Sejarah Etnis Muslim Uighur yang Jadi Sasaran Persekusi China
CNN Indonesia
Jumat, 22 Apr 2022 13:59 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Sejarah etnis muslim Ughur. (GREG BAKER / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --
Etnis muslim Uighur disebut kerap menjadi korban persekusi pemerintah China. Berbagai kesaksian menunjukkan bahwa kaum ini seringkali menjadi korban penangkapan dan pemukulan.
Seorang mantan detektif Negeri Tirai Bambu, yang menggunakan nama samaran Jiang, mengakui bahwa aparat kepolisian sering menangkap masyarakat Uighur dan memukuli mereka.
"Tendang mereka, pukul mereka [hingga] mereka terluka dan bengkak. Hingga mereka berlutut di lantai sambil menangis," cerita Jiang kepada CNN pada Oktober 2021.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, seorang perempuan Uighur juga dikabarkan ditangkap karena mengajarkan Islam dan menyimpan salinan Al-Quran pada Januari lalu.
Sang perempuan, Hasiyet Ehmet, kemudian dijatuhi hukuman 14 tahun penjara, dikutip dari Radio Free Asia.
Sebagaimana dilansir CFR, beberapa pejabat China khawatir Muslim Uighur mengemban nilai ekstremis dan separatis. Ini membuat pemerintah China disebut membangun kamp-kamp di Xinjiang untuk 'menghapus ancaman' atas kedaulatan China.
Bahkan, Presiden Xi Jinping sempat mewanti-wanti racun dari ekstremisme agama dan mendukung 'kediktatoran' untuk menghapuskan 'ekstremis' Islam di China. Bagi pemerintah China, kaum itu dipandang sebagai teroris atau simpatisan teroris.
Etnis Uighur merupakan salah satu kelompok yang berbicara bahasa Turki di pedalaman Asia. Kebanyakan dari mereka tinggal di Daerah Otonomi Uighur Xinjiang, China.
Mengutip Britannica, sekitar 10 juta masyarakat Uighur tinggal di China. Namun, beberapa dari mereka berada di Uzbekistan, Kazakhstan, dan Kirgistan.
Mayoritas warga Uighur merupakan penduduk desa yang hidup di lembah Tien Shan, Pamirs, dan wilayah pegunungan lain. Banyak juga dari mereka yang bekerja di pabrik minyak bumi, pertambangan, dan manufaktur di pusat kota.
Etnis Uighur di Xinjiang menganut Islam sunni. Mereka dipimpin oleh Urumqi dan kebanyakan organisasi sosial kaum ini terpusat di desa.
Sejarah pencaplokan wilayah Uighur oleh China, baca di halaman berikutnya...
Dosen Senior Politik dan Hubungan Internasional Universitas James Cook, Anna Hayes, menyebutkan China mencaplok Xinjiang pada 1949. Kala itu, etnis Uighur diprediksi menguasai 76 persen populasi Xinjiang, dikutip dari The Conversation.
Namun, etnis Han China melakukan migrasi ke Xinjiang. Ekspansi ini membuat jumlah populasi Uighur di daerah itu mencapai 42 persen, sementara Han 40 persen.
Pemerintah China telah lama menilai Xinjiang dan minoritas Muslim, salah satunya Uighur sebagai daerah dan etnis yang tertinggal.
Dalam Lompatan Jauh Partai Komunis China pada 1958-1962, etnis dan agama dinilai sebagai penghambat kemajuan dan kebiasaan yang terbelakang.
Pemerintah China juga melakukan tindakan keras pada 1980 dan 1990-an, membuat banyak warga Uighur mencari perlindungan ke luar negeri.
Sementara itu, muncul bentrok yang melibatkan etnis Uighur pada 2009. Hampir 200 orang, yang mayoritas adalah etnis Han, terbunuh, dan sekitar 1.700 orang terluka.
Sejak itu, kekerasan semakin meningkat, pun melibatkan bom bunuh diri.
Pihak berwenang China kemudian mengatasi masalah ini dengan menindak warga Uighur yang dicurigai sebagai pembangkang. Penindakan itu dilakukan dengan cara menembak dan memenjarakan mereka.
Pada 2017, China memutuskan menindak Uighur secara lebih sistematis. Pemerintah memasang kamera, pos pemeriksaan, dan patroli yang menjadi tempat tinggal warga Uighur.
Bahkan, organisasi hak asasi manusia menyebut pemerintah China menahan satu juta warga Uighur dalam kamp pelatihan politik. Meski demikian, tudingan ini dibantah oleh pejabat negara itu.
Jakarta, CNN Indonesia --
Etnis muslim Uighur disebut kerap menjadi korban persekusi pemerintah China. Berbagai kesaksian menunjukkan bahwa kaum ini seringkali menjadi korban penangkapan dan pemukulan.
Seorang mantan detektif Negeri Tirai Bambu, yang menggunakan nama samaran Jiang, mengakui bahwa aparat kepolisian sering menangkap masyarakat Uighur dan memukuli mereka.
"Tendang mereka, pukul mereka [hingga] mereka terluka dan bengkak. Hingga mereka berlutut di lantai sambil menangis," cerita Jiang kepada CNN pada Oktober 2021.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, seorang perempuan Uighur juga dikabarkan ditangkap karena mengajarkan Islam dan menyimpan salinan Al-Quran pada Januari lalu.
Sang perempuan, Hasiyet Ehmet, kemudian dijatuhi hukuman 14 tahun penjara, dikutip dari Radio Free Asia.
Sebagaimana dilansir CFR, beberapa pejabat China khawatir Muslim Uighur mengemban nilai ekstremis dan separatis. Ini membuat pemerintah China disebut membangun kamp-kamp di Xinjiang untuk 'menghapus ancaman' atas kedaulatan China.
Bahkan, Presiden Xi Jinping sempat mewanti-wanti racun dari ekstremisme agama dan mendukung 'kediktatoran' untuk menghapuskan 'ekstremis' Islam di China. Bagi pemerintah China, kaum itu dipandang sebagai teroris atau simpatisan teroris.
Etnis Uighur merupakan salah satu kelompok yang berbicara bahasa Turki di pedalaman Asia. Kebanyakan dari mereka tinggal di Daerah Otonomi Uighur Xinjiang, China.
Mengutip Britannica, sekitar 10 juta masyarakat Uighur tinggal di China. Namun, beberapa dari mereka berada di Uzbekistan, Kazakhstan, dan Kirgistan.
Mayoritas warga Uighur merupakan penduduk desa yang hidup di lembah Tien Shan, Pamirs, dan wilayah pegunungan lain. Banyak juga dari mereka yang bekerja di pabrik minyak bumi, pertambangan, dan manufaktur di pusat kota.
Etnis Uighur di Xinjiang menganut Islam sunni. Mereka dipimpin oleh Urumqi dan kebanyakan organisasi sosial kaum ini terpusat di desa.
Sejarah pencaplokan wilayah Uighur oleh China, baca di halaman berikutnya...
Sejarah China caplok wilayah muslim Uighur. (Greg Baker / AFP)
Dosen Senior Politik dan Hubungan Internasional Universitas James Cook, Anna Hayes, menyebutkan China mencaplok Xinjiang pada 1949. Kala itu, etnis Uighur diprediksi menguasai 76 persen populasi Xinjiang, dikutip dari The Conversation.
Namun, etnis Han China melakukan migrasi ke Xinjiang. Ekspansi ini membuat jumlah populasi Uighur di daerah itu mencapai 42 persen, sementara Han 40 persen.
Pemerintah China telah lama menilai Xinjiang dan minoritas Muslim, salah satunya Uighur sebagai daerah dan etnis yang tertinggal.
Dalam Lompatan Jauh Partai Komunis China pada 1958-1962, etnis dan agama dinilai sebagai penghambat kemajuan dan kebiasaan yang terbelakang.
Pemerintah China juga melakukan tindakan keras pada 1980 dan 1990-an, membuat banyak warga Uighur mencari perlindungan ke luar negeri.
Sementara itu, muncul bentrok yang melibatkan etnis Uighur pada 2009. Hampir 200 orang, yang mayoritas adalah etnis Han, terbunuh, dan sekitar 1.700 orang terluka.
Sejak itu, kekerasan semakin meningkat, pun melibatkan bom bunuh diri.
Pihak berwenang China kemudian mengatasi masalah ini dengan menindak warga Uighur yang dicurigai sebagai pembangkang. Penindakan itu dilakukan dengan cara menembak dan memenjarakan mereka.
Pada 2017, China memutuskan menindak Uighur secara lebih sistematis. Pemerintah memasang kamera, pos pemeriksaan, dan patroli yang menjadi tempat tinggal warga Uighur.
Bahkan, organisasi hak asasi manusia menyebut pemerintah China menahan satu juta warga Uighur dalam kamp pelatihan politik. Meski demikian, tudingan ini dibantah oleh pejabat negara itu.