Beli Artileri Howitzer AS, Taiwan Sindir Provokasi China

CNN Indonesia | Kamis, 05/08/2021 22:11 WIB
AS sepakat menjual 40 sistem artileri howitzer senilai US$750 juta (Rp10,7 triliun) kepada Taiwan yang tengah memperkuat pertahanan terkait agresi China. Ilustrasi artileri. (Foto: AP/Mark Lennihan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Taiwan berterima kasih kepada Amerika Serikat karena telah menyepakati rencana penjualan 40 sistem artileri howitzer dengan nilai US$750 juta atau sekitar Rp10,7 triliun.

Howitzer yang digadang-gadang menjadi kunci utama menghentikan invasi, memungkinkan militer Taiwan mengarahkan tembakan ke kapal pengangkut pasukan yang masuk ke wilayah itu.

Howitzer menembak dalam sudut tinggi dan memiliki daya penghancur yang sangat besar karena proyektil yang dilontarkan. 


Kementerian Luar Negeri Taiwan mengatakan penjualan senjata kali ini merupakan pertama yang diumumkan sejak Joe Biden menjabat presiden Amerika Serikat, Januari lalu. Kesepakatan itu juga disebut akan membantu pulau itu menghadapi invasi China.

"Menghadapi ekspansi dan provokasi militer China yang terus berlanjut, pemerintah kami akan meningkatkan pertahanan dan keamanan nasional dengan tekad yang teguh untuk membela kehidupan rakyat dan cara hidup kami yang bebas dan demokratis," kata Kemenlu, dikutip AFP, Kamis (5/8).

Kesepakatan itu, lanjut Kemlu Taiwan, juga akan membantu memperkuat pertahanan diri serta perdamaian dan stabilitas kawasan.

Kemlu AS menyetujui penjualan 40 sistem artileri howitzer medium 155mm M109A6 itu pada Rabu (4/8) dan masih membutuhkan persetujuan Kongres.

Meski tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan karena kebijakan Satu China, Washington dan Taipei memiliki perjanjian kerja sama. Pakta kerja sama itu meliputi bidang ekonomi hingga pertahanan.

Dalam perjanjian itu, AS memiliki tanggung jawab membantu Taiwan melindungi diri dari ancaman agresi China.

Beijing mengklaim Taiwan adalah bagian dari wilayahnya bahkan bersumpah akan merebut dengan kekerasan jika diperlukan.

AS juga tidak secara terbuka berkomitmen membela Taiwan, tapi ia menyatakan bahwa setiap perubahan status masa depan pulau itu tak boleh dilakukan dengan paksa.

Membela Taiwan dari invasi China juga telah menjadi masalah bipartisan yang langka di Washington termasuk persetujuan Kongres atas penjualan howitzer.

Taiwan diketahui memiliki pemerintahan sendiri. Namun mereka hidup di bawah ancaman invasi China.

Hubungan China dan Taiwan terus memburuk setelah Taipei dipimpin oleh Presiden Tsai Ing-wen.

Ia merupakan Presiden Taiwan yang pro-demokrasi. Sejak memimpin pada 2016, Tsai terus berupaya mencari pengakuan internasional bagi Taiwan, termasuk dengan mendekatkan diri ke Amerika Serikat.

Namun, Presiden China Xi Jinping, berkeras tidak akan membiarkan Taiwan merdeka. Ia bahkan bersumpah akan melakukan segala cara, termasuk perang militer, demi mempertahankan Taiwan.

(isa/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK