92 Persen Kasus Baru Covid di Malaysia Warga Belum Divaksin

CNN Indonesia | Selasa, 27/07/2021 20:30 WIB
Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia Noor Hisham Abdullah mengatakan sebanyak 92 persen kasus Covid-19 baru di negaranya belum memiliki riwayat vaksinasi. Ilustrasi pandemi virus corona di Malaysia. (AP/Vincent Thian)
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia Noor Hisham Abdullah mengatakan sebanyak 92 persen kasus Covid-19 baru di negaranya belum memiliki riwayat vaksinasi.

Dalam unggahan di Facebook, Noor Hisham membahas hasil diagnosis kasus harian Covid yang berjumlah 14.516 kasus pada Senin (26/7) lalu.

"Secara keseluruhan pada awal didiagnosis 98,2 persen kasus dalam kategori satu hingga dua, dengan 92 persen di antaranya tak memiliki riwayat vaksinasi," kata Noor Hisham, seperti dikutip Malay Mail, Selasa (27/7).


Noor Hisham mengklasifikasikan orang yang terpapar virus corona ke dalam lima kategori. Kategori satu tanpa gejala, kedua gejala ringan, ketiga dengan gejala paru-paru sesak, keempat bagi yang membutuhkan oksigen ekstra dan ke lima kasus paling parah.

Ia lalu menjelaskan lebih rinci. Dari 7.216 kasus dalam kategori satu, 95,6 persen di antaranya belum menerima suntikan vaksin.

Kemudian untuk kategori dua, sebanyak 87,6 persen dari 7.045 kasus juga belum menerima vaksin.

Di kategori tiga, dari 83 kasus sebanyak 67,5 persen belum divaksin. Adapun kategori empat dari 77 kasus sebanyak 85,7 persen di antaranya juga tak divaksin.

Karena 92 persen kasus baru tak memiliki riwayat vaksin, Noor Hisham mendesak masyarakat agar diri dan keluarganya segera diinokulasi.

"Oleh karena itu, segera lakukan vaksinasi agar Anda dan keluarga terlindung dari bahaya infeksi Covid-19," ujarnya dalam pernyataan resmi mengutip Free Malaysia Today.

Dia mengatakan persentase yang lebih tinggi untuk pasien di rumah sakit adalah mereka yang tergolong kategori tiga hingga lima.

"Makanya kalau melihat skenario di rumah sakit, pasien kategori tiga sampai lima lebih tinggi karena kategori satu dan dua diisolasi di rumah, asal mereka punya tempat tinggal," ujar Noor Hisham.

Kasus kategori satu dan dua, karena memiliki risiko rendah bisa isolasi di rumah asal tempat tinggalnya layak, kata Noor Hisham. Hal ini akan membantu mengurangi beban Pusat Karantina dan rumah sakit terutama di Lembah Klang.

Sementara untuk kasus kategori tiga sampai lima yang dianggap sedang dan parah akan ditempatkan di pusat karantina, bangsal rumah sakit, serta Unit Perawatan Intensif.

Hingga kini jumlah penduduk Malaysia yang sudah menerima vaksin penuh sebanyak 5,5 juta atau 17,1 persen.

Sedang total kasus Covid di Malaysia mencapai 1,03 juta dengan angka kematian 8.201 jiwa.

Malaysia tengah menghadapi lonjakan kasus Covid-19 akibat varian Delta. Sejak Juni lalu, pemerintah sudah menetapkan penguncian wilayah.

Pemerintah Malaysia sebelumnya menyatakan akan menghentikan penggunaan vaksin produksi China, Sinovac, untuk program vaksinasi nasional Covid-19 di negara jiran tersebut.

Seperti dilansir Reuters, dalam jumpa pers pada Kamis (15/7), Menteri Kesehatan Malaysia Adham Baba, beralasan penghentian penggunaan Sinovac disebabkan Negeri Jiran masih memiliki jumlah pasokan vaksin lain yang cukup untuk program vaksinasi nasional.

Bernama, memberitakan Malaysia akan berhenti menggunakan Sinovac dan menggantinya dengan Pfizer pada akhir Juli ini.

(isa/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK