Eks Polisi China Ungkap Penyiksaan Tahanan Muslim Uighur
CNN Indonesia
Selasa, 05 Okt 2021 17:18 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Foto ilustrasi kehidupan etnis Uighur di Provinsi Xinjiang. (Greg Baker / AFP)
Penyiksaan oleh polisi di pusat penahanan hanya berhenti ketika para tersangka mengaku, kata Jiang. Tersangka yang mengaku biasanya akan dipindahkan ke fasilitas lain, seperti penjara atau kamp interniran yang dijaga oleh penjaga penjara.
Jiang juga mengakui pernah menjadi polisi bengis selama interogasi. Namun, ia mengatakan kerap menghindari kekerasan terburuk, tidak seperti beberapa rekannya.
"Beberapa orang melihat ini sebagai pekerjaan, beberapa hanya psikopat," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu tindakan penyiksaan yang umum dilakukan adalah ketika penjaga memerintahkan tahanan memperkosa dan menyiksa narapidana laki-laki yang baru, cerita Jiang.
Tak hanya itu, narapidana sering dipaksa untuk tetap terjaga selama berhari-hari, dan tidak diberi makan dan minum, katanya lagi.
Melansir CNN, Jiang menunjukkan seragam polisi, dokumen resmi, foto, video, dan identifikasi dari kegiatannya di China. Sebagian besar tidak dapat dipublikasikan untuk melindungi identitasnya.
CNN sendiri telah mengajukan pertanyaan terperinci kepada pemerintah China terkait tuduhan ini, tetapi masih belum mendapatkan tanggapan.
Meski begitu, beberapa detail dari ingatan Jiang menggemakan pengalaman dua korban Uighur yang diwawancarai CNN untuk laporan ini.
Xinjiang merupakan daerah otonomi di barat laut China yang menjadi rumah mayoritas kaum Muslim Uighur, etnis minoritas yang diduga menjadi target pelanggaran HAM sistematis Negeri Tirai Bambu.
Beberapa laporan organisasi pemerhati HAM internasional menuding China menahan setidaknya satu juta etnis Uighur dalam penampungan layaknya kamp konsentrasi.
Sementara itu, pemerintah China menganggap etnis Uighur sebagai ancaman terorisme dan separatis.
Pemerintah China mengklaim terjadinya Pergerakan Islam Turkistan Timur (ETIM) dalam merekrut kaum Muslim minoritas Xinjiang, Uighur. Kaum Uighur juga dinilai kembali ke Negeri Tirai Bambu untuk berjihad setelah berlatih di Suriah dan Irak.
Meski begitu, banyak pengamat yang mempertanyakan apakah ETIM benar-benar ada seperti yang dikatakan China atau tidak.
Seorang mantan detektif China yang meminta identitasnya dirahasiakan, membeberkan penyiksaan yang dialami tahanan muslim Uighur di Xinjiang. Jiang, nama julukannya, menceritakan bagaimana aparat kepolisian China menyiksa etnis minoritas itu.
Jiang menceritakan kisahnya pada CNN di Eropa, tempat dimana ia berada dalam pengasingan. Jiang menggambarkan kampanye sistematis untuk menyiksa etnis Uighur di sistem kamp penahanan kawasan itu.
Beijing membantah klaim ini selama bertahun-tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Membuka ceritanya, Jiang mengatakan ratusan polisi dikerahkan ke rumah sejumlah warga Uighur. Para polisi memaksa warga keluar dari rumah, memborgol dan mengerudungi mereka, bahkan mengancam akan menembak mereka jika melawan.
"Tendang mereka, pukul mereka (sampai mereka) memar dan bengkak," kata Jiang, mengingat bagaimana dia dan rekan-rekannya dulu menginterogasi tahanan di pusat penahanan polisi.
"Sampai mereka berlutut di lantai sambil menangis."
Selama berada di Xinjiang, Jiang mengatakan setiap tahanan baru dipukuli selama proses interogasi. Beberapa di antara mereka adalah wanita dan anak 14 tahun.
"Setiap orang menggunakan metode yang berbeda. Beberapa bahkan menggunakan palang penghancur, atau rantai besi dengan kunci."
"Polisi akan menginjak wajah tersangka dan menyuruhnya untuk mengaku," Jiang membeberkan.
Tak hanya itu, pelecehan seksual juga dilakukan sebagai salah satu taktik mendapatkan pengakuan.
"Jika Anda ingin orang mengaku, Anda menggunakan tongkat listrik dengan dua ujung tajam di atasnya," tutur Jiang.
"Kami akan mengikat dua kabel listrik di ujungnya dan memasang kabel di alat kelamin mereka saat orang itu diikat."
Lanjut baca pengakuan Jiang soal penyiksaan tahanan muslim Uighur di halaman berikutnya...
Ada Polisi Psikopat Siksa Etnis Uighur
Foto ilustrasi kehidupan etnis Uighur di Provinsi Xinjiang. (Greg Baker / AFP)
Penyiksaan oleh polisi di pusat penahanan hanya berhenti ketika para tersangka mengaku, kata Jiang. Tersangka yang mengaku biasanya akan dipindahkan ke fasilitas lain, seperti penjara atau kamp interniran yang dijaga oleh penjaga penjara.
Jiang juga mengakui pernah menjadi polisi bengis selama interogasi. Namun, ia mengatakan kerap menghindari kekerasan terburuk, tidak seperti beberapa rekannya.
"Beberapa orang melihat ini sebagai pekerjaan, beberapa hanya psikopat," katanya.
Salah satu tindakan penyiksaan yang umum dilakukan adalah ketika penjaga memerintahkan tahanan memperkosa dan menyiksa narapidana laki-laki yang baru, cerita Jiang.
Tak hanya itu, narapidana sering dipaksa untuk tetap terjaga selama berhari-hari, dan tidak diberi makan dan minum, katanya lagi.
Melansir CNN, Jiang menunjukkan seragam polisi, dokumen resmi, foto, video, dan identifikasi dari kegiatannya di China. Sebagian besar tidak dapat dipublikasikan untuk melindungi identitasnya.
CNN sendiri telah mengajukan pertanyaan terperinci kepada pemerintah China terkait tuduhan ini, tetapi masih belum mendapatkan tanggapan.
Meski begitu, beberapa detail dari ingatan Jiang menggemakan pengalaman dua korban Uighur yang diwawancarai CNN untuk laporan ini.
Xinjiang merupakan daerah otonomi di barat laut China yang menjadi rumah mayoritas kaum Muslim Uighur, etnis minoritas yang diduga menjadi target pelanggaran HAM sistematis Negeri Tirai Bambu.
Beberapa laporan organisasi pemerhati HAM internasional menuding China menahan setidaknya satu juta etnis Uighur dalam penampungan layaknya kamp konsentrasi.
Sementara itu, pemerintah China menganggap etnis Uighur sebagai ancaman terorisme dan separatis.
Pemerintah China mengklaim terjadinya Pergerakan Islam Turkistan Timur (ETIM) dalam merekrut kaum Muslim minoritas Xinjiang, Uighur. Kaum Uighur juga dinilai kembali ke Negeri Tirai Bambu untuk berjihad setelah berlatih di Suriah dan Irak.
Meski begitu, banyak pengamat yang mempertanyakan apakah ETIM benar-benar ada seperti yang dikatakan China atau tidak.