Ribuan Warga Lari ke India Imbas Bentrok Milisi-Junta Myanmar

isa, CNN Indonesia | Kamis, 23/09/2021 12:09 WIB
Sebanyak 5.500 orang dari Myanmar telah tiba di dua distrik di India selama sepekan terakhir. Pertumpahan darah meningkat terutama usai pemerintah tandingan junta, Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), menyerukan perang melawan militer Myanmar. (Foto: REUTERS/ATHIT PERAWONGMETHA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ribuan warga Myanmar yang tinggal di Kota Thantlang, negara bagian Chin, melarikan diri ke India dan sekitarnya demi menghindari pertempuran sengit antara milisi lokal dan junta militer yang pecah di daerah tersebut dalam beberapa waktu terakhir.

Thantlang merupakan salah satu kota dengan 10 ribu penduduk yang berada di perbatasan Myanmar dengan India.

Seorang tetua masyarakat negara bagian Mizoram, India, mencatat 5.500 orang dari Myanmar telah tiba di dua distrik wilayah itu selama sepekan terakhir.


Sementara itu, menurut organisasi pemuda Young Mizo Association di Mizoram, para pengungsi dari Myanmar itu tiba dengan perahu melalui Sungai Tiau.

"Kami telah mendirikan tempat penampungan sementara menggunakan kaleng (atap seng) dan terpal untuk menampung para pengungsi ini murni atas dasar kemanusiaan," ucap ketua Young Mizo Association, Lalnuntluanga, seperti dikutip Reuters.

Pertempuran antara milisi lokal dan pasukan junta Myanmar memang semakin sengit dalam beberapa waktu terakhir di Negara Bagian Chin, terutama Thantlang.

Pada bentrokan akhir pekan lalu, sekitar 20 rumah di Thantlang dibakar. Sejumlah foto di media sosial memperlihatkan bangunan-bangunan yang dilalap si jago merah.

Laporan media lokal Myanmar Now menyebutkan tentara menembak mati seorang pendeta umat Kristiani. Namun, junta militer membantah laporan itu.

Sementara itu, media junta Myanmar, The Global New Light of Myanmar, mengatakan laporan soal kematian pendeta tengah diselidiki. Media itu mengklaim pasukan junta militer telah disergap 100 "teroris" hingga memicu baku tembak antara milisi dan personel militer.

Pemimpin komunitas Thantlang, Salai Thang, mengatakan empat warga sipil tewas dan 15 orang lainnya terluka dalam bentrokan beberapa pekan terakhir. Ia menuturkan junta militer juga menggunakan serangan udara untuk melawan para milisi di daerah itu.

Pasukan Pertahanan Chin, sebuah milisi yang menentang junta militer Myanmar, bahwa 30 prajuritnya tewas dalam bentrokan dengan tentara.

Namun, klaim dari kedua belah pihak itu tidak bisa segera diverifikasi Reuters.

Sementara itu, seorang kerabat pendeta yang tewas ditembak mengatakan bahwa hanya segelintir keluarga yang bertahan adi Thantlang, termasuk 20 anak di sebuah panti asuhan.

"Pembunuhan seorang pendeta Baptis dan pengeboman rumah-rumah di Thantlang, Negara Bagian Chin, adalah contoh terbaru dari neraka hidup yang ditunjukkan setiap hari oleh pasukan junta terhadap rakyat Myanmar," kata pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di Myanmar, Thomas Andrews, di melalui kicauan di Twitter.

Pertumpahan darah meningkat di beberapa wilayah termasuk di Chin, terutama usai pemerintah tandingan junta, Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), menyerukan perang melawan militer.

Sejak kudeta militer berlangsung awal Februari lalu, bentrokan antara junta militer dan para penentangnya telah menewaskan 1.120 orang/ Sementara sebanyak 8.351 orang telah ditangkap junta militer sejak kudeta berlangsung.



(isa/rds)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK