Australia Proses Hukum Warga Penyebar Rencana Kudeta Palsu

isa, CNN Indonesia
Jumat, 10/09/2021 21:56
Perdana Menteri Australia. Scott Morrison. (Foto: Nicholas Kamm / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepolisian Australia mendakwa seorang perempuan karena dituduh menyebarkan rencana kudeta palsu. perempuan itu menyebarkan rekaman palsu suara Kepala Kepolisian Australia yang menyerukan penggulingan terhadap pemerintah.

Awal tahun ini, sebuah klip suara berdurasi 43 menit beredar berisi percakapan Komisioner Kepolisian Federal menyerukan pengikut membantu menggulingkan pemerintah. Audio itu disebut telah diakses 100 ribu kali.

Rekaman suara itu memaparkan daftar keluhan hingga sindiran terkait penanganan pemerintah terhadap pandemi Covid-19 dan vaksinasi.


Dalam klip tersebut, terdengar pula seruan kepada masyarakat untuk ikut kudeta dan melakukan penangkapan besar-besaran terhadap pejabat tinggi Australia dan membubarkan pemerintah dengan paksa jika perlu.

"Orang-orang di atas akan dicopot dari posisinya," kata seorang laki-laki dalam rekaman tersebut berpura-pura menjadi komisaris polisi seperti dikutip AFP.

"Ini bukan permainan berdarah, mungkin ada saatnya hidup Anda terancam," katanya menambahkan.

Polisi memastikan rekaman itu palsu dan menangkap dua orang, seorang pria di Australia Barat dan perempuan tersebut di Australia Selatan.

Perempuan berusia 49 tahun itu pun didakwa menyamar sebagai petugas polisi dan membantu menyelundupkan lebih dari 400 lencana polisi federal palsu dari luar negeri.

Asisten komisaris polisi untuk kontra-terorisme, Scott Lee, mengatakan polisi sedang melanjutkan penyelidikan dan mungkin akan melakukan penangkapan lebih lanjut.

"Menyamar sebagai pejabat negara dan potensi penyalahgunaan lencana Kepolisian Australia adalah sesuatu yang kami anggap sangat serius, ini tercermin dalam penyelidikan yang sedang berlangsung dan tindakan yang diambil hari ini," kata Lee seperti dikutip AFP.

Sebagian besar lencana polisi palsu itu dilaporkan telah ditemukan. Sejauh ini, pihak berwenang mengatakan tidak memiliki bukti ancaman yang akan mengintai keselamatan masyarakat dari kedua tersangka.

"Belum menemukan bukti bahwa kelompok itu memiliki kemampuan melakukan tindakan yang telah mereka diskusikan," kata Lee.

Pandemi Covid-19 memang meningkatkan misinformasi dan teori konspirasi di Australia. Sejumlah pihak terinspirasi dari teori konspirasi luar negeri, terutama dari Amerika Serikat.

Australia pernah beberapa kali menghadapi demonstrasi besar atas keputusan pemerintah menerapkan lockdown Covid-19.

Saat ini, Australia masih menghadapi gelombang baru Covid-19 yang diperparah dengan penyebaran varian Delta corona sama seperti kebanyakan negara lainnya. Padahal, Australia sempat mencatat nihil kasus Covid-19 di beberapa wilayah.



(isa/rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
BACA JUGA
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK