Pemilu Parlemen Libanon, Hizbullah Diklaim Kalah

CNN Indonesia
Selasa, 17 Mei 2022 08:01 WIB
Hizbullah disebut akan kehilangan mayoritas suara di parlemen Libanon usai pemilihan legislatif yang digelar pada Minggu (15/5). Demonstran anti-pemerintah bentrok dengan pendukung Hizbullah di Beirut (AP Photo/Hussein Malla)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hizbullah disebut akan kehilangan mayoritas suara di parlemen Libanon usai pemilihan legislatif yang digelar pada Minggu (15/5).

Sumber-sumber politik yang dekat dengan Hizbullah sebelumnya mengatakan perhitungan awal mereka menunjukkan mustahil bagi partai dan sekutu bisa mengamankan lebih dari 64 kursi.


Sejuah ini belum ada pengumuman resmi soal hasil pemilihan legislatif di Libanon. Kementetian Dalam Negeri baru mengumumkan hasil pemungutan suara sebanyak 12 dari 14 distrik.

Salah satu yang paling terdampak akan Pileg ini adalah wakil ketua parlemen Elie Ferzli (72) yang juga sekutu Hizbullah. Menurut hasil resmi, ia kehilangan kursi di Beqaa Barat.

Ferzli kalah dari kandidat yang disokong pemimpin Druzze, Walid Jumblatt. Namun, Jumblatt juga kehilangan kursi Sunni dari kandidat independen Yassin-Yassin.

"Setelah dua setengah tahun berhadapan langsung di jalanan melawan pemerintah yang tidak adil, akhirnya, kami memulai perjalanan perubahan di Lebanon. Ini adalah perayaan nasional!" kata Yassin kepada Reuters.

Sekutu Hizbullah lain yang kehilangan kursi yakni Talal Arslan. Ia pertama kali terpilih pada 1992. Arslan harus merelakan kursinya ditempati pendatang baru Mark Daou.

Selain itu, ada pula kandidat independen yang berhasil merebut kursi Kristen Ortdoks dari anggota parlemen pro-Suriah di Libanon selatan Hizbullah.

Namun, hasil pemungutan suara yang diraup Hizbullah berbanding terbalik dengan partai Kristen, Pasukan Lebanon (LF). Mereka berhasil mengamankan 20 kursi di parlemen.

LF diketahui bersekutu dengan Arab Saudi. Namun, sejauh ini tak ada komentar dar Riyadh perihal pemilihan parlemen di Libanon, dan akan menghormati segala keputusannya.

Terobosan mereka disebut bisa memecah parlemen menjadi beberapa kubu dan mempolarisasikan lebih tajam antara sekutu dan lawan Hizbullah.

Lawan-lawan Hizbullah saat ini tak bersatu menjadi satu blok. Perwakilan Sunni tampak terpecah antara sekutu dan yang menentang Hizbulllah.

LF juga menyatakan tak ada satu kelompok pun yang memiliki mayoritas, termasuk Hizbullah.

Jika LF betul menguasai kursi di parlemen, hasil itu bisa membuka pintu bagi Arab Saudi untuk melakukan kekuasaan lebih besar di Beirut, arena yang menjadi persaingan dengan Iran.

Suara yang diraih LF juga memungkinkan mereka mengambil alih Gerakan Patirotik Bebas (FPM) yang bersekutu dengan Hizbullah. FPM juga merupakan partai Kristen terbesar di parlemen sejak 2005.

Menurut salah satu sumber, dalam pemilihan itu FPM memenangkan 16 kursi parlemen, turun dua angka dari pemilihan pada 2018 lalu.

Kekalahan FPM menjadi pukulan bagi Hzibullah yang mengklaim mengantongi dukungan dari lintas kelompok.

[Gambas:Video CNN]



(isa/bac)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER