AS Bujuk Prancis yang 'Ngambek' karena Kapal Selam Nuklir

CNN Indonesia | Jumat, 17/09/2021 13:52 WIB
AS buru-buru membujuk Prancis yang 'ngambek' gara-gara AS dan Inggris ingin bantu Australia dalam proyek kapal selam bertenaga nuklir. Kapal selam tenaga nuklir Prancis kelas Barracuda, Suffren. (AFP/NICOLAS TUCAT)
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat buru-buru membujuk Prancis yang 'ngambek' gara-gara AS dan Inggris ingin bantu Australia dalam proyek kapal selam bertenaga nuklir.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menyebut Prancis sebagai mitra penting.

Dalam konferensi pers, Blinken menyatakan bahwa AS ingin memperdalam kerja sama dengan Indo-Pacific. Blinken menyebut Prancis memegang posisi vital dalam upaya AS ini


"Kami membagi banyak prioritas bersama Prancis dan bekerja sama dengan sangat erat, tak hanya di Indo-Pasifik, tetapi juga di luar dunia. Kami akan terus melakukannya. Kami menempatkan nilai fundamental pada hubungan ini, pada kemitraan ini," kata Blinken, dilansir Reuters.

Blinken mengklaim para pejabat AS telah menghubungi Prancis sebagai mitra untuk membahas kebijakan ini, sebelum dan setelah pengumuman.

Namun, seorang pejabat Prancis yang tak ingin disebutkan identitasnya menyampaikan bahwa AS tidak memberitahukan kerja sama trilateral ini pada negaranya.

Para pejabat Prancis mengetahui kerja sama ini dari media dan langsung melontarkan berbagai pertanyaan pada rekan mereka di AS.

Seperti diketahui sebelumnya, AS dan Inggris memutuskan untuk membantu Australia mengembangkan kapal selam bertenaga nuklir.

Keputusan ini menuai amarah Prancis karena sebelumnya Australia memutuskan kerja sama dengan Prancis terkait pembangunan kapal selam. Dikabarkan, kerja sama mereka memakan biaya $40 miliar (setara Rp569 triliun).

Namun, kerja sama Australia dengan AS telah membuat kesepakatan negara itu dengan Prancis batal.

"Ini benar-benar menikam dari belakang. Kami telah menjalin hubungan kepercayaan dengan Australia, kepercayaan ini telah dikhianati," ujar Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian kepada radio France Info, dikutip AFP, Kamis (16/9).

"(keputusan itu) tidak dapat diterima dan tidak dapat dimengerti," ungkap Drian.

Drian juga merasa tertipu dengan apa yang dilakukan Washington terhadap pihaknya. Padahal, Prancis dan sekutunya telah mengerjakan kebijakan Indo-Pasifik yang koheren dan terstruktur untuk menghadapi kekuatan China.

"Kami telah mendiskusikannya dengan Amerika Serikat baru-baru ini, dan inilah kehancurannya. (Itu) pelanggaran kepercayaan yang besar," kata Drien.



(pwn/bac)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK