Terlepas dari hujanan sanksi dan boikot internasional soal invasi ke Ukraina, Presiden Rusia Vladimir Putin ternyata masih memiliki beberapa sekutu yang mendukungnya. (Foto: AP/Alexander Zemlianichenko)
Jakarta, CNN Indonesia --
Terlepas dari hujan sanksi dan boikot internasional, Presiden RusiaVladimir Putin ternyata masih memiliki beberapa sekutu yang mendukungnya, termasuk soal keputusan menginvasi Ukraina.
Beberapa sekutu itu bahkan masih langgeng memimpin sebuah negara. Beberapa dari mereka juga telah menjadi penguasa dalam waktu tergolong lama hingga satu dekade.
Meski mengklaim bertarung secara politik melalui pemilihan umum secara langsung, para pemimpin ini selalu menang dengan tanpa dibatasi masa jabatan kepresidenan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut deret negara pro-Putin yang dipimpin 'diktator':
Akhir pekan lalu, Petahan Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban dan partai nasionalisnya Fidesz menang telak dalam pemilu.
Orban merupakan pemimpin yang dikenal otoriter dan sekutu dekat Putin. Tak lama setelah menang, pemimpin Rusia itu segera memberi ucapan selamat kepadanya.
Kemenangan ini membuat dia memperpanjang masa jabatannya di periode keempat dalam memimpin Hungaria.
Sementara itu, Fidesz berhasil mengantongi 53 persen dari total suara, sehingga partai ini akan cukup dominan di kursi parlemen.
Kemenangan Orban juga bisa menjadi kemenangan simbolis Putin mengingat Hungaria merupakan salah satu anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Uni Eropa. Dua organisasi yang Putin benci.
Dalam pidato kemenangannya, Orba mengatakan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, sebagai salah satu musuh yang harus dikalahkan.
"Kami punya semacam kemenangan yang bisa dilihat dari langit, tapi yang pasti itu juga bisa dilihat dari Brussel (NATO)" ujar Orba dikutip CNN, Senin (4/4).
Ia kemudian berujar, "(Fidesz) akan mengingat kemenangan ini sampai akhir hidup kami karena kami harus berjuang melawan musuh, lawan dalam jumlah besar."
Putin juga mungkin sedang bahagia lantaran sekutu dekatnya di Serbia, Aleksandar Vucic, bertahan sebagai kepala negara dalam pemilu akhir pekan lalu.
Sebelum jadi presiden, Vucic menjabat sebagai perdana menteri 2014-2017. Jika dihitung secara keseluruhan kemenangan terbaru Vucic menjadikan dia berada di pucuk kekuasaan nyaris satu dekade.
Belarus juga salah satu sekutu dekat Rusia. Kedua negara ini kerap melakukan latihan militer bersama di Laut Hitam sebelum dan saat invasi.
Sebelum invasi, Rusia menempatkan pasukan mereka di Belarus untuk kemudian memasuki Ukraina dari sisi barat.
Negara ini juga menjadi lokasi bagi Rusia untuk menyusun kekuatan. Tempo hari, pejabat Ukraina melaporkan pasukan Rusia menarik pasukan di sekitar Kyiv dan bergeser ke Belarus.
Sementara itu Presiden Belarus, Aleksandr Lukashenko, memang dikabarkan dekat dengan Putin. Ia dikenal sebagai diktator dan menganut prinsip-prinsip komunis.
Lukashenko bahkan secara buka-bukaan mendukung invasi Rusia ke Ukraina.
Lukashenko mulai menjabat presiden sejak 1994 hingga sekarang. Jika diakumulasikan, ia duduk di kursi kekuasaan Belarus selama 28 tahun.
Menurut laporan Britannica, Lukashenko juga menjaga relasinya dengan faksi-faksi komunis konservatif di Belarus. Faksi ini memiliki hubungan dengan kelompok serupa di Rusia.
Azerbaijan merupakan negara pecahan Uni Soviet. Negara ini dipimipin seorng yang dikenal karena kediktatorannya yakni Ilham Aliyev. Ia menjadi presiden sejak 2003, tercatat sudah 19 tahun duduk di kursi kekuasaan Azerbaijan.
Beberapa media menyamakan Ilham Aliyev sebagai 'Saddam Hussein baru', seperti dikutipThe Interpreter.
Hussein dan Aliyev memperoleh kejayaan melalui penaklukan teritorial. Hussein saat itu berkonflik dengan Iran, sementara Aliyev berperang dengan pasukan Armendia demi mendapat wilayah Nagorno-Karabakh,
Di samping itu, Azerbaijan dikabarkan punya hubungan diplomatik yang cukup erat dengan Rusia. Namun mereka juga tak melepas hubungan dengan Ukraina.
Saat dunia menjatuhkan sanksi ke Moskow, Azerbaijan memilih untuk tak melakukan hal serupa. Aliyev bahkan menawarkan negaranya menjadi tuan rumah dalam negosiasi Rusia-Ukraina yang kini dilanda perang.
Jakarta, CNN Indonesia --
Terlepas dari hujan sanksi dan boikot internasional, Presiden RusiaVladimir Putin ternyata masih memiliki beberapa sekutu yang mendukungnya, termasuk soal keputusan menginvasi Ukraina.
Beberapa sekutu itu bahkan masih langgeng memimpin sebuah negara. Beberapa dari mereka juga telah menjadi penguasa dalam waktu tergolong lama hingga satu dekade.
Meski mengklaim bertarung secara politik melalui pemilihan umum secara langsung, para pemimpin ini selalu menang dengan tanpa dibatasi masa jabatan kepresidenan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut deret negara pro-Putin yang dipimpin 'diktator':
Akhir pekan lalu, Petahan Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban dan partai nasionalisnya Fidesz menang telak dalam pemilu.
Orban merupakan pemimpin yang dikenal otoriter dan sekutu dekat Putin. Tak lama setelah menang, pemimpin Rusia itu segera memberi ucapan selamat kepadanya.
Kemenangan ini membuat dia memperpanjang masa jabatannya di periode keempat dalam memimpin Hungaria.
Sementara itu, Fidesz berhasil mengantongi 53 persen dari total suara, sehingga partai ini akan cukup dominan di kursi parlemen.
Kemenangan Orban juga bisa menjadi kemenangan simbolis Putin mengingat Hungaria merupakan salah satu anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Uni Eropa. Dua organisasi yang Putin benci.
Dalam pidato kemenangannya, Orba mengatakan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, sebagai salah satu musuh yang harus dikalahkan.
"Kami punya semacam kemenangan yang bisa dilihat dari langit, tapi yang pasti itu juga bisa dilihat dari Brussel (NATO)" ujar Orba dikutip CNN, Senin (4/4).
Ia kemudian berujar, "(Fidesz) akan mengingat kemenangan ini sampai akhir hidup kami karena kami harus berjuang melawan musuh, lawan dalam jumlah besar."
Putin juga mungkin sedang bahagia lantaran sekutu dekatnya di Serbia, Aleksandar Vucic, bertahan sebagai kepala negara dalam pemilu akhir pekan lalu.
Sebelum jadi presiden, Vucic menjabat sebagai perdana menteri 2014-2017. Jika dihitung secara keseluruhan kemenangan terbaru Vucic menjadikan dia berada di pucuk kekuasaan nyaris satu dekade.
4 Negara Dipimpin 'Diktator' Sekutu Dekat Putin Dukung Invasi Rusia
Vladimir Putin merupakan sahabat dekat Presiden Belarus, Aleksandr Lukashenko (kanan). (AFP/-)
3. Belarus
Belarus juga salah satu sekutu dekat Rusia. Kedua negara ini kerap melakukan latihan militer bersama di Laut Hitam sebelum dan saat invasi.
Sebelum invasi, Rusia menempatkan pasukan mereka di Belarus untuk kemudian memasuki Ukraina dari sisi barat.
Negara ini juga menjadi lokasi bagi Rusia untuk menyusun kekuatan. Tempo hari, pejabat Ukraina melaporkan pasukan Rusia menarik pasukan di sekitar Kyiv dan bergeser ke Belarus.
Sementara itu Presiden Belarus, Aleksandr Lukashenko, memang dikabarkan dekat dengan Putin. Ia dikenal sebagai diktator dan menganut prinsip-prinsip komunis.
Lukashenko bahkan secara buka-bukaan mendukung invasi Rusia ke Ukraina.
Lukashenko mulai menjabat presiden sejak 1994 hingga sekarang. Jika diakumulasikan, ia duduk di kursi kekuasaan Belarus selama 28 tahun.
Menurut laporan Britannica, Lukashenko juga menjaga relasinya dengan faksi-faksi komunis konservatif di Belarus. Faksi ini memiliki hubungan dengan kelompok serupa di Rusia.
Azerbaijan merupakan negara pecahan Uni Soviet. Negara ini dipimipin seorng yang dikenal karena kediktatorannya yakni Ilham Aliyev. Ia menjadi presiden sejak 2003, tercatat sudah 19 tahun duduk di kursi kekuasaan Azerbaijan.
Beberapa media menyamakan Ilham Aliyev sebagai 'Saddam Hussein baru', seperti dikutipThe Interpreter.
Hussein dan Aliyev memperoleh kejayaan melalui penaklukan teritorial. Hussein saat itu berkonflik dengan Iran, sementara Aliyev berperang dengan pasukan Armendia demi mendapat wilayah Nagorno-Karabakh,
Di samping itu, Azerbaijan dikabarkan punya hubungan diplomatik yang cukup erat dengan Rusia. Namun mereka juga tak melepas hubungan dengan Ukraina.
Saat dunia menjatuhkan sanksi ke Moskow, Azerbaijan memilih untuk tak melakukan hal serupa. Aliyev bahkan menawarkan negaranya menjadi tuan rumah dalam negosiasi Rusia-Ukraina yang kini dilanda perang.