Kisah Putri Mako dan Kei Komuro, Meghan-Harry dari Jepang
CNN Indonesia
Selasa, 26 Okt 2021 12:17 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Perjalanan kisah keponakan Kaisar Jepang, Putri Mako, dengan warga biasa, Kei Komuro, amat panjang sebelum sampai pada pernikahan hari ini, Selasa (26/10). (AFP/Shizuo Kambayashi)
Jakarta, CNN Indonesia --
Perjalanan kisah cinta Keponakan Kaisar Jepang, Putri Mako, dengan warga sipil biasa, Kei Komuro, panjang dan terjal sebelum akhirnya sampai pada pernikahan hari ini, Selasa (26/10).
Menjadi sorotan publik di tengah berbagai kontroversi hingga akhirnya memutuskan untuk melanjutkan hidup di Amerika Serikat, Putri Mako dan Kei Komuro pun kerap disandingkan dengan Pangeran Harry dan Meghan Markle dari Kerajaan Inggris.
Jauh sebelum menjadi kontroversi, kisah Putri Mako dan Kei Komuro berawal saat keduanya masih duduk di bangku Universitas Kristen di Tokyo. Saat itu, mereka langsung memadu kasih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah resmi sarjana pada tahun 2014, Komuro sempat bekerja di sebuah firma hukum. Ia kemudian menyabet beasiswa studi hukum ke Fordam School of Law di New York.
Sementara itu, Putri Mako mengambil kampus yang berbeda. Ia melanjutkan studinya ke Universitas Leicester di Inggris dalam program pertukaran pelajar.
Pada 2017, mereka menjalin asmara lebih jauh dan mengumumkan pertunangannya. Mereka sangat berseri saat mengumumkan pertunangan.
Kumoro menyebut Mako "bulan" baginya. Sementara itu, Mako menganggap senyum Komuro bak matahari.
Namun setelah itu, pasangan tersebut harus menghadapi berbagai omongan miring publik. Banyak yang menentang hubungan mereka lantaran Komuro dianggap tak selevel dengan keluarga kekaisaran.
Ditambah lagi, latar belakang keluarga Kumoro dianggap tak baik dan akan merusak citra kekaisaran Jepang. Berbagai tabloid pun mulai menyoroti laporan bahwa keluarga Komuro sedang mengalami kesulitan finansial.
Sebagaimana dilansir CNN, Komuro dibesarkan oleh ibu tunggal. Para pengamat menilai, cara pandang warga Jepang sangat sinis ketika berbicara soal ekonomi dan moral.
Mereka mengira, ibu Komuro tak becus mendidik dan membiayai anak lelakinya itu. Di sisi lain, beredar kabar sang ibu belum melunasi utang kepada mantan tunangannya.
Berkenaan dengan itu, Komuro membuat klarifikasi setebal 28 halaman yang intinya menyatakan uang tersebut merupakan hadiah. Ibunya juga akan berusaha menyelesaikan konflik itu.
Konflik pasangan itu diperburuk dengan pemberitaan di media yang membedah habis keluarga Komuro. Pemberitaan itu menciptakan kesan bahwa mereka seakan bukan keluarga yang baik. Ada media yang bahkan menyebut sang ibu tak bisa dipercaya dan hanya menginginkan kekayaan.
Tak hanya dari sisi eksternal yang 'menelanjangi' keluarga Komuro, pertentangan di pihak Putri Mako juga tak kalah sengit.
Pertentangan dari Kekaisaran Jepang hingga kesehatan mental Putri Mako bisa dibaca di halaman berikutnya >>>
Mulanya, Putri Mako dan Komuro akan melangsungkan pernikahan satu tahun usai pertunangan mereka, yakni pada 2018. Namun, pihak Kekaisaran merasa butuh persiapan lebih matang untuk menggelar acara tersebut.
Youtuber urusan Kekaisaran, Kei Kobuta, mengatakan Putri Mako, membuat pilihan yang salah.
"Ada banyak keraguan dan kekhawatiran tentang Kei Komuro dan ibunya, dan orang-orang takut citra keluarga kekaisaran akan ternoda," katanya.
Masalah yang dihadapi Putri Mako membuat kesehatan mentalnya terganggu. Ia disebut sampai mengalami post traumatic stress disorder (PTSD). Namun, masih ada publik yang merasa dia memalsukan kesehatan psikisnya.
Setelah menikah pun, Putri Mako masih harus menanggung beban atas keputusannya. Berdasarkan aturan kekaisaran Jepang, anggota keluarga kerajaan harus menyerahkan gelar dan meninggalkan istana jika menikah dengan orang biasa.
Putri Mako pun menyanggupi syarat itu. Setelah resmi menikah, ia akan menjadi Mako Komuro.
Sementara itu, takhtanya hanya bisa diserahkan ke anggota laki-laki dari keluarga kekaisaran. Namun, anak dari perempuan anggota keluarga kekaisaran yang menikah dengan orang biasa juga tak bisa mewarisi takhta itu.
Putri Mako bukan satu-satunya anggota kekaisaran yang angkat kaki.
Sebelumnya, bibinya yang merupakan satu-satunya putri Kaisar Akihito, Sayako, juga memilih keluar dari kekaisaran karena ingin menikah dengan arsitek tata kota, Yoshiki Kuroda, pada 2005.
Jakarta, CNN Indonesia --
Perjalanan kisah cinta Keponakan Kaisar Jepang, Putri Mako, dengan warga sipil biasa, Kei Komuro, panjang dan terjal sebelum akhirnya sampai pada pernikahan hari ini, Selasa (26/10).
Menjadi sorotan publik di tengah berbagai kontroversi hingga akhirnya memutuskan untuk melanjutkan hidup di Amerika Serikat, Putri Mako dan Kei Komuro pun kerap disandingkan dengan Pangeran Harry dan Meghan Markle dari Kerajaan Inggris.
Jauh sebelum menjadi kontroversi, kisah Putri Mako dan Kei Komuro berawal saat keduanya masih duduk di bangku Universitas Kristen di Tokyo. Saat itu, mereka langsung memadu kasih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah resmi sarjana pada tahun 2014, Komuro sempat bekerja di sebuah firma hukum. Ia kemudian menyabet beasiswa studi hukum ke Fordam School of Law di New York.
Sementara itu, Putri Mako mengambil kampus yang berbeda. Ia melanjutkan studinya ke Universitas Leicester di Inggris dalam program pertukaran pelajar.
Pada 2017, mereka menjalin asmara lebih jauh dan mengumumkan pertunangannya. Mereka sangat berseri saat mengumumkan pertunangan.
Kumoro menyebut Mako "bulan" baginya. Sementara itu, Mako menganggap senyum Komuro bak matahari.
Namun setelah itu, pasangan tersebut harus menghadapi berbagai omongan miring publik. Banyak yang menentang hubungan mereka lantaran Komuro dianggap tak selevel dengan keluarga kekaisaran.
Ditambah lagi, latar belakang keluarga Kumoro dianggap tak baik dan akan merusak citra kekaisaran Jepang. Berbagai tabloid pun mulai menyoroti laporan bahwa keluarga Komuro sedang mengalami kesulitan finansial.
Sebagaimana dilansir CNN, Komuro dibesarkan oleh ibu tunggal. Para pengamat menilai, cara pandang warga Jepang sangat sinis ketika berbicara soal ekonomi dan moral.
Mereka mengira, ibu Komuro tak becus mendidik dan membiayai anak lelakinya itu. Di sisi lain, beredar kabar sang ibu belum melunasi utang kepada mantan tunangannya.
Berkenaan dengan itu, Komuro membuat klarifikasi setebal 28 halaman yang intinya menyatakan uang tersebut merupakan hadiah. Ibunya juga akan berusaha menyelesaikan konflik itu.
Konflik pasangan itu diperburuk dengan pemberitaan di media yang membedah habis keluarga Komuro. Pemberitaan itu menciptakan kesan bahwa mereka seakan bukan keluarga yang baik. Ada media yang bahkan menyebut sang ibu tak bisa dipercaya dan hanya menginginkan kekayaan.
Tak hanya dari sisi eksternal yang 'menelanjangi' keluarga Komuro, pertentangan di pihak Putri Mako juga tak kalah sengit.
Pertentangan dari Kekaisaran Jepang hingga kesehatan mental Putri Mako bisa dibaca di halaman berikutnya >>>
Putri Mako dan Harga Mahal Cinta Kei Komuro
Putri Mako. (AFP/Toru Yamanaka)
Mulanya, Putri Mako dan Komuro akan melangsungkan pernikahan satu tahun usai pertunangan mereka, yakni pada 2018. Namun, pihak Kekaisaran merasa butuh persiapan lebih matang untuk menggelar acara tersebut.
Youtuber urusan Kekaisaran, Kei Kobuta, mengatakan Putri Mako, membuat pilihan yang salah.
"Ada banyak keraguan dan kekhawatiran tentang Kei Komuro dan ibunya, dan orang-orang takut citra keluarga kekaisaran akan ternoda," katanya.
Masalah yang dihadapi Putri Mako membuat kesehatan mentalnya terganggu. Ia disebut sampai mengalami post traumatic stress disorder (PTSD). Namun, masih ada publik yang merasa dia memalsukan kesehatan psikisnya.
Setelah menikah pun, Putri Mako masih harus menanggung beban atas keputusannya. Berdasarkan aturan kekaisaran Jepang, anggota keluarga kerajaan harus menyerahkan gelar dan meninggalkan istana jika menikah dengan orang biasa.
Putri Mako pun menyanggupi syarat itu. Setelah resmi menikah, ia akan menjadi Mako Komuro.
Sementara itu, takhtanya hanya bisa diserahkan ke anggota laki-laki dari keluarga kekaisaran. Namun, anak dari perempuan anggota keluarga kekaisaran yang menikah dengan orang biasa juga tak bisa mewarisi takhta itu.
Putri Mako bukan satu-satunya anggota kekaisaran yang angkat kaki.
Sebelumnya, bibinya yang merupakan satu-satunya putri Kaisar Akihito, Sayako, juga memilih keluar dari kekaisaran karena ingin menikah dengan arsitek tata kota, Yoshiki Kuroda, pada 2005.