Biden Telepon Macron Redam Amarah Prancis soal Kapal Nuklir

rds, CNN Indonesia | Kamis, 23/09/2021 11:35 WIB
Gedung Putih menuturkan percakapan telepon Biden dan Macron berlangsung Presiden Joe Biden dan Presiden Emmanuel Macron saat pertemuan G7 Juni 2021 lalu. (Foto: AFP/LUDOVIC MARIN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Joe Biden dan Presiden Prancis Emmanuel Macron akhirnya berbicara untuk pertama kalinya sejak kedua negara bersitengang soal kemitraan baru antara Amerika Serikat, Inggris, dan Australia.

Dalam kerja sama keamanan baru yang disebut AUKUS itu, AS dan Inggris berencana mempersenjatai Australia dengan kapal selam nuklir hingga sistem rudal tomahawk.

Gedung Putih menuturkan percakapan telepon Biden dan Macron berlangsung "bersahabat" selama 30 menit pada Rabu (22/9).


Juru bicara Gedung Putih, Jen Psaki, menuturkan Biden berharap percakapannya dengan Macron itu "menjadi langkah awal" memulihkan hubungan AS-Prancis kembali normal.

Sementara itu, Istana Kepresidenan Prancis Elysee menekankan bahwa "konsultasi" dapat menghindari situasi seperti ini terjadi antara Paris dan Washington.

AS dan Prancis juga mengeluarkan pernyataan bersama tentang percakapan Biden-Macron. Kedua negara para presiden "sepakat melakukan konsultasi mendalam untuk memperbaiki kepercayaan" dan bertemu di Eropa pada akhir Oktober.

Meski begitu, dikutip AFP, belum ada detail kabar rencana pertemuan Biden dan Macron. Namun, Biden memang akan melawat Roma, Italia, dan Glasgow pada Oktober mendatang untuk pertemuan G20 dan KTT Iklim COP26.

Sebelumnya, Macron juga telah memerintahkan Duta Besar Prancis untuk AS, Philippe Tienne kembali ke Washington pekan depan.

Sebelumnya, dalam konferensi pers virtual pada Rabu (15/9), Australia, Inggris, dan Amerika Serikat mengumumkan kerja sama trilateral mereka, AUKUS.

Di program pertamanya, AUKUS berencana mengembangkan kapal selam bertenaga nuklir untuk armada laut Australia. Kerja sama ini menimbulkan respon negatif dari berbagai pihak, seperti China dan Prancis.

Prancis menganggap AS berkhianat karena menyepakati kemitran AUKUS tanpa sepengetahuan Paris.

Sebab, Paris dan Canberra telah lebih dulu menyepakati proyek pengadaan kapal selam pada 2016 silam.

Saat itu, Australia sepakat meminta manufaktur kapal Prancis, Naval Group, membangun armada kapal selam baru bagi Negeri Kanguru senilai US$40 miliar.

Rencana itu disebut menjadi salah satu kesepakatan pertahanan paling menguntungkan di dunia. Namun, kesepakatan itu dibatalkan baru-baru ini hingga akhirnya Canberra memutuskan menyepakati kemitraan baru dengan AS dan Inggris.

"Ini adalah tikaman dari belakang. Kami menciptakan hubungan saling percaya dengan Australia dan itu telah dirusak," kata Menlu Prancis, Jean-Yves Le Drian.

Tak hanya Prancis, Uni Eropa yang juga merasa kesal lantaran tak dilibatkan dalam kemitraan AUKUS tersebut.

(rds)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK