Pembatasan Mobilitas Picu Gelombang Protes di Sejumlah Negara

CNN Indonesia | Minggu, 25/07/2021 15:10 WIB
Lebih dari 100 ribu orang dilaporkan menggelar aksi protes di Australia, Prancis, Italia dan Yunani pada Sabtu (25/7) yang memicu bentrokan dengan polisi. Lebih dari 100 ribu orang dilaporkan menggelar aksi protes di Australia, Prancis, Italia dan Yunani pada Sabtu (25/7) yang memicu bentrokan dengan polisi. Foto: REUTERS/LOREN ELLIOTT
Jakarta, CNN Indonesia --

Lebih dari 100 ribu orang dilaporkan menggelar aksi protes di Australia, Prancis, Italia dan Yunani pada Sabtu (25/7) waktu setempat yang memicu bentrokan dengan polisi.

Sebagaimana dilaporkan AFP, massa menggelar protes lantaran tidak terima dengan sanksi pemerintah terhadap mereka yang tidak divaksinasi. Massa juga mengkritisi  pembatasan mobilitas di masa pandemi yang ditujukan agar masyarakat lebih banyak divaksinasi.

Di Australia, puluhan pengunjuk rasa ditangkap setelah aksi protes mereka di Sydney. Kepolisian setempat mengecap mereka yang ambil bagian dalam aksi tersebut sebagai 'orang bodoh'.


Pihak peserta aksi menjuluki protes mereka sebagai unjuk rasa "kebebasan". Para peserta membawa tanda dan spanduk bertuliskan 'Bangun Australia'.

Sebelumnya juga di Sydney dilaporkan bahwa para demonstran melempari petugas dengan tanaman pot dan botol air karena mereka menentang perintah tinggal di rumah selama sebulan. Aksi tersebut pecah sehari setelah pihak berwenang menyarankan pembatasan dapat tetap berlaku hingga Oktober.

Lalu di Prancis, polisi mengerahkan gas air mata dan meriam air terhadap beberapa pengunjuk rasa. Diperkirakan 160 ribu orang turun ke jalan dalam protes nasional terhadap izin kesehatan Presiden Emmanuel Macron yang secara drastis akan membatasi akses ke restoran dan ruang publik bagi orang-orang yang tidak divaksinasi.

"Freedom, freedom," teriak para demonstran di Prancis, sembari membawa poster bertuliskan 'Macron, Tyrant'.



Sementara itu sekitar 5.000 orang berdemonstrasi di Athena, Yunani dengan membawa poster dengan slogan-slogan seperti, 'Jangan sentuh anak-anak kami' menurut seorang jurnalis AFP, dikutip Minggu (25/4).

Di Italia, para pengunjuk rasa berkumpul di Roma untuk berdemonstrasi menentang aturan "Green Pass" untuk sekadar makan malam dan hiburan dalam ruangan.

Sementara itu Perdana Menteri negara bagian New South Wales Gladys Berejiklian mengaku 'muak' oleh para pengunjuk rasa yang 'tindakan egoisnya' telah membahayakan keselamatan banyak masyarakat.

Sejauh ini kepolisian telah mengeluarkan hampir 100 sanksi dan menangkap 57 orang, sementara di Melbourne tercatat enam orang telah ditangkap.


(AFP/gil)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK