WHO Kirim Tim Lacak Kontak Erat Pasien Virus Marburg Tewas

CNN Indonesia | Kamis, 12/08/2021 21:00 WIB
WHO mengirimkan tim ke Guinea, Afrika Barat, guna melacak orang-orang yang menjalin kontak erat dengan pasien virus Marburg yang baru-baru ini meninggal dunia. Ilustrasi WHO. (AFP/Fabrice Coffrini)
Jakarta, CNN Indonesia --

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengirimkan tim ke Guinea, Afrika Barat, guna melacak orang-orang yang menjalin kontak erat dengan pasien virus Marburg yang baru-baru ini meninggal dunia.

Juru bicara WHO, Fadela Chaib, mengatakan bahwa sejauh ini pihaknya mengetahui sedikitnya empat orang yang menjalin kontak dengan pasien tersebut.

Chaib mengatakan bahwa pasien tersebut sempat mengunjungi fasilitas kesehatan sebelum meninggal dunia.


"Setidaknya empat orang yang kotnak dengannya tidak menunjukkan gejala. Jadi mereka tidak menunjukkan gejala penyakit," kata Chaib pada Rabu (11/8), seperti dikutip African News.

Chaib mengatakan bahwa kasus virus serupa Ebola di Guinea tersebut merupakan yang pertama di Afrika Barat. Wilayah itu juga sempat dilanda wabah Ebola antara 2014-2016 yang menewaskan hingga 11.325 orang.

Sementara itu, Perwakilan WHO di Guinea, Georges Ki-Zerbo, mengatakan sejauh ini Guinea tengah memantau 155 orang yang juga dikabarkan melakukan kontak dengan pasien Marburg tersebut.

"Tidak ada kasus sekunder yang diketahui. Kontak telah dilacak, dan 155 orang berada di bawah pengawasan selama tiga minggu," kata Ki-Zerbo dalam sebuah wawancara seperti dikutip Reuters.

"Ini adalah pengawasan aktif. Orang yang menjalin kontak dikarantina di rumah, diisolasi dari anggota keluarga lainnya. Mereka dikunjungi setiap hari untuk memeriksa potensi gejala."

Ki-Zerbo menuturkan bahwa virus Marburg telah menyebar di kalangan binatang, terutama pada kelelawar di Guinea Selatan, Sierra Leone, serta Liberia.

Patogen cenderung berpindah dari hewan ke manusia di wilayah tersebut karena interaksi yang erat, terutama dalam aktivitas berburu dan memakan "daging" dari alam liar.

WHO menuturkan virus Marburg berasal dari famili sama dengan virus Ebola, yang sempat mewabah di seluruh Afrika, mulai dari Angola hingga Afrika Selatan.

Virus tersebut memiliki tingkat kematian mencapai 88 persen. Namun, WHO menyatakan angka kematian itu bervariasi, bergantung dari jenis dan bagaimana kasus Marburg dikelola.

[Gambas:Video CNN]

Sejumlah gejala dari virus Marburg yang kerap dialami penderita yakni demam tinggi dan nyeri otot. Beberapa pasien bahkan mengalami pendarahan di hidung, mata, dan telinga.

Hingga kini, belum ada obat atau vaksin virus Marburg yang mendapat lisensi WHO. Sejauh ini, perawatan medis dan rehidrasi dilakukan untuk meningkatkan peluang pasien Marburg bertahan hodup.

"Secara global, pendekatan untuk memerangi Marburg tidak akan berbeda dengan Ebola. Satu-satunya perbedaan adalah tidak ada vaksin atau obat yang secara khusus ditujukan untuk virus ini. Hanya perawatan suportif yang tersedia," ucap Ki-Zerbo.

(isa/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK