Syiah Afghanistan Siap Perang Jika Taliban Ingkar Janji

CNN Indonesia | Rabu, 22/09/2021 19:49 WIB
Minoritas syiah Afghanistan dari etnis Hazara menyatakan siap berperang dengan Taliban bila mereka mengingkari janji. Imam syiah Afghanistan Abdul Qadir Alemi saat wawancara dengan AFP. (AFP/AAMIR QURESHI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Minoritas syiah Afghanistan dari etnis Hazara menyatakan siap berperang dengan Taliban bila mereka mengingkari janji dan membentuk pemerintahan garis otoriter.

Pernyataan ini disampaikan oleh pemimpin kelompok Hazara sekaligus mantan Wakil Presiden Afghanistan Karim Khalili, pada Rabu (22/9).

"Sejauh ini, kita telah melihat Kabinet sementara (Taliban), yang sama sekali tidak inklusif. Kelanjutan jalan ini tidak dapat diterima oleh kekuatan (politik) dan kelompok etnis lainnya," tegas Khalili dalam TASS.


"Situasi ini pasti akan menjadi tak tertahankan bagi Tajik dan Uzbek, dan mereka, bersama dengan Hazara, akan kembali ke medan perang."

Khalili juga mengharapkan peran masyarakat global dalam menekan Taliban membuat pemerintahan yang lebih inklusif. Ia menilai tekanan ini dapat menghindari perang saudara antara kelompoknya dengan Taliban.

"Kami masih berjuang untuk itu dan berharap bahwa Taliban akan belajar dari (pengalaman) di 1990-an dan akan siap untuk mendirikan pemerintahan yang inklusif serta menahan diri dari tirani," lanjut Khalili.

"Kita tidak boleh dipaksa untuk menempuh jalan perlawanan bersenjata untuk melindungi kehidupan dan hak-hak dasar rakyat kita."

Menurut Khalili, perkembangan pemerintahan Afghanistan bukan hanya masalah internal tetapi juga ancaman keamanan global.

"Saya berharap kemiskinan, perang, obat-obatan, dan kurangnya sistem pemerintahan sah yang ditegakkan oleh rakyat dan komunitas global, tidak akan membuat Afghanistan kembali menjadi tempat perkembangbiakan kelompok teroris. (Aktivitas teroris) bukan hanya menghancurkan daerah itu sendiri, tetapi juga menimbulkan ancaman bagi keamanan internasional," tutur Khalili lagi.

Seperti yang diketahui sebelumnya, Taliban seringkali berjanji akan menerapkan pemerintahan yang inklusif di masa kepemimpinannya saat ini. Namun, tampaknya itu masih berupa pernyataan saja, belum ada tindakan nyata sejauh ini.

Kabinet sementara Afghanistan bentukan Taliban berisi kaum mayoritas dan semuanya adalah pria. Keputusan ini belum mencerminkan pemerintahan yang inklusif seperti yang dijanjikan Taliban sebelumnya.

[Gambas:Video CNN]



(bac)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK