Deret Aksi Perempuan Afghanistan Lawan Kekangan Taliban
CNN Indonesia
Rabu, 15 Sep 2021 11:23 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Kaum perempuan Afghanistan menggelar unjuk rasa menentang rezim Taliban. (Reuters/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia --
Rezim Taliban kian membatasi perempuan. Namun, perempuan Afghanistan tetap berani melawan kekangan tersebut.
Tak takut dengan keselamatan mereka, sejumlah perempuan di Afghanistan ada yang berdemo untuk menuntut hak mereka. Taliban dikenal seringkali membatasi ruang gerak perempuan, salah satunya mengharuskan perempuan pergi bersama wali laki-lakinya.
Berikut aksi-aksi perempuan di Afghanistan yang berani menentang kekangan Taliban:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Berani Demo Meski Berujung Cambuk
Sekitar 20 perempuan berkumpul membawa mikrofon, menuntut hak mereka untuk edukasi, bekerja, dan masuk dalam pemerintahan di kota Kabul. Walaupun kerap diawasi pasukan bersenjata Taliban, demonstrasi ini tetap dilakukan.
Salah satu poster demonstran mengatakan, "kebebasan adalah moto kami. Itu adalah hal yang kami banggakan," dilansir France24.
Ada pula demonstran yang dicambuk saat menyuarakan pendapatnya atas pemerintah Taliban yang tak memasukkan perempuan dalam kabinet Afghanistan.
Seperti diketahui sebelumnya, kabinet Taliban yang diumumkannya pada beberapa waktu lalu hanya terisi laki-laki. Keputusan ini sangat disayangkan karena Taliban sebelumnya berjanji untuk memberikan hak perempuan dan pemerintahan yang inklusif.
Salah satu perempuan peserta demonstrasi mengatakan kepada CNN bahwa Taliban menggunakan cambuk hingga tongkat untuk membubarkan massa yang berdemo.
Pendemo itu juga membawa poster bertuliskan, "Sebuah kabinet tanpa perempuan adalah pecundang. Pecundang."
2. Unggah Foto Tanpa Hijab dengan Gaun Tradisional
Para perempuan di Afghanistan beramai-ramai mengunggah foto mereka sedang berpose menggunakan pakaian daerah tanpa hijab. Aksi itu sebagai bentuk protes akan kebijakan pemerintah era Taliban yang mengekang kaum hawa dengan mewajibkan niqab di institusi pendidikan.
Seorang mantan murid di salah satu fakultas di American University of Afghanistan, Bahar Jalali, menjadi pelopor kampanye ini. Ia mengunggah fotonya di Twitter menggunakan gaun warna-warna tanpa hijab.
"Saya mengunggah foto saya menggunakan pakaian tradisional Afghanistan untuk menginformasikan, mendidik, dan menghilangkan informasi yang salah yang disebarkan oleh Taliban," tulis Jalali.
Seperti diketahui sebelumnya, Taliban mengunggah foto perempuan Afghanistan dengan gaun, hijab, dan cadar berwarna hitam. Dalam foto itu, terlihat para perempuan tadi membawa bendera Taliban.
Sejumlah perempuan Afghanistan juga ikut mendukung aksi protes ini. Salah satunya Waslat Hasrat-Nazimi, kepala bagian Afghanistan, di DW News. Ia menyebarkan foto dirinya menggunakan pakaian tradisional Afghanistan dan hiasan kepala.
"Ini adalah budaya Afghanistan dan ini adalah cara berpakaian wanita Afghanistan," tulisnya.
Baca lagi di halaman berikutnya...
3. Berani Bekerja Meskipun Diwanti-wanti Taliban
Beberapa perempuan Afghanistan mulai kembali bekerja setelah Taliban berkuasa. Rabia Jamal adalah salah satunya. Ia adalah seorang pekerja di bandara Kabul yang sempat tak beroperasi setelah tentara AS dan sekutu resmi hengkang dari Afghanistan pada akhir Agustus 2021.
Rabia Jamal memberanikan diri untuk kembali bekerja meski Taliban menyatakan perempuan harus tinggal di rumah demi keamanan mereka sendiri.
