Coreng-moreng Reputasi AS 'Dibom' Teror Bandara Afghanistan
Anisa Dewi | CNN Indonesia
Sabtu, 28 Agu 2021 11:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Serangan bom saat proses evakuasi di bandara Kabul dianggap mencoreng reputasi Amerika Serikat di tengah upaya Paman Sam mempertahankan pengaruh global. (AFP/Wakil Kohsar)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kesalahan prediksi kejatuhan Afghanistan ke tangan Taliban hingga kekacauan akibat serangan bom saat proses evakuasi di bandara Kabul dianggap mencoreng reputasi Amerika Serikat di tengah upaya Paman Sam mempertahankan pengaruh global.
Para pengamat sudah memantau keterpurukan citra AS ini setelah Washington mengakui bahwa mereka salah perhitungan dan tak menyangka Taliban dapat menguasai Afghanistan dalam waktu sangat singkat.
Pertaruhan reputasi itu terus menjadi perhatian karena banyak kekacauan selama proses evakuasi warga berlangsung di bandara Kabul. Puncaknya, dua bom meledak di bandara dan menewaskan setidaknya 90 orang, juga belasan personel militer AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Aleksius Jemadu, sampai-sampai menganggap serangan yang diklaim ISIS-K ini sebagai kegagalan AS.
"Reputasi AS tentu saja tergerus oleh kegagalan ini karena membiarkan puluhan nyawa melayang secara sia-sia. Koordinasi AS sedang kacau dan merosot," kata Aleksius kepada CNNIndonesia.com.
Aleksius memandang ledakan di Kabul merupakan kegagalan intelijen AS yang tidak memperhitungkan segala kemungkinan keamanan di wilayah konflik, yang baru diambil alih oleh Taliban.
"Estimasi waktu Biden begitu meleset dari dinamika lapangan. AS sedang telan pil pahit dari kegagalan strategi untuk exit (keluar) dari wilayah yang didudukinya," kata Aleksius.
Menarik waktu sedikit ke belakang, Aleksius juga menganggap strategi evakuasi AS ini sudah patut dipertanyakan sejak awal.
Ia melihat manajemen informasi internal antar-instansi AS, seperti Kementerian luar negeri, Kementerian Pertahanan, staf diplomatik di Afghanistan, dan koordinasi dengan sekutu NATO mengenai berbagai skenario evakuasi termasuk aspek keamanannya terlihat cukup kacau.
"Ketika AS masih pegang kendali di Afghanistan mengapa ini tidak dilakukan? Mengevakuasi puluhan ribu orang dari wilayah konflik yang sudah di tangan musuh, jelas risiko keamanannya sangat tinggi. Mengapa hasilnya seperti ini?" kata Aleksius.
Pertanyaan Aleksius ini juga sempat menjadi bahan pembahasan banyak pengamat, terutama setelah surat kawat dari para diplomat di Kedutaan Besar AS di Kabul terkuak dalam pemberitaan The Wall Street Journal pekan lalu.
Dalam memo bertanggal 13 Juli itu, staf kedutaan terlihat sudah memperingatkan bahaya karena Taliban kian beringas dan diperkirakan bakal menguasai Afghanistan dalam waktu dekat.
Mereka menekankan bahwa AS harus segera mengevakuasi warga Afghanistan yang selama ini membantu misi Washington di negara tersebut.
Dua sumber dari Kementerian Luar Negeri AS mengatakan kepada CNN bahwa para diplomat itu mengirimkan surat kawat karena merasa peringatan dan rekomendasi mereka sebelumnya selalu diabaikan.
Seorang sumber lain mengatakan bahwa Kemlu AS baru merespons surat kabel itu beberapa hari setelah dikirim.
Menurut Aleksius, sistem komunikasi antar-lembaga AS memang sangat kacau.
"Reputasi AS dipertaruhkan. Ada kombinasi ketergesa-gesaan, ancaman keamanan yang imminent (dekat), miskalkulasi intelijen, dan dinamika di lapangan yang sangat cepat," ujarnya.
Ia juga berkata, "Tampak sekali ada banyak hal yang tidak dipikirkan oleh intelijen AS sebelumnya."
