Siapa Saja Lingkar Dalam Kremlin dan Bagaimana Perlakuan Putin?
CNN Indonesia
Rabu, 27 Apr 2022 06:59 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu (tengah) disebut sebagai salah satu orang dekat Vladimir Putin. (AFP/MIKHAIL METZEL)
Jakarta, CNN Indonesia --
Rusia menjadi sorotan dunia sejak Presiden Vladimir Putin melancarkan invasi ke Ukraina. Rencana militer hingga kegagalan mereka pun tak luput dari pantauan.
Kegagalan pasukan Rusia di Ukraina tampak saat mereka menarik pasukan dari Kyiv dan menyisakan tumpukan mayat tentara Moskow serta bangkai ratusan tank.
Dari sebelum penarikan pasukan itu, banyak pihak yang meragukan strategi dan keinginan Rusia di Ukraina. Bahkan, para tentara pun tak tahu mengapa mereka masih melakukan serangan di Ukraina saat negara ini sudah membatalkan niat bergabung dengan NATO.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Putin disebut-sebut hanya berbagi informasi dengan segelintir orang lingkaran dalamnya menyoal invasinya di Ukraina.
Lalu siapa saja lingkaran dalam Kremlin dan bagaimana cara Putin memperlakukan mereka?
Setiap pekan, ia rutin mengadakan panggilan video dengan dewan keamanan, kelompok garis keras, dan teknokrat yang telah menjadi kabinet selama perang, demikian dikutip dari The Guardian.
Dari deretan orang-orang itu mereka adalah siloviki, sebutan untuk kepala keamanan yang muncul di posisi terdepan sebagai pembisik Putin. Meski rutin rapat, mereka hanya bisa melakukan itu jika Putin sudah menghubungi.
Mereka tak bisa menghubungi Putin, hanya sang presiden yang bisa mengontak mereka.
Mereka yang kerap diajak bicara Putin yakni mantan perwira Badan Intelijen Uni Soviet (KGB) yang ditemui Putin di Leningrad pada 1970-an, Nikolai Patrushev; kepala Intelijen Rusia (FSB), Alexander Bortnikov; Menteri Pertahanan, Sergei Shoigu; dan kepala intelijen Luar Negeri Rusia, Sergei Naryshkin.
Kecurigaan mereka terhadap Barat dan kecenderungan atas teori konspirasi menjadikan mereka sekutu dekat Putin dalam perang.
Selain itu, ada pula dari blok ekonomi. Mereka di antaranya Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin dan kepala Bank Sentral Elvira Nabiullina.
Namun, Shoigu dan kepala staf militer Valery Gerasimov sempat menghilang dari publik selama hampir dua minggu pada Maret lalu. Hal ini memicu desas-desus kala itu bahwa kepala pertahanan dihukum karena awal perang Rusia yang kacau.
Dalam episode yang sangat memalukan, kementerian pertahanan terpaksa mengakui telah mengirim wajib militer ke Ukraina setelah beberapa tertangkap dan terbunuh.
Padahal, sebelumnya Putin membantah bahwa Rusia menggunakan wajib militer untuk melancarkan invasi di Ukraina.
Putin tampaknya geram ke Shoigu, namun para analis menilai dia tak akan memecat kepala pertahanan di tengah operasi militer besar-besaran.
Selain nama-nama tersebut, sejumlah negara Barat menduga Putin kemungkinan mendengar masukan dari para oligarki di Rusia. Dengan demikian, Barat juga menjatuhkan sanksi ke sederet orang kaya di Negeri Beruang Merah.
Salah satunya, eks pemilik klub sepakbola Chelsea, Roman Abramovich. Ia bahkan secara tak terduga muncul dalam negosiasi informal di Turki dan Ukraina pada Maret lalu.
Meski demikian, para oligarki Rusia mengklaim sudah sejak lama dipaksa keluar oleh mantan KGB dan loyalis yang ditempatkan Putin dalam 20 tahun terakhir. Mereka tak punya lagi akses ke Kremlin.
Taipan-taipan itu juga tak mengetahui rencana invasi Rusia sampai operasi dimulai.
Menyoal invasi di Ukraina, beberapa orang di lingkaran Putin tak sepenuhnya setuju.
Putin pun ditinggalkan beberapa penasihatnya. Salah satunya yang hengkang adalah penasihat kepresidenan Rusia soal lingkungan, Anthon Chubais. Ia angkat kaki dari Rusia dan menuju Turki pada Maret lalu
Penasihat lain, Arkady Dvorkovich , mengundurkan diri sebagai kepala Yayasan SKolkovo usai mengkritik perang dalam sebuah wawancara.
Penasihat liberal top lain, Alexei Kudrin, juga tak sepakat dengan invasi. Ia menyarankan Putin meninggalkan perang tak lama setelah dimulai.
Selama pembicaraan, ia mengingatkan Putin soal konsekuensi perang, bahwa ekonomi akan terjun kembali ke awal 1990-an dan bisa memicu ketidakstabilan sosial.
Di internal Rusia bak saling sikut dan melempar kesalahan pihak lain. Saat perang berlanjut, faksi-faksi itu semakin kuat.
Pemimpin Chechen yang juga sekutu dekat Putin, Ramzan Kadyrov, berseteru dengan Dinas Keamanan Rusia dan mengecam negosiasi yang dipimpin penasihat Kremlin Vladimir Medinsky.