"Saya butuh uang untuk menghidupi keluarga. Saya merasakan ketegangan di rumah. Saya merasa sangat tidak enak, tapi sekarang merasa lebih baik," ucap Rabia Jamal seperti dilansir AFP, Minggu (12/9).
Sebelumnya, lebih dari 80 perempuan bekerja di bandara Kabul. Kini, hanya sekitar 12 perempuan yang kembali bekerja di sana.
Mereka adalah perempuan terpilih yang diizinkan kembali bekerja oleh Taliban. Sementara perempuan lainnya masih menunggu keputusan Taliban terkait perizinan mereka bekerja.
4. Jurnalis Perempuan Afghanistan Tetap Liputan
Beberapa jurnalis perempuan di berbagai media Afghanistan, seperti TOLO News, Ariana TV, dan Etilaatroz, tetap berani melakukan liputan dan melaporkan berbagai kejadian di negara itu setelah Taliban berkuasa.
Hasiba Atakpal, seorang reporter TOLO News, telah menjadi salah satu wajah media Afghanistan yang melaporkan berbagai peristiwa di Kabul. Ketika Taliban mengurung para perempuan di rumah, Atakpal terus melaporkan kejadian itu secara rinci, dilansir The Quint.
Jurnalis lainnya, Zahra Rahimi, terus melaporkan situasi Afghanistan ke dunia. Begitu pula, Sakina Amiri, seorang reporter di harian Afghanistan Etilaatroz yang berkesempatan mewawancarai anggota Taliban.
"Mereka mengatakan kepada saya bahwa pakaian saya tidak Islami. Kami berbicara tentang jilbab Islami dan alasan mengapa jilbab dianggap Islami," tulisnya di Twitter.
Pembawa berita TOLO News, Beheshta Arghand, juga sempat mewawancarai seorang pejabat tinggi Taliban pada 17 Agustus lalu. Presenter dari Ariana TV, Nasrin Shirzad, juga terus melakukan tugasnya sebagai pembawa berita terkini Afghanistan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Rezim Taliban kian membatasi perempuan. Namun, perempuan Afghanistan tetap berani melawan kekangan tersebut.
Tak takut dengan keselamatan mereka, sejumlah perempuan di Afghanistan ada yang berdemo untuk menuntut hak mereka. Taliban dikenal seringkali membatasi ruang gerak perempuan, salah satunya mengharuskan perempuan pergi bersama wali laki-lakinya.
Berikut aksi-aksi perempuan di Afghanistan yang berani menentang kekangan Taliban:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Berani Demo Meski Berujung Cambuk
Sekitar 20 perempuan berkumpul membawa mikrofon, menuntut hak mereka untuk edukasi, bekerja, dan masuk dalam pemerintahan di kota Kabul. Walaupun kerap diawasi pasukan bersenjata Taliban, demonstrasi ini tetap dilakukan.
Salah satu poster demonstran mengatakan, "kebebasan adalah moto kami. Itu adalah hal yang kami banggakan," dilansir France24.
Ada pula demonstran yang dicambuk saat menyuarakan pendapatnya atas pemerintah Taliban yang tak memasukkan perempuan dalam kabinet Afghanistan.
Seperti diketahui sebelumnya, kabinet Taliban yang diumumkannya pada beberapa waktu lalu hanya terisi laki-laki. Keputusan ini sangat disayangkan karena Taliban sebelumnya berjanji untuk memberikan hak perempuan dan pemerintahan yang inklusif.
Salah satu perempuan peserta demonstrasi mengatakan kepada CNN bahwa Taliban menggunakan cambuk hingga tongkat untuk membubarkan massa yang berdemo.
Pendemo itu juga membawa poster bertuliskan, "Sebuah kabinet tanpa perempuan adalah pecundang. Pecundang."
2. Unggah Foto Tanpa Hijab dengan Gaun Tradisional
Para perempuan di Afghanistan beramai-ramai mengunggah foto mereka sedang berpose menggunakan pakaian daerah tanpa hijab. Aksi itu sebagai bentuk protes akan kebijakan pemerintah era Taliban yang mengekang kaum hawa dengan mewajibkan niqab di institusi pendidikan.
Seorang mantan murid di salah satu fakultas di American University of Afghanistan, Bahar Jalali, menjadi pelopor kampanye ini. Ia mengunggah fotonya di Twitter menggunakan gaun warna-warna tanpa hijab.
"Saya mengunggah foto saya menggunakan pakaian tradisional Afghanistan untuk menginformasikan, mendidik, dan menghilangkan informasi yang salah yang disebarkan oleh Taliban," tulis Jalali.
Seperti diketahui sebelumnya, Taliban mengunggah foto perempuan Afghanistan dengan gaun, hijab, dan cadar berwarna hitam. Dalam foto itu, terlihat para perempuan tadi membawa bendera Taliban.
Sejumlah perempuan Afghanistan juga ikut mendukung aksi protes ini. Salah satunya Waslat Hasrat-Nazimi, kepala bagian Afghanistan, di DW News. Ia menyebarkan foto dirinya menggunakan pakaian tradisional Afghanistan dan hiasan kepala.
"Ini adalah budaya Afghanistan dan ini adalah cara berpakaian wanita Afghanistan," tulisnya.
Baca lagi di halaman berikutnya...
Deret Aksi Perempuan Afghanistan Lawan Kekangan Taliban - Halaman 2
Taliban mewajibkan sekat pembatas dalam kegiatan sekolah di Afghanistan. (AFP/AAMIR QURESHI)
3. Berani Bekerja Meskipun Diwanti-wanti Taliban
Beberapa perempuan Afghanistan mulai kembali bekerja setelah Taliban berkuasa. Rabia Jamal adalah salah satunya. Ia adalah seorang pekerja di bandara Kabul yang sempat tak beroperasi setelah tentara AS dan sekutu resmi hengkang dari Afghanistan pada akhir Agustus 2021.
Rabia Jamal memberanikan diri untuk kembali bekerja meski Taliban menyatakan perempuan harus tinggal di rumah demi keamanan mereka sendiri.
"Saya butuh uang untuk menghidupi keluarga. Saya merasakan ketegangan di rumah. Saya merasa sangat tidak enak, tapi sekarang merasa lebih baik," ucap Rabia Jamal seperti dilansir AFP, Minggu (12/9).
Sebelumnya, lebih dari 80 perempuan bekerja di bandara Kabul. Kini, hanya sekitar 12 perempuan yang kembali bekerja di sana.
Mereka adalah perempuan terpilih yang diizinkan kembali bekerja oleh Taliban. Sementara perempuan lainnya masih menunggu keputusan Taliban terkait perizinan mereka bekerja.
4. Jurnalis Perempuan Afghanistan Tetap Liputan
Beberapa jurnalis perempuan di berbagai media Afghanistan, seperti TOLO News, Ariana TV, dan Etilaatroz, tetap berani melakukan liputan dan melaporkan berbagai kejadian di negara itu setelah Taliban berkuasa.
Hasiba Atakpal, seorang reporter TOLO News, telah menjadi salah satu wajah media Afghanistan yang melaporkan berbagai peristiwa di Kabul. Ketika Taliban mengurung para perempuan di rumah, Atakpal terus melaporkan kejadian itu secara rinci, dilansir The Quint.
Jurnalis lainnya, Zahra Rahimi, terus melaporkan situasi Afghanistan ke dunia. Begitu pula, Sakina Amiri, seorang reporter di harian Afghanistan Etilaatroz yang berkesempatan mewawancarai anggota Taliban.
"Mereka mengatakan kepada saya bahwa pakaian saya tidak Islami. Kami berbicara tentang jilbab Islami dan alasan mengapa jilbab dianggap Islami," tulisnya di Twitter.
Pembawa berita TOLO News, Beheshta Arghand, juga sempat mewawancarai seorang pejabat tinggi Taliban pada 17 Agustus lalu. Presenter dari Ariana TV, Nasrin Shirzad, juga terus melakukan tugasnya sebagai pembawa berita terkini Afghanistan.