Covid Tembus 2 Juta, PM Malaysia Ingin Longgarkan Lockdown

CNN Indonesia | Rabu, 15/09/2021 14:39 WIB
PM Malaysia ingin menghentikan lockdown meski Covid-19 di Negeri Jiran masih melonjak hingga tembus 2 juta kasus. PM Malaysia Ismail Sabri Yaakob khawatir lockdown lama-lama bisa mempengaruhi kesehatan mental warga. (Foto: AP/Vincent Thian)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Malaysia, Ismail Sabri Yaakob, menganggap penutupan wilayah (lockdown) tak lagi tepat. Ia berencana melonggarkan pembatasan selama pandemi Covid-19 dengan membuka belasan sektor ekonomi demi pemulihan finansial negara.

Padahal, lonjakan infeksi Covid-19 Malaysia masih terbilang tinggi. Total kasus Covid-19 di Negeri Jiran mencapai 2 juta lebih pada Selasa (14/9).

"Pembukaan kembali 11 sektor ekonomi di negara bagian di bawah Fase 1 dari rencana Pemulihan Nasional (NRP) adalah hal tepat, karena tingkat vaksinasi yang tinggi di negara bagian," ucap Ismail Sabri seperti dikutip The Star, Rabu (14/9).


Pemerintah, kata Ismail Sabri, telah mengambil keputusan usai mempertimbangkan data dari penilaian risiko yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perdagangan, dan Konsumen dalam Negeri.

Ismail Sabri mengatakan relaksasi lockdown dilakukan karena khawatir kebijakan penutupan itu hanya akan memberi dampak negatif, termasuk terhadap kesehatan mental warga Malaysia.

Ia menuturkan pencabutan lockdown tak hanya akan mempercepat pemulihan ekonomi, tapi juga memberikan kesepatan waga meningkatkan kesejahteraan hidup.

Ismail Sabri mengatakan berbagai sektor perekonomian akan dibuka kembali secara bertahap dengan aturan protokol kesehatan yang ketat. Salah satunya adalah hanya mengizinkan konsumen dan pekerja yang sudah divaksinasi secara penuh.

Ismail Sabri mengatakan 74 persen populasi penduduk dewasa Malaysia telah rampung divaksinasi, sementara itu sekitar 91,6 persen setidaknya telah menerima dosis pertama vaksin Covid-19.

Saat ditanya apakah keputusan tersebut juga mempertimbangkan risiko infeksi Covid untuk populasi yang tidak divaksin seperti anak usia 17 tahun ke bawah, Ismail Sabri hanya mengatakan tanggung jawab ada pada semua orang untuk menjaga kedisiplinan protokol kesehatan demi melindungi keluarga dan orang sekitar risiko infeksi virus corona.

"Masa depan negara kita berkaitan dengan covid-19, bergantung dengan kita," kata Ismail Sabri seperti dikutip The Straits Times.

"Kita tak bisa bergantung pada vaksin saja. Pengendalian diri sangat penting atau semua usaha kita akan sia-sia," paparnya menambahkan.

Beberapa pihak menyangsikan pelonggaran yang dilakukan pemerintah, mengingat angka kematian harian Covid-19 di Malaysia juga masih di angka ratusan per hari.

Namun Ismail Sabri mengatakan keputusan itu dilakukan berdasarkan sains dan data.



(isa/rds/bac)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK