap di rumah sakit harus menurun.

Selain itu, vaksinasi juga harus ditingkatkan dan dipercepat agar bisa menekan infeksi Covid-19 baru ketika perekonomian mulai dibuka lagi.

Politisasi Covid

Sementara itu, oposisi mendesak Muhyiddin segera mengizinkan parlemen kembali bersidang setelah ditangguhkan (reses) sejak pemerintah mendeklarasikan situasi darurat corona Januari lalu.

Deklarasi status darurat memberikan Muhyiddin kewenangan untuk menangguhkan parlemen. Dengan demikian, dapat menerapkan aturan darurat tanpa persetujuan legislatif.

Sementara itu, pihak oposisi Malaysia sudah gerah karena tak dapat menyampaikan perbedaan pendapat mengenai penanganan Covid-19 melalui parlemen.

Penangguhan parlemen ini memang dianggap sejumlah pihak sebagai cara Muhyiddin untuk menghindari kritik terhadap pemerintahannya yang hanya memegang mayoritas kecil setelah pecah kongsi dengan koalisi Pakatan Harapan.

Dengan penangguhan ini, parlemen juga tak bisa mengajukan mosi tidak percaya terhadap Muhyiddin.

[Gambas:Video CNN]


HALAMAN:
1 2