Setelah Medinsky mengumumkan Rusia akan menarik kembali beberapa pasukan dari Kyiv, Kadyrov menyebut Medinsky keliru dan telah membuat kesalahan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Rusia menjadi sorotan dunia sejak Presiden Vladimir Putin melancarkan invasi ke Ukraina. Rencana militer hingga kegagalan mereka pun tak luput dari pantauan.
Kegagalan pasukan Rusia di Ukraina tampak saat mereka menarik pasukan dari Kyiv dan menyisakan tumpukan mayat tentara Moskow serta bangkai ratusan tank.
Dari sebelum penarikan pasukan itu, banyak pihak yang meragukan strategi dan keinginan Rusia di Ukraina. Bahkan, para tentara pun tak tahu mengapa mereka masih melakukan serangan di Ukraina saat negara ini sudah membatalkan niat bergabung dengan NATO.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Putin disebut-sebut hanya berbagi informasi dengan segelintir orang lingkaran dalamnya menyoal invasinya di Ukraina.
Lalu siapa saja lingkaran dalam Kremlin dan bagaimana cara Putin memperlakukan mereka?
Setiap pekan, ia rutin mengadakan panggilan video dengan dewan keamanan, kelompok garis keras, dan teknokrat yang telah menjadi kabinet selama perang, demikian dikutip dari The Guardian.
Dari deretan orang-orang itu mereka adalah siloviki, sebutan untuk kepala keamanan yang muncul di posisi terdepan sebagai pembisik Putin. Meski rutin rapat, mereka hanya bisa melakukan itu jika Putin sudah menghubungi.
Mereka tak bisa menghubungi Putin, hanya sang presiden yang bisa mengontak mereka.
Mereka yang kerap diajak bicara Putin yakni mantan perwira Badan Intelijen Uni Soviet (KGB) yang ditemui Putin di Leningrad pada 1970-an, Nikolai Patrushev; kepala Intelijen Rusia (FSB), Alexander Bortnikov; Menteri Pertahanan, Sergei Shoigu; dan kepala intelijen Luar Negeri Rusia, Sergei Naryshkin.
Kecurigaan mereka terhadap Barat dan kecenderungan atas teori konspirasi menjadikan mereka sekutu dekat Putin dalam perang.
Selain itu, ada pula dari blok ekonomi. Mereka di antaranya Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin dan kepala Bank Sentral Elvira Nabiullina.
Namun, Shoigu dan kepala staf militer Valery Gerasimov sempat menghilang dari publik selama hampir dua minggu pada Maret lalu. Hal ini memicu desas-desus kala itu bahwa kepala pertahanan dihukum karena awal perang Rusia yang kacau.
Dalam episode yang sangat memalukan, kementerian pertahanan terpaksa mengakui telah mengirim wajib militer ke Ukraina setelah beberapa tertangkap dan terbunuh.
Padahal, sebelumnya Putin membantah bahwa Rusia menggunakan wajib militer untuk melancarkan invasi di Ukraina.
Putin tampaknya geram ke Shoigu, namun para analis menilai dia tak akan memecat kepala pertahanan di tengah operasi militer besar-besaran.
Bisikan Oligarki dan Perpecahan di antara Orang Dalam Putin
Oligarki Anthon Chubais (kanan) memilih hengkang dari koneksi Vladimir Putin. (AP/Mikhail Klimentyev)
Selain nama-nama tersebut, sejumlah negara Barat menduga Putin kemungkinan mendengar masukan dari para oligarki di Rusia. Dengan demikian, Barat juga menjatuhkan sanksi ke sederet orang kaya di Negeri Beruang Merah.
Salah satunya, eks pemilik klub sepakbola Chelsea, Roman Abramovich. Ia bahkan secara tak terduga muncul dalam negosiasi informal di Turki dan Ukraina pada Maret lalu.
Meski demikian, para oligarki Rusia mengklaim sudah sejak lama dipaksa keluar oleh mantan KGB dan loyalis yang ditempatkan Putin dalam 20 tahun terakhir. Mereka tak punya lagi akses ke Kremlin.
Taipan-taipan itu juga tak mengetahui rencana invasi Rusia sampai operasi dimulai.
Menyoal invasi di Ukraina, beberapa orang di lingkaran Putin tak sepenuhnya setuju.
Putin pun ditinggalkan beberapa penasihatnya. Salah satunya yang hengkang adalah penasihat kepresidenan Rusia soal lingkungan, Anthon Chubais. Ia angkat kaki dari Rusia dan menuju Turki pada Maret lalu
Penasihat lain, Arkady Dvorkovich , mengundurkan diri sebagai kepala Yayasan SKolkovo usai mengkritik perang dalam sebuah wawancara.
Penasihat liberal top lain, Alexei Kudrin, juga tak sepakat dengan invasi. Ia menyarankan Putin meninggalkan perang tak lama setelah dimulai.
Selama pembicaraan, ia mengingatkan Putin soal konsekuensi perang, bahwa ekonomi akan terjun kembali ke awal 1990-an dan bisa memicu ketidakstabilan sosial.
Di internal Rusia bak saling sikut dan melempar kesalahan pihak lain. Saat perang berlanjut, faksi-faksi itu semakin kuat.
Pemimpin Chechen yang juga sekutu dekat Putin, Ramzan Kadyrov, berseteru dengan Dinas Keamanan Rusia dan mengecam negosiasi yang dipimpin penasihat Kremlin Vladimir Medinsky.
Setelah Medinsky mengumumkan Rusia akan menarik kembali beberapa pasukan dari Kyiv, Kadyrov menyebut Medinsky keliru dan telah membuat kesalahan.