Banyak Jenderal Rusia Terbunuh di Ukraina, Pukulan Telak bagi Putin
CNN Indonesia
Sabtu, 07 Mei 2022 15:20 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Banyak jenderal militer Rusia terbunuh dalam perang di Ukraina. (AFP/MIKHAIL METZEL)
Jakarta, CNN Indonesia --
Banyak jenderal dan perwira militer Rusia diklaim terbunuh di Ukraina dan jadi pukulan telak bagi Presiden Vladimir Putin. Terbaru adalah Mayor Jenderal Vladimir Frolov yang tewas dalam perang Ukraina.
Frolov dimakamkan di Pemakaman Serafimovskoe St. Petersburg dimana puluhan ribu korban perang dunia II dimakamkan.
"Hari ini kita mengucapkan selamat tinggal kepada pahlawan sejati. Vladimir Petrovich Frolov meninggal secara heroik dalam pertempuran dengan nasionalis Ukraina. Dia mengorbankan hidupnya sehingga anak-anak, wanita, dan orang tua di Donbas tidak lagi harus mendengar ledakan bom," kata Gubernur St Petersburg Alexander Beglov kepada hadirin di pemakaman bulan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah foto kemudian menunjukkan kuburan Frolov penuh dengan mawar dan anyelir.
Ini adalah kedua kalinya dalam waktu kurang dari sepekan Beglov diwajibkan untuk memberi penghormatan kepada seorang perwira tinggi Rusia yang terbunuh di Ukraina.
Hanya empat hari kemudian, Letnan Kolonel Miras Basakov dimakamkan di kota terbesar kedua di Rusia.
Sejumlah perwira senior Rusia dilaporkan tewas sejak Presiden Vladimir Putin memerintahkan invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari.
Mengutip The Moscow Times, Sabtu (7/3), analis militer independen Pavel Luzhin kepada The Moscow Times mengatakan setiap kematian seorang jenderal berdampak pada rencana dan operasi militer hingga moral pasukan Rusia di garis depan.
"Setiap kematian seorang jenderal membuat Angkatan Bersenjata Rusia kurang efektif," kata Luzhin.
Frolov adalah salah satu dari total 12 jenderal Rusia yang tewas di Ukraina hanya dalam dua bulan pertempuran, menurut sebuah laporan Kamis oleh The New York Times.
Itu dua kali lipat jumlah jenderal yang tewas dalam kampanye militer 10 tahun Uni Soviet di Afghanistan.
Biasanya dibutuhkan lebih dari 15 tahun dinas militer untuk diangkat menjadi jenderal dan memimpin puluhan ribu orang.
Dalam polemik Rusia-Ukraina ini Rusia mengalami kerugian lain seperti kematian Mayor Jenderal Andrei Sukhovetsky, dua letnan jenderal Yakov Rezantsev dan Andrei Mordvichev yang diklaim oleh pejabat Ukraina telah tewas dalam serangan di pangkalan udara Chornobaivka di dekat kota yang diduduki Rusia, Kherson.
Sementara itu, analis militer di Royal United Services Institute Sam Cranny Evans mengatakan salah satu alasan tingginya angka kematian karena perwira Rusia diwajibkan melakukan perjalanan lebih sering ke garis depan daripada perwira di Barat.
"Jika dia tidak mendapatkan informasi dan petugas tidak memberikan informasi, ini membuat para jenderal semakin dekat dengan pertempuran," kata Sam Cranny-Evans.
Kepala staf umum Rusia dan perwira tertinggi ketiga di militer Rusia, Gerasimov, nyaris terbunuh dalam serangan Ukraina selama misi pencarian fakta ke kota strategis Ukraina Izyum akhir pekan lalu, menurut AS dan pejabat Ukraina.
Adapun Luzhin menambahkan jenderal biasanya tidak mati sendirian.
"Mereka bekerja sama dengan kolonel dan staf mereka. Jadi jika seorang jenderal meninggal, biasanya kolonel dan perwira juga mati," kata Luzhin.
Berdasarkan laporan media independen Rusia Mediazona bulan lalu, mengutip data yang tersedia untuk umum dan laporan media tentang korban Rusia di Ukraina, sedikitnya 317 perwira Rusia tewas di Ukraina. Sepertiga di antaranya adalah staf senior yaitu mayor, letnan kolonel dan kolonel.
Menurut Cranny-Evans hilangnya begitu banyak tokoh senior tidak hanya menyebabkan gangguan jangka pendek, tetapi berdampak pada kemampuan operasional militer Rusia secara keseluruhan.
"Beberapa perwira senior Rusia bisa saja bertempur di Afghanistan, Chechnya dua kali, Georgia, Suriah, Ukraina," kata Cranny-Evans.
Misalnya, Mayor Jenderal Vitaly Gerasimov, yang kematiannya dilaporkan pada bulan Maret oleh media investigasi Bellingcat, pernah bertugas dalam Perang Chechnya Kedua, dalam intervensi militer Rusia di Suriah, dan sebagai bagian dari pasukan yang merebut Crimea dari Ukraina pada tahun 2014.
Menurutnya, jika Ukraina bisa terus menewaskan para jenderal Rusia, ini akan berdampak pada kekuatan komando militer negara tersebut.
