Mungkinkah Agresi Rusia di Ukraina, Awal dari Akhir Putin?
CNN Indonesia
Jumat, 25 Mar 2022 06:45 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Poster Vladimir Putin dipamerkan warga pendukung di Rusia. (REUTERS/ALEXEY PAVLISHAK)
Senada dengan Fahmi, pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Jakarta, Achmad Ubaedillah, mengatakan awal kejatuhan kekuasaan Putin bergantung dinamika politik di Rusia.
"Kita harus nunggu perkembangannya dalam beberapa minggu ke depan. Saat ini Putin masih pegang kendali," papar dia.
Di mata dia, sekarang Putin masih sangat kuat pengaruhnya di Rusia. Terlebih negara ini punya pengalaman cukup dalam hal perang guna mengembalikan wilayah bekas kekuasaannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rusia juga punya pengalaman membombardir ibu kota di wilayah lain. Semisal, saat Chechnya kehilangan kota Grozny pada 1990-an, atau kota Aleppo di Suriah yang hancur akibat perang saudara yang dibantu pasukan Moskow.
"Dahulu berhasil mengambil Crimea, sekarang lanjut merebut wilayah timur Ukraina. Apa kali ini Putin bertahan? Tergantung politik dalam negerinya. (Politik dalam negeri) masih solid," lanjut dia.
Sementara itu, pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Gadjah Mada sekaligus Ketua Komunitas Indonesia untuk Kajian Eropa, Muhadi Sugiono, mengatakan invasi Rusia bisa saja menjadi titik awal Putin mengakhiri kekuasaan.
Invasi itu, lanjutnya, membuat Rusia lelah. Apalagi dengan karakter pemerintah yang cukup otokratis maka bisa menjadi kekuatan bagi pihak luar merongrong melalui dalam negeri.
"Secara internasional mereka ditekan dan itu membuka ruang oposisi di dalam (negeri)," kata Muhadi.
Jika di negara demokratis jatuh bangunnya pemerintahan melalui mekanisme tertentu, ia menilai di negara otokratis kondisi tersebut terletak pada kekuatan politik.
Kekuatan politik, lanjut Muhadi, bisa berupa pembangkangan sipil atau pembelotan militer. Namun, sejauh ini pemerintah Rusia sudah melindungi diri dengan payung hukum yang justru bisa mengkriminalisasi penentang dalam hal ini warga sipil atau oposisi.
Ia menekankan, bisa atau tidaknya invasi menjadi faktor pendorong kejatuhan Putin masih harus dilihat dari perspektif yang luas. Sebab, masalah ini cukup kompleks.
"Negara seperti Rusia persoalannya ada di kekuatan politiknya. Saya kira (putin) masih sangat kuat di sana," pungkasnya.
Agresi Rusia di Ukraina disebut bisa menjadi awal dari kejatuhan kekuasaan Presiden Vladimir Putin. Itu jika invasi masih berlangsung di negara eks Uni Soviet itu.
Rusia melancarkan agresi di Ukraina sejak 24 Februari lalu. Gempuran terus dilontarkan di kota-kota Ukraina hingga genap sebulan.
Moskow disebut mengerahkan hampir seluruh kekuatan militernya untuk menyerang Ukraina. Bila invasi tak menemui titik akhir, ini bisa menjadi faktor yang bisa menggeser Putin dari kursi kekuasaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemungkinan itu (awal kejatuhan Putin) bisa terjadi karena invasi masih berlangsung. Karena, energi besar diperlukan untuk perang, sementara ekonomi dan kebutuhan rakyat akan terganggu karena embargo dan sanksi dari AS dan negara-negara pendukungnya," kata Fahmi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (24/3).
Ia menggambarkan kondisi tersebut seperti reformasi di Indonesia, yang mana rakyat bisa berontak dan energi negara terkuras untuk menyelesaikan berbagai masalah akibat invasi Rusia ke Ukraina.
Belum lagi sanksi-sanksi yang dijatuhkan Barat semakin membuat kemungkinan itu lebih besar karena kondisi ekonomi anjlok.
Sejak invasi, banyak negara ramai-ramai mengisolasi Moskow dari sistem keuangan global hingga organisasi internasional.
Fahmi mengatakan, Putin akan betul-betul tersungkur jika perang semakin meluas dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terlibat konfrontasi langsung di Ukraina.
"Putin bisa habis karena energi terkuras habis untuk perang," jelas dia.
Faktor lain yang berkontribusi membuat Putin tersungkur, jika ada kudeta militer dalam negeri dan penolakan invasi militer meluas di Rusia.
"Jika hanya penolakan oleh rakyat belum cukup, harus dengan militer atau kekuatan penting dalam negeri yang ambil alih kekuasaan," lanjut dia.
Militer Rusia di Ukraina dilaporkan tak satu komando. Mereka kerap hilang komunikasi dan disebut serampangan menerapkan strategi. Amerika Serikat juga menyebut tentara Moskow kewalahan menghadapi perlawanan sengit pasukan Kyiv.
Ukraina bahkan mengklaim banyak tentara Rusia yang pergi begitu saja meninggalkan kendaraan tank mereka atau rekannya yang hangus terbakar.
Berkaca dari kondisi tersebut, Fahmi menilai kemungkinan ada pembelotan dari kelompok-kelompok militer yang tak suka Putin. Namun, gaya kepemimpinan yang tangan besi membuat pihak yang berencana membelot bakal 'dihabisi'.
Kemungkinan Putin lengser, baca di halaman berikutnya...
Tekanan Internasional Bisa Bikin Putin Terdesak
Poster Vladimir Putin dipamerkan warga pendukung di Rusia. (REUTERS/ALEXEY PAVLISHAK)
Senada dengan Fahmi, pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Jakarta, Achmad Ubaedillah, mengatakan awal kejatuhan kekuasaan Putin bergantung dinamika politik di Rusia.
"Kita harus nunggu perkembangannya dalam beberapa minggu ke depan. Saat ini Putin masih pegang kendali," papar dia.
Di mata dia, sekarang Putin masih sangat kuat pengaruhnya di Rusia. Terlebih negara ini punya pengalaman cukup dalam hal perang guna mengembalikan wilayah bekas kekuasaannya.
Rusia juga punya pengalaman membombardir ibu kota di wilayah lain. Semisal, saat Chechnya kehilangan kota Grozny pada 1990-an, atau kota Aleppo di Suriah yang hancur akibat perang saudara yang dibantu pasukan Moskow.
"Dahulu berhasil mengambil Crimea, sekarang lanjut merebut wilayah timur Ukraina. Apa kali ini Putin bertahan? Tergantung politik dalam negerinya. (Politik dalam negeri) masih solid," lanjut dia.
Sementara itu, pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Gadjah Mada sekaligus Ketua Komunitas Indonesia untuk Kajian Eropa, Muhadi Sugiono, mengatakan invasi Rusia bisa saja menjadi titik awal Putin mengakhiri kekuasaan.
Invasi itu, lanjutnya, membuat Rusia lelah. Apalagi dengan karakter pemerintah yang cukup otokratis maka bisa menjadi kekuatan bagi pihak luar merongrong melalui dalam negeri.
"Secara internasional mereka ditekan dan itu membuka ruang oposisi di dalam (negeri)," kata Muhadi.
Jika di negara demokratis jatuh bangunnya pemerintahan melalui mekanisme tertentu, ia menilai di negara otokratis kondisi tersebut terletak pada kekuatan politik.
Kekuatan politik, lanjut Muhadi, bisa berupa pembangkangan sipil atau pembelotan militer. Namun, sejauh ini pemerintah Rusia sudah melindungi diri dengan payung hukum yang justru bisa mengkriminalisasi penentang dalam hal ini warga sipil atau oposisi.
Ia menekankan, bisa atau tidaknya invasi menjadi faktor pendorong kejatuhan Putin masih harus dilihat dari perspektif yang luas. Sebab, masalah ini cukup kompleks.
"Negara seperti Rusia persoalannya ada di kekuatan politiknya. Saya kira (putin) masih sangat kuat di sana," pungkasnya.