Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang perempuan sekaligus aktivis Arab Saudi, Loujain al-Hatloul, berhasil membongkar praktik spionase besar-besaran yang dilakukan perusahaan peranti lunak Israel, NSO Group.
Al-Hathloul merupakan salah satu aktivis feminis terkemuka Saudi. Ia sempat dipenjara dan baru dibebaskan pada Februari 2021 lalu dan merupakan aktivis berpengaruh yang berhasil membuat Saudi akhirnya mengizinkan perempuan mengemudi.
Pengungkapan peretasan bermula dari iPhone milik Al-Hathloul yang sempat bermasalah pada 2021 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, Al-Hathloul menyadarai iPhone nya menerima email dari Google tentang peringatan kemungkinan peretas mencoba mengakses akun Gmail miliknya.
Khawatir ponselnya itu telah diretas, Al-Hathloul lantas meminta bantuan organisasi nirlaba pemerhati hak privasi di dunia teknologi berbasis di Kanada, Citizen Lab.
Kegelisahan Al-Hathloul bukan tanpa dasar. Ia sendiri pernah menjadi target spionase yang dilakukan tentara bayaran Amerika Serikat atas nama pemerintah Uni Emirat Arab pada 2017 lalu.
Setelah enam bulan melakukan investigasi, tim Citizen Lab dan Al-Hathloul menemukan masalah pada perangkat lunak iPhone-nya itu. Sebuah ikon file palsu misterius kerap muncul di laman ponselnya.
Menurut enam orang sumber yang terlibat dalam penyelidikan, ikon file palsu itu ternyata "jejak" yang tak sengaja ditinggalkan NSO Group di setiap perangkat yang mereka retas.
Penemuan itu pun memicu tindakan hukum di berbagai negara terhadap NSO Group.
Peneliti Citizen Lab, Bill Marczak, menganggap penemuan ini merupakan sesuatu yang langka. Kerusakan pada iPhone Al-Hathloul, menurutnya, diakibatkan salinan file yang ditinggalkan perangkat lunak NSO Group.
Setelah meretas dan mencuri file dari sebuah perangkat, peretas biasanya menghapus file-file "jejak" mereka sendiri.
Namun, dalam kasus Al-Hathloul, NSO Group malah meninggalkan salinan file misterius secara tak sengaja setelah mencuri pesan dan informasi dari targetnya sehingga meninggalkan jejak.
Marczak pun menegaskan temuan kode informasi pada ponsel Al-Hathloul merupakan bukti langsung jika NSO tengah membangun perangkat spionase.
"(Penemuan) ini mengubah permainan," kata Marczak.
"Kami membongkar sesuatu yang menurut perusahaan itu tidak dapat terlacak," paparnya seperti dikutip Reuters.
Penemuan Citizen Lab ini bahkan dijadikan Apple Inc. dasar mengirim notifikasi kepada ribuan korban peretasan NSO Group di seluruh dunia, menurut empat sumber yang mengetahui langsung insiden ini.
Penemuan Citizen Lab dan Al-Hathloul bahkan menjadi dasar Apple Inc. menggugat NSO pada Novermber 2021. Selain Apple, beberapa negara termasuk negara bagian Washington, Amerika Serikat, juga menuntut perusahaan tekonologi Israel itu atas tuduhan mata-mata.
Sebab, AS menyadari bahwa perangkat lunak NSO Group telah digunakan untuk memata-matai diplomat Amerika.
Berlanjut ke halaman berikutnya >>>
Kolusi dengan Negara
Ilustrasi. (Foto: Istockphoto/ Gangis_Khan)
Kolusi dengan Negara
NSO Group dilaporkan terus menikmati pertumbuhan eksplosif selama beberapa tahun terakhir lantaran banyak negara hingga entitas lain membeli perangkat lunaknya untuk meretas telepon dan berbagai pengawasan digital lainnya.
Spyware buatan NSO ini pun digadang-gadang telah dipakai berbagai negara untuk memata-matai pejabat negara hingga aktivis dan kaum pemberontak.
Selama setahun terakhir, serangkaian penemuan investigasi jurnalis hingga aktivis, termasuk Pegasus Project kian menyuguhkan bukti praktik pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh perusahaan perangkat lunak mata-mata seperti NSO dan lainnya.
Menurut peneliti keamanan teknologi, penemuan Al-Hathloul ini pun menjadi yang pertama menggambarkan bukti kuat spionase dari sebuah perangkat lunak yang dapat mengakses perangkat target tanpa interaksi apa pun dari pengguna.
Melalui pernyataan, juru bicara NSO mengatakan perusahaan tidak mengoperasikan perangkat lunak yang dijualnya. Perusahaan menyalahkan "pemerintah, penegak hukum, dan badan intelijen yang melakukannya."
Jubir NSO itu pun tak menjawab apakah perangkat lunaknya digunakan untuk memata-matai al-Hathloul dan aktivis lainnya di dunia. Jubir tersebut mengutip undang-undang kerahasiaan soal identitas para kliennya.
[Gambas:Photo CNN]