Menlu Retno Khawatir Lomba Senjata di Indo-Pasifik

CNN Indonesia | Rabu, 22/09/2021 16:41 WIB
Menlu RI Retno Marsudi khawatir meningkatnya tensi di kawasan Indo-Pasifik menyusul rencana pembangunan kapal selam bertenaga nuklir oleh Australia. Menlu RI Retno Marsudi khawatir lomba senjata di Indo-Pasifik. (Rusman - Biro Setpres)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI), Retno Marsudi, khawatir meningkatnya tensi di kawasan Indo-Pasifik menyusul rencana pembangunan kapal selam bertenaga nuklir oleh Australia.

Negara itu bakal dibantu Amerika Serikat dan Inggris sebagaimana dalam kesepakatan trilateral, AUKUS.

"Di luar Asia Tenggara, Indo-Pasifik, Indonesia melihat dan mengkhawatirkan meningkatnya tensi di antara negara-negara besar," ujar Retno dalam konferensi pers virtual disela sidang Majelis Umum PBB, Rabu (22/9).


Pernyataan itu muncul saat Retno diundang untuk mengisi acara di Asia Society secara virtual, pada hari Selasa (21/9).

Retno lalu mengutip pernyataan Sekretaris Jenderal PBB yang mengingatkan kemungkinan terjadinya perang dingin.

"Saya menekankan bahwa yang tidak diinginkan oleh kita semua adalah kemungkinan meningkatnya perlombaan senjata dan power projection di kawasan, yang tentunya akan dapat mengancam stabilitas keamanan kawasan," lanjut Retno.

Dalam pertemuan Asia Society itu, Retno juga menjelaskan peran Perserikatan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di kawasan Asia Tenggara.

"Persatuan dan sentralitas ASEAN tentunya sangat penting untuk terus dijaga, sehingga ASEAN dapat terus memberikan kontribusi untuk menjaga perdamaian dan stabilitas Asia Tenggara," tegasnya.

Terkait hal tersebut, Retno menyinggung AUKUS dan keputusan Australia mengenai pengadaan kapal selam bertenaga nuklir.

"Saya sampaikan kami menerima penjelasan Australia. Kami mendengarkan komitmen-komitmen yang diberikan Australia termasuk untuk terus menghormati prinsip-prinsip non-proliferasi dan hukum internasional," ujarnya.

Kesepakatan AUKUS memicu kekhawatiran sejumlah negara di kawasan Indo-Pasifik, terutama China.

Meski demikian ada pula negara yang mendukung kesepakatan tersebut, Filipina misalnya.

Sejumlah pihak meyakini kerja sama itu untuk menyeimbangi kekuatan Beijing di kawasan Indo-Pasifik.



(isa/bac)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK