Raja Bhutan Naik Kuda hingga Jalan Kaki Vaksinasi Rakyatnya

CNN Indonesia | Kamis, 14/10/2021 11:23 WIB
Raja Bhutan, Jigme Khesar Namgyel Wangchuck, naik turun gunung naik mobil, menunggang kuda, hingga jalan kaki untuk melakukan vaksinasi rakyatnya. Raja Bhutan Jigme Khesar Namgyel Wangchuck (kanan) turun langsung untuk vaksinasi rakyatnya. (AFP/KIM HONG-JI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Raja Bhutan, Jigme Khesar Namgyel Wangchuck, naik turun gunung naik mobil, menunggang kuda, hingga jalan kaki selama 14 bulan untuk melakukan vaksinasi rakyatnya agar terlindung dari Covid-19.

Berbekal ransel, topi bisbol, dan jubah Gho tradisional selutut, raja Bhutan menyusuri hutan, mendaki gunung, dan berkali-kali menjalani karantina, ia terus menyuarakan masalah pandemi pada 700 ribu penduduknya.

"Ketika raja melakukan perjalanan bermil-mil dan mengetuk pintu rumah rakyatnya untuk memperingatkan orang-orang tentang pandemi, maka kata-katanya yang rendah hati dihormati dan ditanggapi dengan sangat serius," kata Perdana Menteri Bhutan Lotay Tshering, dikutip dari Reuters


"Kehadiran Yang Mulia jauh lebih kuat daripada hanya mengeluarkan pedoman publik," kata Tshering.

Kehadirannya meyakinkan orang-orang bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan mereka melawan pandemi, Tshering menambahkan.

Tak hanya itu, Raja Bhutan juga memberikan dua medali kepada sukarelawan Desuup pada ulang tahunnya yang ke-41. Pin Desuup ini diperoleh oleh relawan Desuup karena layanan sukarela mereka terkait penanganan pandemi Covid-19, dikutip Royal Central.

Desuup Phub Gyem menerima Pin Representasi Druk Thuksey dan Pin Layanan Covid-19 yang secara pribadi diberikan oleh Raja Bhutan.

Melansir CNN, Bhutan telah memvaksinasi 90 persen dari populasi orang dewasa yang memenuhi syarat pada Juli.

Semua warga Bhutan yang berusia di atas 18 tahun memenuhi syarat untuk vaksin, dengan pihak berwenang menawarkan pilihan antara vaksin Moderna dan AstraZeneca.

Untuk memberikan vaksin, relawan harus mengambil vaksin dari helikopter dan berjalan melintasi medan yang sulit ke pusat vaksin terpencil. Mereka juga harus memastikan suntikan tetap aman dan disimpan pada suhu yang tepat.

UNICEF bahkan menganggap program vaksinasi Bhutan sebagai "kisah sukses" dari donasi internasional.

Sebelumnya, Bhutan mengelola sekitar 500.000 vaksin AstraZeneca, yang disumbangkan dari India, selama kampanye vaksin pertamanya di Maret dan April. Namun, ketika India menghentikan ekspor vaksin karena gelombang Covid akibat varian Delta, Bhutan mulai mencari sumbangan di tempat lain.

Bhutan juga mendapatkan 500.000 vaksin Moderna dari Amerika Serikat melalui program berbagi vaksin COVAX global. Denmark menyumbangkan 250.000 dosis AstraZeneca dan China sebelumnya telah menyumbangkan 50.000 dosis Sinopharm.

Tak hanya sumbangan vaksin, kepekaan budaya juga penting untuk memastikan dukungan publik akan vaksinasi.

Misalnya, para biksu Buddha menentukan kapan harus meluncurkan vaksin dan memilih waktu yang paling menguntungkan, mengingat mayoritas penduduk Bhutan beragama Buddha. Para biksu juga menentukan bahwa dosis pertama harus diberikan oleh seorang wanita dan diberikan kepada seorang wanita yang lahir di Tahun Monyet.



(pwn/bac)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK