Modi Jawab soal Kematian Covid India Capai 4 Juta Orang

CNN Indonesia | Jumat, 23/07/2021 14:08 WIB
India membantah studi yang memaparkan bahwa kematian akibat Covid-19 di negara itu 11 Kali lebih banyak dari data resmi pemerintah. Perdana Menteri Narendra Modi. (Money SHARMA / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

India membantah studi yang memaparkan bahwa kematian akibat Covid-19 di negara itu 11 Kali lebih banyak dari data resmi pemerintah.

Studi kelompok riset Amerika Serikat, Center for Global Development menyebut sedikitnya 3,4 juta sampai 4,7 juta orang di India telah meninggal akibat Covid-19.

Berdasarkan data resmi, jumlah kematian Covid-19 di India sejak awal pandemi mencapai total 419.021. Jika terbukti, angka kematian akibat Covid-19 India tersebut akan menjadi yang tertinggi di dunia.


Pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi mengatakan bahwa hasil penelitian itu merupakan "asumsi yang berani di mana kemungkinan setiap orang yang terinfeksi dalam kondisi kritis sama di seluruh negara."

Pemerintah India menganggap studi tersebut mengabaikan "faktor-faktor ras, etnis, konstitusi genetik suatu populasi, dan tingkat paparan sebelumnya terhadap penyakit lain dan kekebalan terkait yang dikembangkan pada populasi tersebut."

"Berasumsi bahwa seluruh kematian yang tak terdata adalah akibat virus corona itu tidak berdasarkan fakta dan sepenuhnya keliru," kata pemerintah India, Kamis (22/7) seperti dikutip AFP.

Pemerintah India menegaskan mereka memiliki "strategi pelacakan kontak menyeluruh, ketersediaan laboratorium secara luas."

Meski begitu, pemerintah India mengakui mungkin ada beberapa kasus Covid-19 yang tidak terdeteksi. Namun, menurut pemerintah, kematian akibat Covid-19 yang tidak terdata kemungkinan kecil terjadi.

Pernyataan pemerintah India tersebut justru terkesan menyalahkan pemerintah daerah dalam pendataan kasus dan kematian Covid-19.

New Delhi mengatakan pemerintah pusat mengandalkan pengumpulan dan penerbitan statistik Covid-19 dari data-data yang dikirim negara bagian.

Pemerintah India menuturkan telah berulang kali "menasihati" pemerintah daerah tentang pencatatan kematian dengan sebenar-benarnya.

"Negara-negara bagian yang kewalahan oleh lonjakan Covid-19 pada April dan Mei lalu sekarang telah disarankan melakukan audit menyeluruh demi mencegah kemungkinan kasus yang mungkin terlewatkan dan beberapa wilayah memperbarui data mereka," bunyi pernyataan pemerintah India.

Sebelumnya para peneliti mengungkapkan telah melihat secara mendalam "jumlah kematian yang berlebih", jumlah kematian tambahan selama pandemi yang dibandingkan dengan waktu biasa, dan dengan tingkat kematian di negara lain.

Saat ini, jumlah kematian Covid-19 di India sejak awal pandemi mencapai total 419.021 jiwa. Jumlah itu menjadikan India negara dengan jumlah kematian Covid-19 ketiga tertinggi di dunia setelah Amerika Serikat dengan 610 ribu kematian dan Brasil dengan 545 ribu kematian.

Studi ini menjadi penelitian terbaru yang meragukan data resmi pemerintah India soal kasus dan kematian Covid-19. Selama ini, banyak ahli menuding pemerintah memanipulasi data Covid-19, di mana banyak kasus dan kematian virus corona yang tidak terhitung.

Awal Maret lalu, India kembali mengalami lonjakan besar kasus Covid-19 setelah sempat melandai dengan puncak penularan terjadi pada awal Mei. Saat itu terdapat lebih dari 400 ribu kasus corona dalam sehari.

Sepuluh hari kemudian, jumlah kematian corona di India memuncak dengan lebih dari 4.000 kematian dalam sehari. Sejak itu, India menjadi salah satu episentrum baru penularan Covid-19 dunia.

Selain sikap abai sebagian warga India terhadap protokol kesehatan, situasi corona di India saat itu juga diperparah dengan kemunculan varian Delta yang lebih menular. Sementara itu, proporsi penduduk yang sudah divaksinasi lengkap masih kurang dari 3 persen dari total hampir 1,4 miliar penduduk India.

(rds/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK