Jakarta, CNN Indonesia -- Meski menggaungkan berbagai janji manis, sikap Taliban selama 100 hari pertama berkuasa di Afghanistan justru dianggap makin ganas dengan serangkaian kekerasan, mulai dari pencambukan hingga pembunuhan.
Rentet kekerasan ini terjadi ketika Taliban masih berjuang ke sana ke mari mencari pengakuan dunia internasional di tengah ancaman kebangkrutan dan krisis ekonomi.
Dunia sendiri masih menunggu perubahan sikap Taliban yang ternyata justru makin parah. Berikut delapan kekerasan Taliban selama 100 hari pertama berkuasa di Afghanistan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Taliban dilaporkan mencambuk para demonstran perempuan yang menyuarakan protes mereka atas pemerintahan baru Afghanistan karena sama sekali tak melibatkan kaum hawa.
Salah satu perempuan peserta demonstrasi itu mengatakan kepada CNN bahwa Taliban menggunakan cambuk hingga tongkat untuk membubarkan massa yang berkumpul di Kabul pada awal September.
"[Taliban] memukul dengan cambuk dan menyuruh kami pulang dan mengakui serta menerima Emirat itu. Mengapa kami harus menerima Emirat, sementara tak ada inklusi atau hak yang diberikan kepada kami?" katanya.
Menurut demonstran itu, Taliban juga menangkap sejumlah jurnalis yang meliput aksi tersebut. Ia pun mendesak agar Taliban membebaskan para jurnalis itu.
"Para pria yang datang ke sini untuk menjalankan tugas mereka sebagai jurnalis ditangkap. Mengapa kami harus membiarkan itu semua?" ucap demonstran itu.
Dua jurnalis Afghanistan babak belur akibat dipukuli Taliban setelah ditangkap saat sedang meliput aksi demonstrasi di Kabul pada Rabu (8/9).
Seorang jurnalis korban kekerasan tersebut, Nematullah Naqdi, bercerita kepada AFP bahwa ia ditangkap bersama seorang rekannya. Di kantor polisi itu, mereka dipukuli dengan tongkat, dijerat kabel listrik, hingga dicambuk.
"Salah satu anggota Taliban menginjak wajah saya dan memukul wajah saya dengan benda keras. Mereka menendang kepala saya. Saya pikir mereka akan membunuh saya," ujar Naqdi.
Beberapa jam kemudian, kedua jurnalis itu dibebaskan tanpa keterangan apa pun. Kedua wartawan itu pun kebingungan.
[Gambas:Video CNN]
Taliban memburu seorang jurnalis yang bekerja untuk media asing di Afghanistan, Deutsche Welle (DW). Dalam salah satu operasi pencarian pada Agustus lalu, Taliban dilaporkan membunuh salah satu kerabat jurnalis itu.
Direktur Jenderal DW, Peter Limbourg, mengutuk pembunuhan tersebut. Menurutnya, insiden itu menunjukkan tanda bahaya bagi pekerja media beserta keluarganya di Afghanistan.
"Pembunuhan kerabat dekat salah satu editor kami oleh Taliban kemarin sungguh tragis, dan membuktikan bahaya akut yang mana semua karyawan kami dan keluarga mereka di Afghanistan" ujar Limbourg seperti dikutip AFP.
Menurut Limbourg, seorang kerabat lain dari jurnalis itu juga terluka parah. Namun, orang itu berhasil melarikan diri.
DW menyatakan bahwa jurnalis itu sekarang bekerja di Jerman. Namun, Taliban tetap mencari jurnalis itu dari rumah ke rumah.
Taliban dilaporkan membunuh 13 orang dari etnis Hazaras di Afghanistan, termasuk sembilan mantan tentara yang menyerahkan diri dan satu remaja putri berusia 17 tahun.
Berdasarkan laporan hasil investigasi teranyar Amnesty International, pembunuhan itu terjadi di Distrik Khidir, Provinsi Daykundi, pada 30 Agustus lalu.
Sebagaimana dilansir CNN, 11 dari total korban tersebut merupakan mantan personel Pasukan Keamanan dan Pertahanan Nasional Afghanistan yang sudah menyerahkan diri. Sementara itu, dua lainnya merupakan warga sipil.
"Taliban melakukan pembunuhan di luar hukum terhadap sembilan mantan pasukan pertahanan setelah mereka menyerahkan diri, pembunuhan yang diduga merupakan kejahatan perang," tulis Amnesty di laporannya.
Laporan itu berlanjut, "Dua warga sipil juga tewas ketika mereka berupaya kabur dari area tersebut, termasuk perempuan 17 tahun, saat Taliban melepaskan tembakan ke arah kerumunan warga."
8 Kekerasan Taliban yang Kian Ganas selama 100 Hari Berkuasa
Meski menggaungkan janji manis, sikap Taliban selama 100 hari berkuasa dianggap makin ganas dengan serangkaian kekerasan, dari pencambukan hingga pembunuhan. (AP/Ahmad Halabisaz)
Rezim Taliban di Afghanistan dilaporkan memiliki daftar komunitas kaum Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer (LGBTQ) negara itu yang akan menjadi target untuk dibunuh.
Taliban menganggap komunitas LGBTQ sebagai kaum yang menyimpang dan melanggar dari syariat Islam. Ketika berkuasa pada 1996-2001, Taliban memang menerapkan hukum Islam interpretasi mereka secara brutal dan ketat.
"Saat ini adalah waktu yang paling menyeramkan bagi kami di Afghanistan. Kami tahu pasti bahwa Taliban punya daftar warga LGBTQ yang diidentifikasi dan ingin dibunuh," ucap Direktur Eksekutif Rainbow Railroad, Kimahli Powell, seperti dikutip AFP.
Menurut Powell, Taliban mendapatkan daftar warga LGBTQ ini dari nama orang-orang yang tengah diusahakan organisasi hak asasi luar negeri untuk dievakuasi dari Afghanistan.
[Gambas:Video CNN]
Taliban menggantung empat tubuh pencuri menggunakan crane setelah menghukum mati mereka di kota Herat, Afghanistan, Sabtu (25/9).
Wakil Gubernur Herat, Mawlawi Shir Ahmad Muhadjir, mengatakan tujuan empat jasad itu digantung adalah sebagai 'pelajaran' bahwa pencurian merupakan tindakan yang tak bisa ditoleransi.
Di jasad yang tergantung, ada papan yang bertuliskan, "Pencuri akan mendapatkan hukuman seperti ini."
Taliban menghancurkan patung pemimpin Hazara yang ditetapkan menjadi martir nasional Afghanistan, Abdul Ali Mazari, dan menggantinya dengan replika Al-Quran.
Abdul Danishyar, seorang aktivis di lokasi patung itu berdiri di Bamiyan, mengatakan bahwa Taliban menghancurkan patung Mazari menggunakan granat pada Agustus lalu. Mereka kemudian menggantinya dengan replika kitab.
[Gambas:Photo CNN]
Taliban mengancam akan menggantung seorang jurnalis di alun-alun kota jika jurnalis tersebut masih menulis cerita tentang pemukulan dan penggeledahan rumah yang dilakukan kelompok itu.
Beberapa jurnalis juga mengatakan otoritas lokal Taliban langsung menghubungi para jurnalis yang sebelumnya menulis cerita pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan kelompok itu.
Akibat ancaman ini, banyak media di Afghanistan menutup kantor mereka dan hanya menerbitkan artikel secara online karena takut akan balas dendam, dikutip dari The Independent.