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, juga memiliki pandangan serupa. Lebih jauh, Rezasyah menganggap AS akan menjadi bulan-bulanan dunia jika pemerintahan Joe Biden gagal melakukan evakuasi dengan baik hingga tenggat waktu pada 31 Agustus.
"Artinya, ia (AS) tidak sanggup lagi mengelola kepentingannya sendiri. Bagaimana Anda menjadi pengendali keamanan global?" ucap Rezasyah.
Senada dengan Rezasyah, Aleksius juga menganggap AS harus berhati-hati karena reputasinya yang kian tergerus di mata sekutu, terutama karena kemampuan intelijennya yang dipertanyakan.
Sekutu AS, katanya, perlu mendapat jaminan baru bahwa intelijen internasional negara itu benar-benar bisa bekerja profesional secara akurat dan siap berbagi informasi di waktu yang tepat.
"Jika tidak, sekutunya agak enggan untuk burden sharing (berbagi beban) lagi ke depan," ujar Aleksius.
Aleksius menganggap AS memang tak akan sampai ditinggal sekutunya dan masih menjadi negara adidaya. Namun, kekuatan AS akan dipertanyakan karena saat ini Negeri Paman Sam sangat membutuhkan konsolidasi kuat dengan sekutu-sekutunya.
Ia menganggap konsolidasi ini sangat penting di tengah peningkatan dominasi China di wilayah Asia, juga Rusia di bagian Eropa.
Serupa, Rezasyah pun mempertanyakan kemampuan AS mempertahankan strategi besar di Indo-Pasifik, kawasan yang disebut-sebut bakal menjadi prioritas Washington setelah hengkang dari Afghanistan.
"Jadi berat sekali AS sekarang. Dia keluar dari Afghanistan dan dia ingin mengalihkan energi dia ke Indo-pasifik. Dan Indo-Pasifik itu, dia berhadapan dengan China kembali, dan dengan China tersebut dia kesulitan," ucapnya.
Meski kini reputasi AS tercoreng, Rezasyah memperkirakan citra Negeri Paman Sam akan berangsur pulih.
"Untuk jangka pendek, reputasi AS menurun. Namun biasanya, dengan diplomasi publiknya, reputasi AS dapat pulih dengan cepat," kata Rezasyah.
Jakarta, CNN Indonesia --
Kesalahan prediksi kejatuhan Afghanistan ke tangan Taliban hingga kekacauan akibat serangan bom saat proses evakuasi di bandara Kabul dianggap mencoreng reputasi Amerika Serikat di tengah upaya Paman Sam mempertahankan pengaruh global.
Para pengamat sudah memantau keterpurukan citra AS ini setelah Washington mengakui bahwa mereka salah perhitungan dan tak menyangka Taliban dapat menguasai Afghanistan dalam waktu sangat singkat.
Pertaruhan reputasi itu terus menjadi perhatian karena banyak kekacauan selama proses evakuasi warga berlangsung di bandara Kabul. Puncaknya, dua bom meledak di bandara dan menewaskan setidaknya 90 orang, juga belasan personel militer AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Aleksius Jemadu, sampai-sampai menganggap serangan yang diklaim ISIS-K ini sebagai kegagalan AS.
"Reputasi AS tentu saja tergerus oleh kegagalan ini karena membiarkan puluhan nyawa melayang secara sia-sia. Koordinasi AS sedang kacau dan merosot," kata Aleksius kepada CNNIndonesia.com.
Aleksius memandang ledakan di Kabul merupakan kegagalan intelijen AS yang tidak memperhitungkan segala kemungkinan keamanan di wilayah konflik, yang baru diambil alih oleh Taliban.
"Estimasi waktu Biden begitu meleset dari dinamika lapangan. AS sedang telan pil pahit dari kegagalan strategi untuk exit (keluar) dari wilayah yang didudukinya," kata Aleksius.
Menarik waktu sedikit ke belakang, Aleksius juga menganggap strategi evakuasi AS ini sudah patut dipertanyakan sejak awal.
Ia melihat manajemen informasi internal antar-instansi AS, seperti Kementerian luar negeri, Kementerian Pertahanan, staf diplomatik di Afghanistan, dan koordinasi dengan sekutu NATO mengenai berbagai skenario evakuasi termasuk aspek keamanannya terlihat cukup kacau.
"Ketika AS masih pegang kendali di Afghanistan mengapa ini tidak dilakukan? Mengevakuasi puluhan ribu orang dari wilayah konflik yang sudah di tangan musuh, jelas risiko keamanannya sangat tinggi. Mengapa hasilnya seperti ini?" kata Aleksius.
Pertanyaan Aleksius ini juga sempat menjadi bahan pembahasan banyak pengamat, terutama setelah surat kawat dari para diplomat di Kedutaan Besar AS di Kabul terkuak dalam pemberitaan The Wall Street Journal pekan lalu.
Dalam memo bertanggal 13 Juli itu, staf kedutaan terlihat sudah memperingatkan bahaya karena Taliban kian beringas dan diperkirakan bakal menguasai Afghanistan dalam waktu dekat.
Mereka menekankan bahwa AS harus segera mengevakuasi warga Afghanistan yang selama ini membantu misi Washington di negara tersebut.
Dua sumber dari Kementerian Luar Negeri AS mengatakan kepada CNN bahwa para diplomat itu mengirimkan surat kawat karena merasa peringatan dan rekomendasi mereka sebelumnya selalu diabaikan.
Seorang sumber lain mengatakan bahwa Kemlu AS baru merespons surat kabel itu beberapa hari setelah dikirim.
Menurut Aleksius, sistem komunikasi antar-lembaga AS memang sangat kacau.
"Reputasi AS dipertaruhkan. Ada kombinasi ketergesa-gesaan, ancaman keamanan yang imminent (dekat), miskalkulasi intelijen, dan dinamika di lapangan yang sangat cepat," ujarnya.
Ia juga berkata, "Tampak sekali ada banyak hal yang tidak dipikirkan oleh intelijen AS sebelumnya."
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, juga memiliki pandangan serupa. Lebih jauh, Rezasyah menganggap AS akan menjadi bulan-bulanan dunia jika pemerintahan Joe Biden gagal melakukan evakuasi dengan baik hingga tenggat waktu pada 31 Agustus.
"Artinya, ia (AS) tidak sanggup lagi mengelola kepentingannya sendiri. Bagaimana Anda menjadi pengendali keamanan global?" ucap Rezasyah.
Dapatkah AS Mempertahankan Reputasi di Mata Global?
Serangan bom saat proses evakuasi di bandara Kabul dianggap mencoreng reputasi Amerika Serikat di tengah upaya Paman Sam mempertahankan pengaruh global. (AFP/Wakil Kohsar)
Senada dengan Rezasyah, Aleksius juga menganggap AS harus berhati-hati karena reputasinya yang kian tergerus di mata sekutu, terutama karena kemampuan intelijennya yang dipertanyakan.
Sekutu AS, katanya, perlu mendapat jaminan baru bahwa intelijen internasional negara itu benar-benar bisa bekerja profesional secara akurat dan siap berbagi informasi di waktu yang tepat.
"Jika tidak, sekutunya agak enggan untuk burden sharing (berbagi beban) lagi ke depan," ujar Aleksius.
Aleksius menganggap AS memang tak akan sampai ditinggal sekutunya dan masih menjadi negara adidaya. Namun, kekuatan AS akan dipertanyakan karena saat ini Negeri Paman Sam sangat membutuhkan konsolidasi kuat dengan sekutu-sekutunya.
Ia menganggap konsolidasi ini sangat penting di tengah peningkatan dominasi China di wilayah Asia, juga Rusia di bagian Eropa.
Serupa, Rezasyah pun mempertanyakan kemampuan AS mempertahankan strategi besar di Indo-Pasifik, kawasan yang disebut-sebut bakal menjadi prioritas Washington setelah hengkang dari Afghanistan.
"Jadi berat sekali AS sekarang. Dia keluar dari Afghanistan dan dia ingin mengalihkan energi dia ke Indo-pasifik. Dan Indo-Pasifik itu, dia berhadapan dengan China kembali, dan dengan China tersebut dia kesulitan," ucapnya.
Meski kini reputasi AS tercoreng, Rezasyah memperkirakan citra Negeri Paman Sam akan berangsur pulih.
"Untuk jangka pendek, reputasi AS menurun. Namun biasanya, dengan diplomasi publiknya, reputasi AS dapat pulih dengan cepat," kata Rezasyah.