Halimah Yacob, Muslim yang Jadi Presiden Perempuan Pertama Singapura
CNN Indonesia
Kamis, 21 Apr 2022 16:55 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Halimah Yacob dielu-elukan saat jadi presiden perempuan pertama Singapura. Sebagai pejuang hak perempuan, Halimah masuk dalam daftar tokoh Muslim berpengaruh. (AFP/Nicolas Asfouri)
Jakarta, CNN Indonesia --
Halimah Yacob langsung dielu-elukan saat dilantik menjadi presiden perempuan pertama Singapura. Dikenal sebagai pejuang hak perempuan, Halimah pun masuk daftar tokoh Muslim paling berpengaruh.
Nama Halimah pun terpampang dalam majalah The 500 Most Influential Muslims edisi 2022. Bertengger di posisi 36, Halimah bersanding dengan puluhan tokoh Muslim dunia lainnya yang memiliki pengaruh kuat.
Di Singapura, Halimah memang memegang pengaruh kuat. Ia dikenal sebagai pejuang hak-hak pekerja, terutama perempuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lahir di tengah keluarga Melyu pada 23 Agustus 1954, Halimah tumbuh dengan seorang ibu dan ditemani empat saudara.
Ayah Halimah meninggal dunia saat usianya masih delapan tahun sehingga ibunya harus membesarkan lima anak seorang diri.
Ibu Halimah adalah penjual nasi padang keliling, kemudian berhasil mendapatkan izin warung jajanan. Halimah sering membantu ibunya membersihkan kios, mencuci piring, membereskan meja, dan melayani pelanggan.
Meski menghadapi berbagai kesulitan, Halimah terus menempuh pendidikan. Ia bersekolah di Sekolah Perempuan Tiongkok Singapura pada akhir 1960-an.
Ia berhasil meraih gelar hukum di Universitas Nasional Singapura pada 1978. Halimah lalu bekerja di Kongres Serikat Pekerja Nasional (NTUC) dan sempat menjadi direktur Institut Studi Tenaga Kerja Singapura.
Pada 1980, Halimah menikah dengan kekasihnya sejak di bangku universitas, Mohamed Abdullah Alhabshee. Pasangan ini memiliki lima anak.
Karier politik Halimah
Sementara itu, karir politik Halimah dimulai pada 2001, saat ia mendapatkan kursi parlemen di Konstituensi Perwakilan Jurong Group.
Ia menjadi perempuan Malaysia pertama yang berhasil masuk ke jajaran parlemen Singapura, sebagaimana tertera di situs resmi Dewan Organisasi Perempuan Singapura (SCWO).
Satu dekade kemudian, Halimah terpilih menjadi Menteri Sosial dan Pengembangan Keluarga.
Pada 2013, Halimah menjadi perempuan pertama yang ditunjuk sebagai juru bicara parlemen. Setelah itu, ia mengemban tanggung jawab sebagai Presiden Singapura sejak 2017.
Sebagai presiden, Halimah berfokus pada nilai multikulturalisme, meritokrasi, dan kepengurusan. Menurutnya, tiga nilai ini fundamental untuk menjaga kesuksesan Singapura, dikutip dari The Straits Times.
Halimah dikenal terus memperjuangkan kepentingan perempuan dan pekerja. Ia menyoroti betapa penting pelatihan bagi bekerja tua dan kurang berpengalaman, pun cara merawat lansia dan orang dengan penyakit jiwa.
Tak hanya itu, Halimah mendukung jam kerja yang fleksibel dan cuti merawat keluarga demi keseimbangan kehidupan kerja. Ia juga mendukung hak medis yang setara bagi pegawai negeri sipil perempuan.
Halimah menilai, Singapura harus memperlakukan perempuan secara setara.
"Kita membutuhkan perubahan pola pikir yang kuat, di mana perempuan diperlakukan dengan hormat dan sebagai anggota komunitas yang setara," kata Halimah.
Halimah juga mengatakan, perempuan saat ini memiliki edukasi yang baik, menginginkan kesempatan sama, dan ingin suara mereka di dengar.
