Misteri Pengganti Al-Qurayshi, Pentolan ISIS yang Dibunuh AS
CNN Indonesia
Jumat, 04 Feb 2022 20:33 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pemimpin ISIS, Abu Ibrahim Al-Hashemi Al-Qurayshi, yang tewas dibunuh pasukan AS. (CTC Sentinel via AP)
Jakarta, CNN Indonesia --
ISIS mengalami pukulan telak lagi usai sang pemimpin, Abu Ibrahim Al-Hashimi Al-Qurayshi, tewas dalam serangan operasi kontraterorisme Amerika Serikat. Organisasi ini harus mencari pemimpin baru di tengah perdebatan 'sosok ideal' dan kampanye anti teroris Washington.
Operasi yang menewaskan Qurayshi menjadi serangan yang terbesar sejak 2019. Ketika itu, AS mengklaim berhasil membunuh pemimpin ISIS Abu Bakr Al-Baghdadi.
Amerika Serikat ingin menunjukkan perang kontraterorisme yang efektif usai kegagalan di Afghanistan. Serangan di Suriah menjadi kemenangan yang dirayakan Paman Sam. Namun, mereka juga khawatir soal siapa pengganti Qurayshi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pengamat menilai kemungkinan besar penerus Qurayshi adalah orang yang tenggelam dalam fanatisme dan teror Islam. Namun, mereka tak mengetahui persisnya.
Direktur penelitian di The Soufan Group dan peneliti senior di The Soufan Center, Colin Clarke, menilai pemimpin selanjutnya mungkin orang yang tak banyak dikenal publik.
"Pemimpin ISIS berikutnya bisa menjadi seseorang yang relatif tidak dikenal, yang akan memunculkan tantangan bagi AS dan sekutu dalam hal pengumpulan intelijen dan pemetaan jaringan," kata Clarke dalam tulisan opini yang dimuat Politico, Kamis (3/2).
Meski demikian, hal tersebut juga merupakan tantangan bagi ISIS. Terutama jika pemimpin berikutnya bukanlah seseorang yang memiliki reputasi setara dengan para pemimpin jihad sebelumnya. Itu kemungkinan akan membuat perekrutan anggota semakin lesu.
Siapapun penggantinya mungkin tak punya kredensial agama atau militer dari pendahulunya, sehingga mereka harus berjuang keras untuk mendapat pemimpin baru.
Baghdadi dan Qurasyhi adalah dua orang yang berbeda kepribadian dan cara memimpin ISIS.
Pemimpin kharismatik yang populer dapat menjadi magnet untuk merekrut anggota, sebagaimana Baghdadi. Namun, mereka juga menjadi target kontra terorisme yang menarik.
Sebaliknya, kepemimpinan ala Qurayshi yang bergerak dalam senyap akan kesulitan menggaet anggota dan membuka jaringan internasional. Meski begitu, mereka akan sulit dilacak dari sisi target kontraterorisme.
Tantangan ini akan membuka kembali ketegangan yang sudah lama muncul antar faksi yang bersaing secara internal.
Pengamat lain, Direktur Penelitian di Pusat Pemberantasan Terorisme di West Point, Daniel Milton, tak bisa menyebutkan nama yang nanti duduk di kursi tertinggi ISIS.
"Saya tak mengetahui individu tertentu, tapi ISIS telah mengalami sejumlah pukulan kepemimpinan sehingga mereka siap mengisi lowongan terbaru," kata Milton dikutip dari NBC News.
Ia menilai siapapun yang nantinya akan dipilih menjadi pemimpin ISIS, orang itu akrab dengan yurisprudensi Islam dan pengalaman medan perang.
"Sejauh ini, kami tak tahu siapa yang menunggu untuk menggantikan dia, tapi Anda bisa percaya bahwa ISIS telah menunjuk seseorang," jelas mantan Duta Besar AS untuk Irak sekaligus utusan khusus untuk Suriah, James Franklin Jeffrey kepada NBC News.
Jeffrey lalu berkata, "Masa simpan seorang pemimpin ISIS akhir-akhir ini sekitar tiga tahun, jadi mereka siap untuk kemungkinan itu."
Jarak dari tewasnya Qurayshi ke masa kepemimpinan yang baru nyaris tepat tiga tahun. Mereka mau tak mau harus segera menunjuk pemimpin baru dengan kriteria yang sudah ditimbang matang-matang.
Gaya kepemimpinan ala Qurayshi yang tampak senyapitu membuat jumlah anggota ISIS tak jelas persisnya sehingga mereka sulit dilacak. Apalagi, intelijen AS yang fokus ke hal itu lebih secuil.
AS dan sekutu mungkin akan kesulitan menyusun portfolio yang akurat dan menyusun strategi baru.
Perang bergeser dari konflik militer tradisional ke konflik yang fokus pada pengumpulan intelijen dan serangan terhadap tokoh tertentu. Hal ini bisa menjadi pertukaran yang nyata.
Mengingat ketahanan ISIS, ada sedikit alasan serangan itu menjadi lonceng kematian yang diharapkan AS. Pembunuhan yang ditargetkan memang jarang terjadi.
Namun, organisasi tersebut akan terus bangkit usai Qurayshi tewas, sebagaimana saat mereka bangkit ketika kehilangan Baghdadi.
Artinya, AS kemungkinan akan terus melakukan serangan sporadis terhadap target yang dinilai penting di masa depan.
"Siapapun yang memimpin ISIS selanjutnya akan bertekad melanjutkan perjuangan dan AS kemungkinan akan merespons (terlepas) apakah presiden mengakui Amerika sedang berperang atau tidak," ucap Clirke.
Jakarta, CNN Indonesia --
ISIS mengalami pukulan telak lagi usai sang pemimpin, Abu Ibrahim Al-Hashimi Al-Qurayshi, tewas dalam serangan operasi kontraterorisme Amerika Serikat. Organisasi ini harus mencari pemimpin baru di tengah perdebatan 'sosok ideal' dan kampanye anti teroris Washington.
Operasi yang menewaskan Qurayshi menjadi serangan yang terbesar sejak 2019. Ketika itu, AS mengklaim berhasil membunuh pemimpin ISIS Abu Bakr Al-Baghdadi.
Amerika Serikat ingin menunjukkan perang kontraterorisme yang efektif usai kegagalan di Afghanistan. Serangan di Suriah menjadi kemenangan yang dirayakan Paman Sam. Namun, mereka juga khawatir soal siapa pengganti Qurayshi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pengamat menilai kemungkinan besar penerus Qurayshi adalah orang yang tenggelam dalam fanatisme dan teror Islam. Namun, mereka tak mengetahui persisnya.
Direktur penelitian di The Soufan Group dan peneliti senior di The Soufan Center, Colin Clarke, menilai pemimpin selanjutnya mungkin orang yang tak banyak dikenal publik.
"Pemimpin ISIS berikutnya bisa menjadi seseorang yang relatif tidak dikenal, yang akan memunculkan tantangan bagi AS dan sekutu dalam hal pengumpulan intelijen dan pemetaan jaringan," kata Clarke dalam tulisan opini yang dimuat Politico, Kamis (3/2).
Meski demikian, hal tersebut juga merupakan tantangan bagi ISIS. Terutama jika pemimpin berikutnya bukanlah seseorang yang memiliki reputasi setara dengan para pemimpin jihad sebelumnya. Itu kemungkinan akan membuat perekrutan anggota semakin lesu.
Siapapun penggantinya mungkin tak punya kredensial agama atau militer dari pendahulunya, sehingga mereka harus berjuang keras untuk mendapat pemimpin baru.
Baghdadi dan Qurasyhi adalah dua orang yang berbeda kepribadian dan cara memimpin ISIS.
Pemimpin kharismatik yang populer dapat menjadi magnet untuk merekrut anggota, sebagaimana Baghdadi. Namun, mereka juga menjadi target kontra terorisme yang menarik.
Sebaliknya, kepemimpinan ala Qurayshi yang bergerak dalam senyap akan kesulitan menggaet anggota dan membuka jaringan internasional. Meski begitu, mereka akan sulit dilacak dari sisi target kontraterorisme.
Tantangan ini akan membuka kembali ketegangan yang sudah lama muncul antar faksi yang bersaing secara internal.
Kediaman Abu Ibrahim Al-Qurayshi yang diserang pasukan AS. (AP/Ghaith Alsayed)
Pengamat lain, Direktur Penelitian di Pusat Pemberantasan Terorisme di West Point, Daniel Milton, tak bisa menyebutkan nama yang nanti duduk di kursi tertinggi ISIS.
"Saya tak mengetahui individu tertentu, tapi ISIS telah mengalami sejumlah pukulan kepemimpinan sehingga mereka siap mengisi lowongan terbaru," kata Milton dikutip dari NBC News.
Ia menilai siapapun yang nantinya akan dipilih menjadi pemimpin ISIS, orang itu akrab dengan yurisprudensi Islam dan pengalaman medan perang.
"Sejauh ini, kami tak tahu siapa yang menunggu untuk menggantikan dia, tapi Anda bisa percaya bahwa ISIS telah menunjuk seseorang," jelas mantan Duta Besar AS untuk Irak sekaligus utusan khusus untuk Suriah, James Franklin Jeffrey kepada NBC News.
Jeffrey lalu berkata, "Masa simpan seorang pemimpin ISIS akhir-akhir ini sekitar tiga tahun, jadi mereka siap untuk kemungkinan itu."
Jarak dari tewasnya Qurayshi ke masa kepemimpinan yang baru nyaris tepat tiga tahun. Mereka mau tak mau harus segera menunjuk pemimpin baru dengan kriteria yang sudah ditimbang matang-matang.
Gaya kepemimpinan ala Qurayshi yang tampak senyapitu membuat jumlah anggota ISIS tak jelas persisnya sehingga mereka sulit dilacak. Apalagi, intelijen AS yang fokus ke hal itu lebih secuil.
AS dan sekutu mungkin akan kesulitan menyusun portfolio yang akurat dan menyusun strategi baru.
Perang bergeser dari konflik militer tradisional ke konflik yang fokus pada pengumpulan intelijen dan serangan terhadap tokoh tertentu. Hal ini bisa menjadi pertukaran yang nyata.
Mengingat ketahanan ISIS, ada sedikit alasan serangan itu menjadi lonceng kematian yang diharapkan AS. Pembunuhan yang ditargetkan memang jarang terjadi.
Namun, organisasi tersebut akan terus bangkit usai Qurayshi tewas, sebagaimana saat mereka bangkit ketika kehilangan Baghdadi.
Artinya, AS kemungkinan akan terus melakukan serangan sporadis terhadap target yang dinilai penting di masa depan.
"Siapapun yang memimpin ISIS selanjutnya akan bertekad melanjutkan perjuangan dan AS kemungkinan akan merespons (terlepas) apakah presiden mengakui Amerika sedang berperang atau tidak," ucap Clirke.