Profil Zuhairi Misrawi, Dubes Baru Tunisia Cendekiawan NU
CNN Indonesia
Selasa, 23 Nov 2021 06:58 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Profil Zuhairi Misrawi dubes baru untuk Tunisia. (Detikcom/Ari Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia --
Belum lama ini, salah satu tokoh yang kritis dari Nahdlatul Ulama (NU), Zuhairi Misrawi alias Gus Mis, resmi menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia.
Pada pekan lalu, Presiden RI, Joko Widodo, melantik Zuhairi bersama dengan 12 duta besar lain di Istana Negara, Jakarta.
Nama Zuhairi menjadi calon Dubes memang tak asing lagi. Sejak beberapa bulan silam, ia disebut-sebut akan menjadi Duta Besar RI untuk Arab Saudi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namanya masuk dalam daftar 32 calon Dubes di DPR. Beredar kabar, ia tak ditempatkan di Saudi lantaran kerap mengkritik kerajaan.
Zuhairi diketahui merupakan tokoh NU yang dikenal sebagai penulis dan intelektual muda.
Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Usai menamatkan kuliah, Zuhairi didapuk menjadi Koordinator Kajian dan Penelitian di Lembaga Kajian dan Sumber Daya Manusia NU (Lakpesdam NU).
Awal November lalu, pernyataan Zuhairi menjadi sorotan publik terkait Islam mana yang paling benar.
"Kita ini tidak tahu apakah Islam NU yang paling benar, apakah Islam yang paling benar, apakah Islam Muhammadiyah pasti benar? Udah pasti enggak lah," kata Zuhairi dalam potongan video yang viral.
Kemudian, pada Desember 2020 lalu, Zuhairi menantang anggota DPR dari fraksi Gerindra, Fadli Zon, untuk berdebat soal populisme Islam.
Zuhairi menggantikan Menteri Agama, Yaqut Choumas, yang tadinya ditantang dalam debat itu. Yaqut menyatakan hendak mencegah populisme Islam berkembang di Indonesia. Namun, Fadli Zon mendukung gerakan itu.
Kemudian Zuhairi menawarkan diri untuk melayani tantangan debat dari Fadli.
Menurut Zuhairi, populisme Islam sangat berbahaya dan telah menjadi perhatian NU. Ia memandang isu ini sumber utama konflik sejumlah negara di Timur Tengah. Gerakan itu, katanya, mempolitisasi doktrin keislaman yang berujung kehancuran negara.
Ia lalu mencontohkan gerakan Ikhwanul Muslimin, yang membawa Mesir ke titik terendah hingga saat ini. Pun, dengan kelompok terorisme termasuk Al-Qaeda dan ISIS.
"Saya sebagai kader NU tak ingin populisme Islam yang terjadi di Timur Tengah ini melanda kita," ujar Zuhairi.
Sikap Zuhairi Misrawi terkait kasus Ahok, baca di halaman berikutnya...
Pada 2016 lalu, Zuhairi Misrawi juga mendukung penyelesaian secara damai atau islah saat calon Gubernur DKI Jakarta kala itu, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, bertikai dengan imam besar Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab.
Pertikaian antara kedua orang itu, dimulai saat Ahok menyitir surat Al Maidah ayat 51 ketika berkunjung ke Kepulauan Seribu. Majelis Ulama Indonesia (MUI) kemudian mengeluarkan fatwa ucapan Ahok menistakan agama.
Islah, menurut Zuhairi, adalah cara terbaik untuk menyelesaikan konflik dan menciptakan keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
Tak hanya melibatkan diri di dunia aktivis, Zuhairi juga terlibat di kancah politik. Ia merupakan politikus PDI Perjuangan.
Ia adalah salah satu Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin saat Pilpres 2019 lalu. Di Pilpres sebelumnya, Zuhairi juga menjadi tim sukses Jokowi-JK.
Sehari sebelum jadi Dubes, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, juga menunjuk Zuhairi sebagai Komisaris Independen PT Yodya Karya.
Hal tersebut disampaikan perseroan melalui unggahan instagram resminya.
"Segenap insan Yodya Karya mengucapkan selamat & sukses atas dilantiknya Bapak Zuhairi Misrawi sebagai Komisaris Independen PT Yodya Karya (Persero)," tertulis di unggahan Instagram perseroan, dikutip Selasa (17/11).
Jakarta, CNN Indonesia --
Belum lama ini, salah satu tokoh yang kritis dari Nahdlatul Ulama (NU), Zuhairi Misrawi alias Gus Mis, resmi menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia.
Pada pekan lalu, Presiden RI, Joko Widodo, melantik Zuhairi bersama dengan 12 duta besar lain di Istana Negara, Jakarta.
Nama Zuhairi menjadi calon Dubes memang tak asing lagi. Sejak beberapa bulan silam, ia disebut-sebut akan menjadi Duta Besar RI untuk Arab Saudi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namanya masuk dalam daftar 32 calon Dubes di DPR. Beredar kabar, ia tak ditempatkan di Saudi lantaran kerap mengkritik kerajaan.
Zuhairi diketahui merupakan tokoh NU yang dikenal sebagai penulis dan intelektual muda.
Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Usai menamatkan kuliah, Zuhairi didapuk menjadi Koordinator Kajian dan Penelitian di Lembaga Kajian dan Sumber Daya Manusia NU (Lakpesdam NU).
Awal November lalu, pernyataan Zuhairi menjadi sorotan publik terkait Islam mana yang paling benar.
"Kita ini tidak tahu apakah Islam NU yang paling benar, apakah Islam yang paling benar, apakah Islam Muhammadiyah pasti benar? Udah pasti enggak lah," kata Zuhairi dalam potongan video yang viral.
Kemudian, pada Desember 2020 lalu, Zuhairi menantang anggota DPR dari fraksi Gerindra, Fadli Zon, untuk berdebat soal populisme Islam.
Zuhairi menggantikan Menteri Agama, Yaqut Choumas, yang tadinya ditantang dalam debat itu. Yaqut menyatakan hendak mencegah populisme Islam berkembang di Indonesia. Namun, Fadli Zon mendukung gerakan itu.
Kemudian Zuhairi menawarkan diri untuk melayani tantangan debat dari Fadli.
Menurut Zuhairi, populisme Islam sangat berbahaya dan telah menjadi perhatian NU. Ia memandang isu ini sumber utama konflik sejumlah negara di Timur Tengah. Gerakan itu, katanya, mempolitisasi doktrin keislaman yang berujung kehancuran negara.
Ia lalu mencontohkan gerakan Ikhwanul Muslimin, yang membawa Mesir ke titik terendah hingga saat ini. Pun, dengan kelompok terorisme termasuk Al-Qaeda dan ISIS.
"Saya sebagai kader NU tak ingin populisme Islam yang terjadi di Timur Tengah ini melanda kita," ujar Zuhairi.
Sikap Zuhairi Misrawi terkait kasus Ahok, baca di halaman berikutnya...
Zuhairi dan Kasus Ahok
Zuhairi Misrawi (kiri) tokoh kritis NU. (ANTARA FOTO/Yustinus Agyl)
Pada 2016 lalu, Zuhairi Misrawi juga mendukung penyelesaian secara damai atau islah saat calon Gubernur DKI Jakarta kala itu, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, bertikai dengan imam besar Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab.
Pertikaian antara kedua orang itu, dimulai saat Ahok menyitir surat Al Maidah ayat 51 ketika berkunjung ke Kepulauan Seribu. Majelis Ulama Indonesia (MUI) kemudian mengeluarkan fatwa ucapan Ahok menistakan agama.
Islah, menurut Zuhairi, adalah cara terbaik untuk menyelesaikan konflik dan menciptakan keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
Tak hanya melibatkan diri di dunia aktivis, Zuhairi juga terlibat di kancah politik. Ia merupakan politikus PDI Perjuangan.
Ia adalah salah satu Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin saat Pilpres 2019 lalu. Di Pilpres sebelumnya, Zuhairi juga menjadi tim sukses Jokowi-JK.
Sehari sebelum jadi Dubes, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, juga menunjuk Zuhairi sebagai Komisaris Independen PT Yodya Karya.
Hal tersebut disampaikan perseroan melalui unggahan instagram resminya.
"Segenap insan Yodya Karya mengucapkan selamat & sukses atas dilantiknya Bapak Zuhairi Misrawi sebagai Komisaris Independen PT Yodya Karya (Persero)," tertulis di unggahan Instagram perseroan, dikutip Selasa (17/11).