Taliban dan Kisah Pilu Pengungsi Afghanistan di Indonesia
CNN Indonesia
Rabu, 25 Agu 2021 07:50 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Suara-suara lirih para pengungsu Afghanistan di Indonesia. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --
Muhammad Ibrahim duduk bersila beralaskan terpal di depan Kantor Badan Pengungsi PBB (UNHCR), Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (24/8). Di sebelahnya, dua bocah asik bermain, sambil sesekali melirik ke kumpulan massa.
Siang itu, Ibrahim, dua anak dan istrinya tengah melakukan aksi demonstrasi bersama ratusan pengungsi asal Afghanistan. Tujuan mereka sama, menuntut kejelasan status penempatan.
Tiba di Indonesia 8 tahun silam, Ibrahim menghabiskan lebih dari seperempat hidupnya di Jakarta. Dua anaknya bahkan lahir di Ibu Kota ini. Situasi perang menjadi alasannya lari dari Afghanistan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia tinggal di kos-kosan daerah Tebet, Jakarta Selatan. Karena tak bisa bekerja, ia mengandalkan uang kiriman dari keluarganya di Afghanistan untuk hidup.
Belakangan, ia mengaku sudah tidak memiliki keluarga di tanah konflik tersebut, ibunya belum lama meninggal karena Covid-19.
"Tapi uang sudah habis. Sudah 8 tahun saya tinggal di sini," kata Ibrahim.
Menurut Ibrahim, situasi di Afghanistan belakangan ini sangat buruk. Hal itu seiring dengan Taliban kembali berkuasa setelah menduduki Kabul dan Istana Kepresidenan pada Minggu (15/8), dua dekade setelah mereka digulingkan oleh invasi Amerika Serikat pasca-serangan teror 11 September 2001.
Ibrahim memiliki kesan sendiri terhadap Taliban. Ia menilai tindakan kelompok itu selama ini tidak seperti manusia.
"Taliban telah menguasai banyak wilayah di Afghanistan. Taliban tak seperti manusia. Pemikiran mereka seperti binatang," katanya.
Ia mengaku tidak memilih negara mana untuk penempatan selanjutnya. Yang penting, kata dia, pergi dari Indonesia.
"Hanya (ingin) pergi dari Indonesia. Kami tak punya hak di Indonesia. Kami tidak dapat fasilitas di Indonesia," ucapnya.
Syariat Islam oleh Taliban dipertanyakan, baca di halaman berikutnya...
Serupa dengan Ibrahim, Muhammad Ali juga datang ke Indonesia 9 tahun silam lantaran kondisi di Afghanistan yang menurutnya tidak aman.
"Kalian mungkin sudah tahu negara kami kayak gimaha kondisinya dan keluarga kita. Kami udah 3-4 bulan tidak ada kabar dari keluarga kita. Kita tak tahu mereka itu udah hidup atau belum," kata dia.
Ali memiliki kesan tersendiri terhadap Taliban. Ia mempertanyakan syariat islam seperti apa yang diterapkan oleh kelompok itu.
"Taliban itu, cuma bilangnya islami, tapi enggak tau islami bagaimana? Siapa yang suka keluar dari negaranya, sampai orang sudah masuk pesawat sampai jatuh dari atas itu? Kalau enggak terpaksa enggak akan mau," katanya.
Hasil Pertemuan
Sejumlah perwakilan massa sempat melakukan pertemuan dengan pihak UNHCR dalam demo itu. Pertemuan itu berlangsung sejak siang hingga sore hari.
Salah seorang perwakilan massa, Muhammad Hasan mengatakan dari pertemuan itu, salah satunya disepakati akan dibuat grup lebih lanjut untuk mendiskusikan apa yang menjadi keinginan para pengungsi.
"Mereka berkata kami akan mendengarmu lagi dan tidak akan menolakmu lagi, karena di masa lalu ketika kami datang ke sini, mereka memberi kami waktu, setelah satu bulan, setelah dua bulan, tiga bulan. Tapi sekarang, mereka mengatakan kita harus membuat grup dan akan berdiskusi," kata Hasan.
Hasan juga mengatakan pihak UNHCR sepakat untuk memberikan kepastian penempatan secara adil. Sebab menurut Hasan, beberapa pengungsi yang di Indonesia sejak 2017 sudah mendapat kepastian soal penempatan. Namun di sisi lain, pengungsi dari 2011 masih belum jelas.
"Tapi mereka juga minta kita untuk tidak protes lagi. Kami tidak suka protes, kami protes karena mereka tidak pernah mendengar keinginan kami. Ketika kami mengirimi email, mereka tidak membalas enam bulan, tujuh bulan, itu sebabnya kami datang di jalan," katanya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Muhammad Ibrahim duduk bersila beralaskan terpal di depan Kantor Badan Pengungsi PBB (UNHCR), Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (24/8). Di sebelahnya, dua bocah asik bermain, sambil sesekali melirik ke kumpulan massa.
Siang itu, Ibrahim, dua anak dan istrinya tengah melakukan aksi demonstrasi bersama ratusan pengungsi asal Afghanistan. Tujuan mereka sama, menuntut kejelasan status penempatan.
Tiba di Indonesia 8 tahun silam, Ibrahim menghabiskan lebih dari seperempat hidupnya di Jakarta. Dua anaknya bahkan lahir di Ibu Kota ini. Situasi perang menjadi alasannya lari dari Afghanistan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia tinggal di kos-kosan daerah Tebet, Jakarta Selatan. Karena tak bisa bekerja, ia mengandalkan uang kiriman dari keluarganya di Afghanistan untuk hidup.
Belakangan, ia mengaku sudah tidak memiliki keluarga di tanah konflik tersebut, ibunya belum lama meninggal karena Covid-19.
"Tapi uang sudah habis. Sudah 8 tahun saya tinggal di sini," kata Ibrahim.
Menurut Ibrahim, situasi di Afghanistan belakangan ini sangat buruk. Hal itu seiring dengan Taliban kembali berkuasa setelah menduduki Kabul dan Istana Kepresidenan pada Minggu (15/8), dua dekade setelah mereka digulingkan oleh invasi Amerika Serikat pasca-serangan teror 11 September 2001.
Ibrahim memiliki kesan sendiri terhadap Taliban. Ia menilai tindakan kelompok itu selama ini tidak seperti manusia.
"Taliban telah menguasai banyak wilayah di Afghanistan. Taliban tak seperti manusia. Pemikiran mereka seperti binatang," katanya.
Ia mengaku tidak memilih negara mana untuk penempatan selanjutnya. Yang penting, kata dia, pergi dari Indonesia.
"Hanya (ingin) pergi dari Indonesia. Kami tak punya hak di Indonesia. Kami tidak dapat fasilitas di Indonesia," ucapnya.
Syariat Islam oleh Taliban dipertanyakan, baca di halaman berikutnya...
Mempertanyakan Syariat Islam oleh Taliban
Pengungsi Afghanistan demo di Jakarta. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Serupa dengan Ibrahim, Muhammad Ali juga datang ke Indonesia 9 tahun silam lantaran kondisi di Afghanistan yang menurutnya tidak aman.
"Kalian mungkin sudah tahu negara kami kayak gimaha kondisinya dan keluarga kita. Kami udah 3-4 bulan tidak ada kabar dari keluarga kita. Kita tak tahu mereka itu udah hidup atau belum," kata dia.
Ali memiliki kesan tersendiri terhadap Taliban. Ia mempertanyakan syariat islam seperti apa yang diterapkan oleh kelompok itu.
"Taliban itu, cuma bilangnya islami, tapi enggak tau islami bagaimana? Siapa yang suka keluar dari negaranya, sampai orang sudah masuk pesawat sampai jatuh dari atas itu? Kalau enggak terpaksa enggak akan mau," katanya.
Hasil Pertemuan
Sejumlah perwakilan massa sempat melakukan pertemuan dengan pihak UNHCR dalam demo itu. Pertemuan itu berlangsung sejak siang hingga sore hari.
Salah seorang perwakilan massa, Muhammad Hasan mengatakan dari pertemuan itu, salah satunya disepakati akan dibuat grup lebih lanjut untuk mendiskusikan apa yang menjadi keinginan para pengungsi.
"Mereka berkata kami akan mendengarmu lagi dan tidak akan menolakmu lagi, karena di masa lalu ketika kami datang ke sini, mereka memberi kami waktu, setelah satu bulan, setelah dua bulan, tiga bulan. Tapi sekarang, mereka mengatakan kita harus membuat grup dan akan berdiskusi," kata Hasan.
Hasan juga mengatakan pihak UNHCR sepakat untuk memberikan kepastian penempatan secara adil. Sebab menurut Hasan, beberapa pengungsi yang di Indonesia sejak 2017 sudah mendapat kepastian soal penempatan. Namun di sisi lain, pengungsi dari 2011 masih belum jelas.
"Tapi mereka juga minta kita untuk tidak protes lagi. Kami tidak suka protes, kami protes karena mereka tidak pernah mendengar keinginan kami. Ketika kami mengirimi email, mereka tidak membalas enam bulan, tujuh bulan, itu sebabnya kami datang di jalan," katanya.