"Nasihat saya untuk perempuan di bidang hukum adalah menjadi yang terbaik yang Anda bisa," ujarnya.
Sepak terjang Halimah menuai pujian berbagai pihak, termasuk Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong.
"[Halimah berbicara] dengan suara yang praktis dan penuh kasih, membantu kami membentuk kebijakan yang efektif dengan sentuhan manusia," katanya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Halimah Yacob langsung dielu-elukan saat dilantik menjadi presiden perempuan pertama Singapura. Dikenal sebagai pejuang hak perempuan, Halimah pun masuk daftar tokoh Muslim paling berpengaruh.
Nama Halimah pun terpampang dalam majalah The 500 Most Influential Muslims edisi 2022. Bertengger di posisi 36, Halimah bersanding dengan puluhan tokoh Muslim dunia lainnya yang memiliki pengaruh kuat.
Di Singapura, Halimah memang memegang pengaruh kuat. Ia dikenal sebagai pejuang hak-hak pekerja, terutama perempuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lahir di tengah keluarga Melyu pada 23 Agustus 1954, Halimah tumbuh dengan seorang ibu dan ditemani empat saudara.
Ayah Halimah meninggal dunia saat usianya masih delapan tahun sehingga ibunya harus membesarkan lima anak seorang diri.
Ibu Halimah adalah penjual nasi padang keliling, kemudian berhasil mendapatkan izin warung jajanan. Halimah sering membantu ibunya membersihkan kios, mencuci piring, membereskan meja, dan melayani pelanggan.
Meski menghadapi berbagai kesulitan, Halimah terus menempuh pendidikan. Ia bersekolah di Sekolah Perempuan Tiongkok Singapura pada akhir 1960-an.
Ia berhasil meraih gelar hukum di Universitas Nasional Singapura pada 1978. Halimah lalu bekerja di Kongres Serikat Pekerja Nasional (NTUC) dan sempat menjadi direktur Institut Studi Tenaga Kerja Singapura.
Pada 1980, Halimah menikah dengan kekasihnya sejak di bangku universitas, Mohamed Abdullah Alhabshee. Pasangan ini memiliki lima anak.
Karier politik Halimah
Sementara itu, karir politik Halimah dimulai pada 2001, saat ia mendapatkan kursi parlemen di Konstituensi Perwakilan Jurong Group.
Ia menjadi perempuan Malaysia pertama yang berhasil masuk ke jajaran parlemen Singapura, sebagaimana tertera di situs resmi Dewan Organisasi Perempuan Singapura (SCWO).
Satu dekade kemudian, Halimah terpilih menjadi Menteri Sosial dan Pengembangan Keluarga.
Pada 2013, Halimah menjadi perempuan pertama yang ditunjuk sebagai juru bicara parlemen. Setelah itu, ia mengemban tanggung jawab sebagai Presiden Singapura sejak 2017.
Sebagai presiden, Halimah berfokus pada nilai multikulturalisme, meritokrasi, dan kepengurusan. Menurutnya, tiga nilai ini fundamental untuk menjaga kesuksesan Singapura, dikutip dari The Straits Times.
Halimah Sang Pejuang Kesetaraan Perempuan
Halimah Yacob dielu-elukan saat jadi presiden perempuan pertama Singapura. Sebagai pejuang hak perempuan, Halimah masuk dalam daftar tokoh Muslim berpengaruh. (AFP/Roslan Rahman)
Halimah dikenal terus memperjuangkan kepentingan perempuan dan pekerja. Ia menyoroti betapa penting pelatihan bagi bekerja tua dan kurang berpengalaman, pun cara merawat lansia dan orang dengan penyakit jiwa.
Tak hanya itu, Halimah mendukung jam kerja yang fleksibel dan cuti merawat keluarga demi keseimbangan kehidupan kerja. Ia juga mendukung hak medis yang setara bagi pegawai negeri sipil perempuan.
Halimah menilai, Singapura harus memperlakukan perempuan secara setara.
"Kita membutuhkan perubahan pola pikir yang kuat, di mana perempuan diperlakukan dengan hormat dan sebagai anggota komunitas yang setara," kata Halimah.