"Kerugian ini akan mengkhawatirkan dari pihak Rusia," tutur Cranny-Evans.
Jakarta, CNN Indonesia --
Banyak jenderal dan perwira militer Rusia diklaim terbunuh di Ukraina dan jadi pukulan telak bagi Presiden Vladimir Putin. Terbaru adalah Mayor Jenderal Vladimir Frolov yang tewas dalam perang Ukraina.
Frolov dimakamkan di Pemakaman Serafimovskoe St. Petersburg dimana puluhan ribu korban perang dunia II dimakamkan.
"Hari ini kita mengucapkan selamat tinggal kepada pahlawan sejati. Vladimir Petrovich Frolov meninggal secara heroik dalam pertempuran dengan nasionalis Ukraina. Dia mengorbankan hidupnya sehingga anak-anak, wanita, dan orang tua di Donbas tidak lagi harus mendengar ledakan bom," kata Gubernur St Petersburg Alexander Beglov kepada hadirin di pemakaman bulan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah foto kemudian menunjukkan kuburan Frolov penuh dengan mawar dan anyelir.
Ini adalah kedua kalinya dalam waktu kurang dari sepekan Beglov diwajibkan untuk memberi penghormatan kepada seorang perwira tinggi Rusia yang terbunuh di Ukraina.
Hanya empat hari kemudian, Letnan Kolonel Miras Basakov dimakamkan di kota terbesar kedua di Rusia.
Sejumlah perwira senior Rusia dilaporkan tewas sejak Presiden Vladimir Putin memerintahkan invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari.
Mengutip The Moscow Times, Sabtu (7/3), analis militer independen Pavel Luzhin kepada The Moscow Times mengatakan setiap kematian seorang jenderal berdampak pada rencana dan operasi militer hingga moral pasukan Rusia di garis depan.
"Setiap kematian seorang jenderal membuat Angkatan Bersenjata Rusia kurang efektif," kata Luzhin.
Frolov adalah salah satu dari total 12 jenderal Rusia yang tewas di Ukraina hanya dalam dua bulan pertempuran, menurut sebuah laporan Kamis oleh The New York Times.
Itu dua kali lipat jumlah jenderal yang tewas dalam kampanye militer 10 tahun Uni Soviet di Afghanistan.
Biasanya dibutuhkan lebih dari 15 tahun dinas militer untuk diangkat menjadi jenderal dan memimpin puluhan ribu orang.
Dalam polemik Rusia-Ukraina ini Rusia mengalami kerugian lain seperti kematian Mayor Jenderal Andrei Sukhovetsky, dua letnan jenderal Yakov Rezantsev dan Andrei Mordvichev yang diklaim oleh pejabat Ukraina telah tewas dalam serangan di pangkalan udara Chornobaivka di dekat kota yang diduduki Rusia, Kherson.
Pasukan Rusia di Mariupol, Ukraina. (AFP/ALEXANDER NEMENOV)
Sementara itu, analis militer di Royal United Services Institute Sam Cranny Evans mengatakan salah satu alasan tingginya angka kematian karena perwira Rusia diwajibkan melakukan perjalanan lebih sering ke garis depan daripada perwira di Barat.
"Jika dia tidak mendapatkan informasi dan petugas tidak memberikan informasi, ini membuat para jenderal semakin dekat dengan pertempuran," kata Sam Cranny-Evans.
Kepala staf umum Rusia dan perwira tertinggi ketiga di militer Rusia, Gerasimov, nyaris terbunuh dalam serangan Ukraina selama misi pencarian fakta ke kota strategis Ukraina Izyum akhir pekan lalu, menurut AS dan pejabat Ukraina.
Adapun Luzhin menambahkan jenderal biasanya tidak mati sendirian.
"Mereka bekerja sama dengan kolonel dan staf mereka. Jadi jika seorang jenderal meninggal, biasanya kolonel dan perwira juga mati," kata Luzhin.
Berdasarkan laporan media independen Rusia Mediazona bulan lalu, mengutip data yang tersedia untuk umum dan laporan media tentang korban Rusia di Ukraina, sedikitnya 317 perwira Rusia tewas di Ukraina. Sepertiga di antaranya adalah staf senior yaitu mayor, letnan kolonel dan kolonel.
Menurut Cranny-Evans hilangnya begitu banyak tokoh senior tidak hanya menyebabkan gangguan jangka pendek, tetapi berdampak pada kemampuan operasional militer Rusia secara keseluruhan.
"Beberapa perwira senior Rusia bisa saja bertempur di Afghanistan, Chechnya dua kali, Georgia, Suriah, Ukraina," kata Cranny-Evans.
Misalnya, Mayor Jenderal Vitaly Gerasimov, yang kematiannya dilaporkan pada bulan Maret oleh media investigasi Bellingcat, pernah bertugas dalam Perang Chechnya Kedua, dalam intervensi militer Rusia di Suriah, dan sebagai bagian dari pasukan yang merebut Crimea dari Ukraina pada tahun 2014.
Menurutnya, jika Ukraina bisa terus menewaskan para jenderal Rusia, ini akan berdampak pada kekuatan komando militer negara tersebut.
"Kerugian ini akan mengkhawatirkan dari pihak Rusia," tutur Cranny-Evans.