Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dan penantangnya Marine Le Pen, jadi simbol pertarungan kubu sayap kiri dan sayap kanan di ajang pemilihan Presiden (Pilpres) Prancis tahun ini.
Prancis kini tengah menggelar pemilihan presiden. Negara itu melangsungkan dua kali pemilihan, yakni pada Minggu (10/4) lalu dan Minggu (24/4) mendatang.
Ronde pertama dimenangkan oleh Macron. Namun, oposisi Macron, Marine Le Pen, dinilai bakal bisa mengejar suara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagaimana diberitakan Reuters, Macron memenangkan ronde pertama dengan 26 persen suara. Sementara itu, posisi kedua ditempati Pen dengan 24 persen suara.
Macron, Sosok Liberal di Prancis
Dalam pemilihan kali ini, Macron memutuskan mencalonkan diri sebagai presiden tak lama sebelum tenggat pendaftaran.
Macron berencana mengurangi tingkat pengangguran, pun memperpanjang waktu pensiun sampai 65 tahun. Ia juga mengatakan bakal fokus ke sektor edukasi dan kesehatan.
Ia juga berencana membangun enam pembangkit listrik nuklir baru dan meningkatkan jumlah polisi.
Kubu sayap kanan menilai program Macron menyalin rencana mereka, termasuk keputusan untuk memperpanjang waktu pensiun.
Sebelumnya, Macron sempat menjabat sebagai menteri ekonomi Partai Sosialis. Ia juga sempat menjadi bankir investasi.
Macron merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ia berasal dari keluarga dokter dan memiliki pandangan politik liberal.
Macron menempuh pendidikan di sekolah menengah swasta di Amiens. Ia bertemu dengan guru drama yang kini menjadi istrinya, Brigitte Trogneux.
Pada 2004, Macron menjabat sebagai inspektur keuangan untuk Kementerian Ekonomi dan Keuangan Prancis.
Pada 2008, Macron menjadi bankir investasi di Rothschild & Cie Banque, salah satu divisi perusahaan Rothschild.
Profil singkat Marine Le Pen, baca di halaman berikutnya...
[Gambas:Video CNN]
Marine Le Pen, Rival Utama Macron
Marine Le Pen, capres Prancis dari kubu sayap kanan. (AFP/EMMANUEL DUNAND)
Pen merupakan pemimpin sayap kanan yang menjadi musuh utama Macron.
Sebagaimana diberitakan CNN, Pen merupakan bagian dari keluarga sayap kanan pertama di Prancis.
Ayah Pen, Jean-Marie Le Pen, membangun Front Nasional pada 1972. Ini merupakan partai politik yang dipandang rasis dan anti-Yahudi.
Mengutip Britannica, Pen merupakan anak termuda dari tiga bersaudara.
Pen mendapatkan gelar hukum di Universitas Pantheon-Assas pada 1991. Ia juga mendapatkan gelar lanjutan dalam hukum kriminal pada 1992.
Setelah Pen mendapatkan sertifikasi, ia bekerja sebagai pengacara mulai 1992 hingga 1998.
Pen kemudian bergabung ke Front Nasional pada 1998 dan karir politiknya berkembang sejak itu. Ia sempat menjadi wakil presiden Front Nasional pada 2003.
Meski dididik dengan pandangan sayap kanan, seperti anti-Yahudi, Pen tidak menyetujui pandangan anti-Yahudi tersebut.
Pada Mei 2011, Pen terpilih mewakilkan Front Nasional untuk menjadi kandidat presiden dari partai tersebut untuk 2012. Namun, ia gagal mengambil alih kekuasaan.
Selain itu, Pen sempat melawan Macron dengan menempatkan dirinya sebagai Donald Trump versi Prancis.
Kala itu ia juga ingin melarang perempuan menggunakan jilbab di ruang pergi. Meski demikian, Pen kalah melawan Macron.
Kini, Pen mencoba berkampanye mengandalkan isu sosial, salah satunya terkait inflasi dan kenaikan harga bahan bakar.
[Gambas:Photo CNN]