Rusia Akan Pasok Junta Myanmar Perangkat dan Pesawat Militer

CNN Indonesia | Kamis, 22/07/2021 10:52 WIB
Rusia menegaskan bahwa mereka akan terus memperkuat sistem pertahanan Myanmar, memasok perangkat keras militer termasuk pesawat tempur untuk junta. Pemimpin junta Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing. (AFP/YE AUNG THU)
Jakarta, CNN Indonesia --

Rusia menegaskan bahwa mereka akan terus memperkuat sistem pertahanan Myanmar dengan memasok perangkat keras militer termasuk pesawat tempur untuk junta.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Industri Senjata Rusia Rosoboronexport Alexander Mikheev seperti dilaporkan kantor berita Interfax, Rabu (21/7).

"Ada kerjasama erat antara kami dalam penyediaan perangkat militer, termasuk pesawat terbang," kata Alexander Mikheev seperti dikutip dari Reuters.


Namun dia tidak memberikan rincian lebih lanjut peralatan tempur apa saja yang akan dikirimkan ke Myanmar.

Dalam pameran dirgantara tahunan Rusia yang dihadiri Presiden Vladimir Putin Selasa (20/7), Mikheev menyebut Myanmar salah satu klien utama Rosoboronexport di Asia Tenggara.

Selain itu, kata dia, Myanmar juga mitra utama Rostec, konglomerat pertahanan dan kedirgantaraan Rusia.

Rusia memang menjadi salah satu pemasok senjata bagi Myanmar.

Bulan lalu pemimpin junta Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing melakukan kunjungan ke Rusia.

Saat bertemu Rusia Sergei Shoigu, Min mengucapkan terima kasih ke Moskow karena terus memperkuat militer mereka selama ini.

Shoigu juga berkomitmen bahwa Rusia akan terus memperkuat hubungan militer dengan Myanmar.

Shoigu menganggap Myanmar sebagai salah satu mitra strategis dan sekutu yang dapat diandalkan.

Kerja sama pertahanan antara kedua negara telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Moskow memberikan pelatihan militer dan beasiswa universitas kepada ribuan tentara Myanmar. Rusia juga menjual senjata ke militer Myanmar, yang saat ini masuk daftar hitam sejumlah negara Barat.

Sejumlah aktivis HAM menganggap Moskow melegitimasi kudeta militer 1 Februari lalu karena menjamu Aung Hlaing dan melanjutkan kesepakatan perdagangan senjata dengan Myanmar.

Baru-baru ini, junta Myanmar menolak resolusi Majelis Umum PBB yang menyerukan embargo senjata ke negara tersebut. Embargo senjata diterapkan setelah junta militer Myanmar terus menindak brutal para pedemo anti-kudeta.

(dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK