Jakarta, CNN Indonesia -- Imbauan Taliban agar perempuan berdiam di rumah dulu dengan dalih sebagian milisnya belum terlatih menghormati, dianggap sebagai lagu lama kelompok itu untuk mengekang kaum hawa di Afghanistan.
Kecurigaan itu muncul di benak beberapa pengamat setelah wakil komite urusan kebudayaan Taliban, Ahmadullah Waseq, meminta perempuan untuk berdiam diri di rumah agar terhindar dari kekerasan milisinya.
"Kami khawatir milisi yang baru dan belum terlatih dengan baik akan memperlakukan perempuan dengan tidak baik. Kami tak ingin pasukan kami menyakiti atau melecehkan perempuan," ujar Waseq.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menegaskan bahwa perempuan masih boleh bekerja di rumah dan tetap mendapatkan gaji, tapi "untuk saat ini, kami meminta mereka tetap di rumah hingga situasi normal. Sekarang masih situasi militer."
Direktur urusan hak perempuan Human Rights Watch, Heather Barr, mengatakan bahwa Taliban juga menggunakan alasan serupa saat pertama kali berkuasa di Afghanistan pada 1996-2001.
"Penjelasannya adalah keamanannya belum baik, dan mereka menunggu sampai keamanan lebih baik, baru kemudian perempuan mendapatkan kebebasan," ujar Barr kepada The New York Times.
Ia kemudian berkata, "Namun, tentu saja selama mereka berkuasa saat itu, momen itu tak pernah terwujud, dan saya bisa menjamin perempuan Afghanistan yang mendengar [janji] itu sekarang juga berpikir semua tak akan terwujud juga kali ini."
Kecurigaan serupa juga keluar dari mulut penasihat krisis senior untuk Amnesty International, Brian Castner. Ia menekankan bahwa Taliban belum benar-benar menunjukkan tekadnya untuk melatih pasukan agar menghormati perempuan.
"Kalian tak bisa melihat pergerakan seperti Taliban, yang sudah beroperasi dengan kelakuan tertentu selama 25 tahun, lalu kemudian hanya karena mereka mengambil alih pemerintahan, semua pasukan dan orang-orang di organisasi itu langsung bersikap berbeda," tutur Castner.
Seorang jurnalis senior yang kerap meliput Taliban dari dekat, Najieb Khaja, pun mengakui bahwa sulit mengubah perilaku keseluruhan kelompok itu karena begitu banyak lapisan di dalamnya.
"Taliban sangat beragam. Ada beberapa lapis berbeda dalam kelompok ini. Ada yang bergaya hidup internasional, bertemu dengan para pemimpin politik, berjumpa orang-orang dengan pandangan politik berbeda di Doha dan negara lain. Mereka bisa duduk bersama orang lain dan berbincang," kata Khaja kepada CNN.
"Namun, ada pula yang hidup di bawah radar di Afghanistan dan Pakistan. Orang-orang ini tidak sepragmatis dan fleksibel orang-orang yang biasa kita lihat di media. Mereka tidak takut AS. Mereka terbiasa berperang, melihat temannya tewas."
Khaja menjelaskan, kelompok-kelompok Taliban yang konservatif biasanya berasal dari wilayah selatan, seperti Kandahar. Sementara itu, anggota-anggota di kawasan timur Afghanistan biasanya lebih progresif.
Ia lantas bercerita pengalamannya bertemu dengan seorang anggota Taliban dari Kandahar, beberapa hari setelah kelompok itu mengambil alih kekuasaan di Afghanistan.
Saat itu, Khaja mencoba melakukan liputan ke salah satu universitas karena seharusnya sudah buka setelah masa libur. Namun ternyata, libur diperpanjang.
Khaja kemudian bertanya kepada anggota Taliban yang ada di lokasi, "Apakah ada perintah dari atas tentang para perempuan?" Anggota Taliban itu kemudian menjawab, "Perempuan tidak bisa masuk."
Kisah berlanjut di halaman selanjutnya...>>>
Friksi Taliban dan Mempertanyakan Angan Afghanistan Lebih Moderat
Foto: AFP/WAKIL KOHSAR
Beberapa hari kemudian, Khaja bertemu dengan beberapa anggota Taliban lainnya dan memberi tahu tentang kejadian tersebut.
"Mereka seperti sangat marah dan mengatakan, 'Dia tidak boleh melakukan itu. Itu bertentangan dengan Islam,'" kata Khaja bercerita.
Castner selaku peneliti dari Amnesty International pun mengakui kerap ada perbedaan antara retorika para pemimpin Taliban dan perlakuan anggotanya di lapangan.
Ia kemudian menyoroti laporan yang diterima Amnesty International mengenai sejumlah anggota Taliban memegang daftar nama orang-orang incaran.
Orang-orang dalam daftar itu biasanya mereka yang membantu pasukan asing selama Presiden Ashraf Ghani masih berkuasa. Para anggota Taliban itu mencari orang-orang tersebut dari rumah ke rumah.
Tindakan ini bertolak belakang dengan pernyataan pimpinan Taliban. Setelah berkuasa, para pemimpin menyatakan tak akan mengganggu orang-orang yang membantu pasukan asing sebelumnya.
[Gambas:Video CNN]
Menurut Castner, tak mungkin operasi semacam itu dilakukan perorangan. Ia menduga ada satu sistem lama yang masih dijalankan, tak sesuai dengan janji Taliban untuk berlaku lebih moderat.
"Jika seorang anggota Taliban melakukan pelanggaran HAM, mungkin hanya kekerasan biasa. Namun, jika ada sesuatu yang dilakukan sistematis, seperti mencari orang dari rumah ke rumah, itu tak dilakukan oleh pasukan yang tak terlatih. Ada sistem yang bekerja," katanya.
Castner lantas berkata, "Retorika [para pemimpin Taliban] hanya untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi."